Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 06 April 2017

KOLOM – Hidup yang Baik, Benar dan Indah


haidar bagir

islamindonesia.id – KOLOM –  Hidup yang Baik, Benar dan Indah

 

Oleh Haidar Bagir*

 

Dimensi pendidikan itu sangat urgen dalam kehidupan manusia, karena pendidikan yang baik, benar dan indah itu adalah tujuan penciptaan manusia. Dalam hal ini anak bukan kertas kosong atau tabularasa, yang bebas diisi apa saja sekehendak orang dewasa, tapi anak lahir sesuai fitrahnya.

Kita sebagai orang dewasa, guru, orangtua, yang bertanggung jawab melejitkan potensi yang ada, atau memantik apa yang sudah Allah Swt anugerahkan kepada anak-anak kita. Dengan mengenalkan, memberikan keteladanan yang baik, benar dan mengindahkan kehidupannya agar anak-anak bisa merasakan bahkan membuat kebahagiaan baik untuk diri dan orang lain dalam hal ini menjadi Rahmatan Lil Alamain.

60 tahun lebih sudah saya hidup di dunia, alhamdulillah berkat Rahmat Allah Swt, saya sudah berkeliling dunia, baik itu untuk studi, pengembangan kualitas Muslim di dunia atau acara keluarga.

Dari situ saya banyak mengambil hikmah bahwa hidup yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memberi manfaat yang sebanyak banyaknya untuk orang lain. Bagaimana hidup yang baik itu?

Saya teringat ketika Sayidina Ali bin Abi Thalib mengangkat seorang gubernur, lalu Sayidina Ali mengatakan: “Perhatikanlah bahwa ketika kau memimpin, maka rakyatmu tidak hanya Muslim tapi ada di antara mereka yang beragama lain. Perlakukan dia dengan baik dan berbuatlah adil kepada mereka.”

Dalam sebuah riwayat, Sayidina Ali juga mengatakan: “Ada dua saudaramu, yang satu saudara seiman dan yang satu saudara sesama ciptaan Allah SWT.”

Jelaslah jika kita menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya maka kenyamanan dan keamanan negeri ini akan terbina dengan penuh cinta dan kasih sayang, tak pernah melihat suku, ras dan agama.

Bagaimana hidup yang benar?

Tak sedikit dalam dunia maya atau media sosial berseliweran berita hoax atau fitnah, atau berita yang salah bahkan juga mungkin berita yang sebenarnya atau benar adanya, tapi apakah kita harus ikut terlibat menjadi perpanjangan menyampaikan berita yang tak bergizi?

Hati-hati jika berita itu bohong maka kita menjadi corong fitnah, dan jika berita itu benar lalu kita ikut andil menyebarkan maka kita termasuk gibah, sementara ghibah sama seperti memakan daging saudaranya sendiri.

Dalam sebuah hadis dikatakan: “Perlakuan orang lain seperti yang kau mau.”

Maka jika kita ingin dimuliakan maka muliakanlah yang lain, jika kita mau disayangi maka sayangilah yang lain. Jika anak kita mau makan maka pastikan anak tetangga tidak kelaparan, jika keluarga kita mau bahagia pastikan jangan usik kehidupan dan ketenangan orang lain.

Sekarang kita balik bertanya, bagaimana rasanya jika posisi orang yang kita perlakukan tidak benar? Sedih bukan? Hati-hati setiap apa yang kita perbuat, sekecil apapun ada perhitungan atau hisabnya, dan Allah akan membuka aib-nya kelak ketika orang itu membuka aib saudaranya sendiri ketika di dunia.

Bagaimana hidup indah?

Hidup di dunia akan indah jika kita menjalani kehidupan dengan menghadirkan nilai-nilai keTuhanan dalam kehidupan kita, asma Allah salah satunya adalah Rahman lalu diikuti Rahim, Pengasih dan Penyayang. Jika setiap kita mengaktualisasikan nilai-nilai kasih sayang dalam kehidupannya sehari-hari maka kedamaian dan kebahagian akan hadir dalam jiwa-jiwa manusia.

Tak sedikit untuk meraih kesuksesan hidup, seseorang melanggar norma dan hukum, menghalalkan segala cara menampikan nilai keindahan. Untuk yang namanya sukses, seseorang kadang berangkat pagi, pulang malam untuk kerja keras. Apakah dia sukses?

Jawabannya, mungkin sukses diraih, tapi apakah dia bahagia? Orangtua mengharapkan semua anak sukses, jika ditanya kepada bapak dan ibu, apakah harapan untuk anak-anaknya? Maka tak sedikit yang menjawab adalah anak-anaknya mau sukses.

Padahal kesuksesan dan kebahagian itu dua hal yang berbeda. Kenapa? Karena jika seseorang sukses hanya diukur dari materi, rumah mewah, mobil mewah, penghasil besar, tapi tak sedikit kehidupannya berakhir dengan tragis, tak sedikit banyak yang tergelincir dalam kehinaan, obat-obatan dan lain-lain.

Lalu apakah bahagia itu? Bahagia itu ada dalam jiwa-jiwa yang tenang, rasa syukur yang diaplikasi dalam hati, lisan dan perbuatan. Bahagia itu ketika kita mampu menjalani kehidupannya yang baik, yang benar dan menjalani kehidupannya dengan indah.

Tidaklah seseorang dinamakan beriman ketika dia mencintai orang lain seperti dia mencintai dirinya sendiri. Bahagia ketika menjadi jalan orang lain berbahagia, artinya menjadi manusia yang banyak memberikan manfaat untuk orang lain .

Tanggung jawab kita sebagai orangtua adalah menjadi teladan, meluluhkan ego kita dan wasilah agar anak kita sukses bahagia dunia akhirat. Tidak semua orang sukses bisa bahagia tapi jika orang bahagia insya Allah sukses akan menyertai.[]

 

*Praktisi pendidikan, Dosen Filsafat dan Tasawuf, Penulis ‘Islam Tuhan, Islam Manusia’ (Mizan, 2017)

 

YS/ islam indonesia/ Materi Seminar Internasional: Goodness,Truth and Beauty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *