Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 15 January 2019

Kolom – Haidar Bagir: Agama Versus Agama


Kolom Haidar Bagir, Agama Vs Agama

islamindonesia.id – Kolom – Haidar Bagir: Agama Versus Agama

 

Agama Versus Agama

Oleh Haidar Bagir

Pada tahun-tahun 90-an terkenal seorang pemikir Iran bernama Ali Syariati. Pemikir lulusan Sorbonne ini dikenal sebagai sosiolog yang kekiri-kirian. Dia mengkritik Marxisme, tapi tak pelak pola pikir Marxisme – khususnya tentang perjuangan kelas – menonjol dalam berbagai analisisnya tentang berbagai persoalan Islam. Baginya agama-agama dan para Nabi pembawanya adalah pejuang-pejuang orang-orang tertindas (mustadh’afin) yang tak segan-segan diidentikkannya dengan kaum proletar dalam pemikiran Karl Marx.

Mereka selalu memulai karirnya sebagai Nabi dengan melawan kaum penindas (mustakbirin) – yang kini dia identikkan dengan kaum borjuasi – dengan penguasa-penguasa sarana produksi. Maka Syariati pun mengkritik para pemuka agama dan pemikir keagamaan yang lebih dekat kepada penguasa-penguasa, baik pemilik sarana produksi maupun para penguasa politik yang menjadi komprador mereka dalam menindas kaum proletar. Bagi Syariati, agama yang berpihak pada orang-orang tertindas inilah agama yang benar, sedang agama pro-para penguasa adalah agama palsu. Nah, dia menyebut pertentangan di antara dua kelompok penganutan agama, dalam satu agama yang sama ini, sebagai perjuangan agama versus “agama”.

Dalam tulisan ini saya tak terutama hendak membuat judgement tentang mana  yang benar di antara berbagai cara penganutan agama. Yang ingin saya lakukan adalah menunjukkan betapa, bahkan dalam satu agama yang sama, ada beragam kelompok dengan penafsiran yang berbeda begitu jauh – tak jarang diametral – tentang agama itu sedemikian, sehingga hampir-hampir kita bisa mengatakan bahwa dalam suatu agama bisa terdapat beberapa agama yang berbeda-beda sekaligus. Biasanya kita akan menyebut beragam penafsiran yang terjadi di dalam sebuah agama sebagai sekte, aliran, atau paling jauh mazhab. Tapi, seperti akan saya tunjukkan setelah ini, perbedaan di antara berbagai kelompok/sekte/aliran atau mazhab ini hampir-hampir sama besarnya dengan perbedaan di antara agama itu dan agama lain. Bahkan boleh jadi lebih besar. Mari kita lihat.

Para fenomenolog agama, misalnya biasa membagi agama-agama ke dalam kategori agama berorientasi hukum (nomos/law) dan kategori agama berorientasi cinta (eros/love). Dalam konteks ini, agama-agama Yahudi dan Islam cenderung dipandang sebagai berorientasi hukum. Sementara agama Nasrani dan, mungkin juga agama-agama India dan Cina, biasa dikelompokkan ke dalam agama berorientasi cinta.

Nah, di dalam masing-masing agama pun, kedua kecenderungan ini bisa ada secara bersama-sama. Dalam Islam, misalnya, ada (penafsiran) Islam yang melulu berorientasi hukum  (dan politik/kekuasaan) sehingga semua aspek lain dari agama menjadi kurang penting; ada juga yang berorientasi cinta sehingga bahkan hukum disubordinasikan ke bawah belas-kasih. Contohnya, penekanan Islam pada perdamaian tak bisa lebih ditekankan lagi – karena perdamaian tak lain adalah makna literal nama agama ini sendiri. Tapi, karena obsesi pada hukum dan kekuasaan politik dalam sebagian kelompok Islam, maka aspek kemarahan, pembalasan dan penaklukan – melalui kekerasan – mengalahkan kecenderungan pada perdamaian ini. Sebaliknya, bagi kelompok yang memahami Islam sebagai agama berorientasi cinta, maka kesabaran, permaafan dan pengorbanan menjadi tema dan sikap utama yang menonjol.

Dengan kata lain, alih-alih mendahulukan penerapan hukum secara ketat, kelompok yang disebut terakhir akan mendahulukan budi pekerti (akhlak) yang luhur dan kebaikan hati. Kelompok ini amat percaya bahwa, pada puncaknya, akhlak dan kebaikan hati (amal-amal saleh) adalah faktor terpenting dalam upaya perbaikan masyarakat. Tujuan akhir agama pun diorientasikan kepada pencapaian apa yang disebut sebagai tujuan-tujuan hukum (maqashid syari’ah) atau ideal-ideal moral hukum Islam, bukan hukum untuk hukum itu sendiri. Dalam konteks ini adalah Islam sebagai agama kasih-sayang (rahmah) bagi semesta alam.

Sebaliknya, dalam agama non-Islam – yang di dalamnya boleh jadi tema cinta sudah dipahami sebagai ciri-utamanya – juga bukan tak mungkin ada kelompok yang justru menonjolkan aspek hukum dan kekuasaan. Baik itu dalam agama Nasrani, Hindu, Budha, dan sebagainya.

Adanya dua kecenderungan – yang hampir-hampir menjadikan ada lebih dari satu “agama” dalam satu agama yang sama ini – bisa diperluas ke dalam berbagai bidang lain. Salah satunya adalah (pemahaman) agama – hermeneutik-mistikal versus agama literal-formal. Dalam yang pertama, agama dan teks-teks suci diyakini punya lapis-lapis makna nyaris tak terbatas dari yang paling lahir hingga ke yang paling batin. Mistisisme dan formalitas dalam beragama hampir-hampir adalah dua sistem kepercayaan dan pemikiran yang memiliki dua paradigma, dua “permainan bahasa” (language game) yang secara total berbeda.

Saya berani menyatakan bahwa seorang literalis-formalis takkan pernah memahami cara pemikiran kaum hermeneutik-mistikal. Dalam kenyataannya, kaum mistik di berbagai agama lebih sering mengalami persekusi dalam sejarah karena mereka dianggap telah melakukan bida’ah-bida’ah yang telah mencapai batas kekafiran, sehingga tak termaafkan. Termasuk dalam keyakinan mereka pada impersonalitas Tuhan dan kehadiran-Nya secara imanen (menyatu/bersama) dalam alam dan segala tabiat/hukumnya; keyakinan pada Tuhan yang pathetic (penuh cinta) sehingga selalu siap dengan belas-kasih dan pengampunan kepada makhluk-makhluknya yang berdosa; keyakinan pada sifat “relatif” tapi legitimate dari gagasan setiap orang akan Tuhan, betapa pun berbedanya; keyakinan pada keberjiwaan (animistik), bahkan dinamistik, makhluk-makhluk Tuhan non-manusia, yang melahirkan simbol-simbol dan ritus-ritus penghormatan (bukan penyembahan) kepada alam; keyakinan pada keberadaan para orang suci (wali) yang menjadi tangan dan perantara spiritual Tuhan di bumi, baik ketika masih hidup maupun sudah wafat; dan sebagainya. Penafsiran agama semacam ini secara alami sangat toleran dan inklusif terhadap berbagai variasi pemahaman intra agama, bahkan antar agama. Sedangkan  bagi yang lain, itu semua adalah tak kurang dari kesesatan dan kesyirikan, suatu dosa besar yang tak terampuni.

Ilustrasi kekerasan dalam agama. Photo: japantimes

Ilustrasi kekerasan dalam agama. Photo: japantimes

Fenomena agama versus “agama” inilah yang belakangan melahirkan perseteruan intra agama yang bahkan lebih keras dari perseteruan antar agama. Maka, dalam bentuk ekstremnya, kita lihat ISIS dan gerakan-gerakan sejenisnya tampil lebih garang dan sadis kepada sesama Muslim. Dalam wujud yang lebih lunak, meski tak kurang mengkhawatirkan, di negeri kita sudah terjadi aksi-aksi seperti perusakan kuburan, pembubaran acara tradisional, dan sebagainya. Mengulang apa yang sudah saya sampaikan di awal tulisan ini, tujuan utama saya bukanlah terutama untuk men-judge benar-salahnya suatu pemahaman agama, melainkan justru untuk menunjukkan adanya bahaya aksi-aksi pengafiran atau pemunafikan suatu kelompok penafsiran terhadap kelompok penafsiran lainnya. Dan fenomena seperti ini tak bisa dibiarkan, karena akibatnya tak kurang dari disintegrasi bangsa.

Saya khawatir, sekadar kampanye kesadaran toleransi – seperti dalam sejarah – ternyata tak akan pernah cukup. Kalau pun suatu saat masa toleransi itu tiba, maka boleh jadi sudah akan telanjur ada korban yang terlalu besar, dan akan kita sesali sepanjang sejarah bangsa ini. Perlu ada ketegasan dari pemerintah untuk mengembangkan suatu sistem perundangan yang menjadikan pengafiran dan penyesatan atas suatu kelompok (penafsiran) keagamaan tertentu oleh kelompok lainnya sebagai suatu pelanggaran hukum. Dan ini bukan tanpa preseden. Beberapa negara sudah mengembangkan hal ini, contohnya Tunisia dan Oman. Selanjutnya adalah law enforcement yang tegas dan adil. Tanpa itu, saya khawatir pertarungan di antara lebih dari satu “agama” dalam satu agama ini bisa menjadi bola liar yang menghancurkan, tanpa ada seorang pun yang bisa menghentikannya.

 

PH/IslamIndonesia/Sumber: Majalah Tempo 12 Januari 2019

One response to “Kolom – Haidar Bagir: Agama Versus Agama”

  1. bagir shatri says:

    memprihatinkan manakala extremisme negatif dlm agama sering kali menampilkan simbol ISLAM saja.

    mungkin tak ada fenomena extrem kanan yang bertindak brutal menghilangkan hidup dan kehidupan, khususnya dari agama samawi lain dan umumnya dari keyakinan lainya.

    salahkah bila ada yang menginginkan keseimbangan sajian dalam hal itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *