Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 28 September 2017

KOLOM – Inilah Iran, Dimana Negara Arab?


160406010056181-sami-kleib

islamindonesia.id – KOLOM – Inilah Iran, Dimana Negara Arab?

 

Oleh Sami Kleib, jurnalis Al Mayadeen TV

 

Mengapa kita -bangsa Arab- membenci Syiah dan Iran? Apakah kalian ingin mengetahui mengapa Barat dan Israel takut terhadap Iran? Dan mengapa negara-negara Teluk mengkhawatirkan Iran. Mari perhatikan informasi-informasi berikut ini.

Menurut laporan Thomson Reuters, Iran telah naik ke peringkat 17 di antara negara-negara dunia yang produktif menerbitkan karya-karya ilmiah sejak tahun 2013, dengan menghasilkan 2925 karya ilmiah dalam berbagai spesialisasi.

Iran menduduki peringkat pertama di dunia dalam rata-rata kemajuan di bidang penerbitan ilmiah dan terus meningkat setiap tiga tahun. Sejak tahun 1996 hingga 2008 Iran telah menambahkan karya ilmiahnya hingga 18 kali lipat.

Sebelum Revolusi Islam Iran, makalah-makalah ilmiah spesialis terbatas pada 400 makalah, sekarang telah mencapai 20.000 makalah. Sebelum Revolusi Islam, jumlah pelajar hanya 167.000, tetapi sekarang mendekati 4.000.000 pelajar.

Persentasi orang yang melek huruf meningkat dari 50% sebelum Revolusi menjadi 86% sehingga orang-orang yang buta huruf hampir tidak ada, dan 60% yang diterima di perguruan-perguruan tinggi adalah kaum wanita.

Iran membelanjakan 6.3 Milyard Dolar pada tahun 2011 untuk kajian ilmiah.

Pada tahun 2012 Iran menerbitkan lebih dari 38.000 judul buku dan mencetak lebih dari 250.000.000 ekslempar sehingga Iran menduduki peringkat pertama di Timur Tengah dan kesepuluh di dunia dalam penerbitan buku.

Iran menduduki peringkat ke 12 di dunia dan peringkat pertama di Timur Tengah dalam produksi mobil, dan berhasil memproduksi 1.000.000 mobil dalam satu tahun.

Iran telah meluncurkan dua buah satelit buatan dalam negeri ke ruang angkasa, dan telah mengirim seekor kera ke ruang angkasa yang kembali dalam keadaan hidup.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan di New York pada 18 Juni 2008 dengan judul “Linens in Harvard” disebutkan bahwa alumnus yang paling menonjol berasal dari Iran.

Para pejabat Universitas Stanford yang terkenal pada tahun 2003 dikejutkan bahwa pelajar-pelajar yang menonjol di bidang rekayasa elektronik pada tingkat doktoral semuanya datang dari Universitas Sains dan Teknologi Syarif di Iran.

Dulu Iran mengimpor gandum dari negara-negara yang jauh. Sekarang telah berhasil membangun kemandirian dalam bidang pangan sementara ia diembargo.

Dulu Iran bergantung penuh dari pendapatan minyak untuk pembiayaan anggarannya. Kini situasi telah berkurang hingga 30% lebih.

Ekspor Iran dulu kurang dari 5 Milyar Dolar dan sekarang meningkat lebih dari 60 Milyard Dolar.

Semua kemajuan tersebut terjadi sementara Iran diembargo.

Lalu bagaimana seandainya dana senilai 120 Milyard Dolar yang dibekukan Barat dikembalikan ke Iran? Apa yang akan terjadi dengan kemajuan Iran dalam rudal-rudalnya, senjata-senjatanya dan satelit-satelitnya serta penemuan-penemuan ilmiahnya dan lain sebagainya yang semua melalui karya anak bangsanya yang relatif masih muda dan di bawah usia tiga puluh tahun?

Apakah kalian yang takut pada Iran pernah mengunjungi kota-kota di Iran?

Apakah kalian pernah melihat Iran dari sisi keindahan, kebersihan, dan arsitekturnya mendekati kota-kota terkenal di Barat?

Apakah seseorang dari kita pernah mengetahui betapa orang Iran biasa memberi kepada istrinya bunga sepanjang tahun, menghormati dan menghargainya?

Apakah kita tahu bahwa di warung-warung kopi, para wanita duduk bersama laki-laki tanpa risih dan dengan terhormat?

Saya bangga dengan kearaban saya dan saya berharap negara Arab manapun; Saudi, Kuwait, Qatar, Suria, Emirat Arab, Mesir, Aljazair, Sudan, Maroko, Yaman, Somalia, dan Juzr Qomar, memberikan perhatian pada hal-hal tersebut sehingga kita menjadi bangsa Arab yang terhormat di samping belakang Iran.

Hal ini jauh lebih berguna daripada kita meratap melihat kemajuan Iran lalu membangun kekuatan militer untuk membendung pengaruh Iran di negara A atau negara B. Kita seharusnya memanfaatkan harta-harta kita sebagaimana Iran menggunakannya untuk melayani manusia, ilmu pengetahuan, kemajuan dan teknologi.

Sederhana saja, sesungguhnya Barat takut terhadap Iran karena Iran akan menyaingi mereka.

Seandainya setelah ini Iran diizinkan untuk membangun pembangkit tenaga listrik nuklir di sebuah negara Arab atau negara berkembang, biayanya akan lebih murah puluhan kali dari biaya yang diminta Barat.

Dengan kekuatan-kekuatan tersebut, Iran menjadi sebuah negara yang besar dan kuat sehingga mengancam Israel. Israel-lah yang dan paling takut pada Iran. Negara-negara Barat tidak berunding dengan Iran kecuali karena Iran menyandarkan kemajuan pengetahuan dan teknologinya pada kekuatan-kekuatan militer yang tinggi.

Pada akhirnya, Iran siap berunding dalam posisi yang kuat sementara pihak lain membutuhkan dana. Perundingan ini tidak seperti perundingan yang merendahkan martabat bangsa seperti perundingan Camp David, Oslo; dan jangan lupakan perundingan Wadi Arabah dengan Raja Jordania.

Benar, Iran mempunyai bom-bom nuklir, yaitu “nuklir” ilmu pengetahuan dan kemajuan.

Selamat bagi Iran dan semoga kita bangsa Arab berhenti mengeluh lalu mengikuti langkah-langkahnya.[]

 

YS/ IslamIndonesia/ Sumber: pulpit.alwatanvoice.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *