Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 25 December 2016

KOLOM – Kemiskinan Rasionalitas


A woman lights a candle at the Basilica and National Sanctuary of Our Lady of Aparecida -which will be visited by Pope Francis Wednesday- in Aparecida, Sao Paulo state, Brazil on July 23, 2013. Pope Francis's popularity on his Latin American home turf posed a challenge to Brazilian authorities Tuesday after adoring crowds mobbed his car on his landmark visit during the World Youth day (WYD) to Rio de Janeiro.  AFP PHOTO / NELSON ALMEIDA        (Photo credit should read NELSON ALMEIDA/AFP/Getty Images)

islamindonesia.id –  KOLOM – Kemiskinan Rasionalitas

endang

oleh: Endang Kurnia*

 

Descartes adalah seorang tokoh rasionalisme, ia mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu-ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu, jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas terang benderang. Cogito Ergo Sum (saya berpikir, maka saya ada). Ia menyusun argumentasi kuat, bahwa dasar filsafat adalah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat.

Rasionalitas muncul sebagai respons terhadap dominasi otoritas agama yang memandang bahwa segala sesuatu harus bergantung pada kekuatan di luar diri manusia. Akibatnya, posisi manusia sebagai subjek terabaikan. Tanggung jawab manusia terhadap kehidupan pun kurang terpikirkan. Ketika itu, kaum humanis mengajak kembali ke pemikiran klasik yang mengangkat manusia sebagai subjek.

Mereka menemukan nilai-nilai yang harus dihidupkan kembali dalam kebudayaan demi masa depan, yaitu penghargaan atas martabat manusia dan pengakuan atas kemampuan pikiran. Gerakan humanisme merupakan solusi menghadapi intimidasi para pemuka agama saat itu. Humanisme bertekad mengembalikan kepada umat manusia hak kebebasan yang telah dinistakan oleh para elite agama.

Dalam bidang agama, aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dalam menyusun teori pengetahuan. Hanya saja, empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empirisme, sedangkan rasionalisme diperoleh dengan cara berfikir, pengetahuan dari empirisme dianggap sering menyesatkan. Adapun alat berfikir adalah kaidah-kaidah yang logis.

Pada awal kebangkitannya, kaum humanis berjuang untuk mematahkan kekuatan orang-orang yang mengaku sebagai perantara yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, namun di saat yang sama mempraktikkan ketidakadilan. Akal budi pada abad pertengahan, tergeser oleh dominasi doktrin-doktrin keagamaan dan intimidasi pemuka agama. Rasionalitas dikalahkan oleh emosionalitas. Manusia, yang sudah diberi akal budi oleh Tuhan, kehilangan otoritas dan tanggung jawabnya sebagai manusia.

Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide dan bukan di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makana ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk pada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran seseorang dan hanya bisa diperoleh dengan akal budi saja.

Pola pikir pada abad pertengahan tersebut, kini sedang menggejala di tengah masyarakat. Banyak orang yang, sadar atau tidak sadar, sedang kehilangan akal budi. Pikiran sehat tergerus oleh kuatnya dominasi aspek agama di berbagai bidang. Segala sesuatu ditarik ke ranah keagamaan.

Akal budi tergeser oleh emosionalitas, dikalahkan oleh ”iming-iming surga,” misalnya. Dalam perspektif Descartes, keberagamaan tidak harus menggerus rasionalitas. Dalam pemikiran Erasmus, keberagamaan perlu diselaraskan dengan akal budi; “kesucian yang rasional.” Sayangnya, rasionalisme bangkrut oleh fanatisme sempit.

Keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan akal telah berimplikasi kepada perang terhadap mereka yang malas mempergunakan akalnya, terhadap kepercayaan yang bersifat dogmatis seperti yang terjadi pada abad pertengahan, terhadap norma-norma yang bersifat tradisi dan terhadap apa saja yang tidak masuk akal termasuk keyakinan-keyakinan dan serta semua anggapan yang tidak rasional.

Belum lagi, hal itu kadang disusupi unsur politis, ekonomi, atau kepentingan-kepentingan sesaat. Pemahaman bahwa agama merupakan ajaran yang memanusiakan manusia, sering berubah menjadi pemahaman yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Agama yang merupakan jalan (atau jembatan) menuju Tuhan, justru sering dipertuhankan. Kematian akal budi menyebabkan praktik-praktik keberagamaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Itu sebabnya, kita sering melihat perilaku orang yang mengatasnamakan agama (agama apa pun), tapi tindakannya penuh kebencian, caci-maki, pemaksaan kehendak, mau menang sendiri, dan sejenisnya sehingga yang terlihat adalah miskinnya rasionalitas. Diktum ”Saya berpikir, maka saya ada,” sedang bergeser menjadi ”Saya emosional, maka saya ada.” []

 

* Manajer Cabang Madani Private Learning. HP 085659700671.

 

YS/ islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *