Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 30 May 2019

KOLOM – Habib dan Pergolakan Politik Partisan


islamindonesia.id-Habib dan Pergolakan Politik Partisan

Oleh: Abdillah Toha | Pemerhati Sosial, Politik dan Keagamaan

Belakangan berkembang stigmatisasi dan sentimen anti habib di kalangan tertentu disebabkan oleh banyak berita tentang  partisipasi beberapa orang bergelar habib dalam kegiatan politik dan pergerakan massa.

Laman detiknews, umpamanya, baru-baru ini memuat berita dengan judul bombastis “Aktor Intelektual Pembakaran Mapolsek Tambelangan Ternyata Seorang Habib”. Seakan-akan ingin memberitahu bahwa penjahatnya dari jenis atau etnis warga negara tertentu. Andai kata habib itu diganti dengan Dayak atau Batak, saya yakin mereka yang sesuku  akan tersinggung.

Mengapa? Karena berita semacam itu adalah jurnalisme yang tendensius karena  bisa disalah-tafsirkan sebagai propaganda bahwa mulai sekarang siapa saja yang bergelar habib harus dicurigai. Siapa dan apa habib itu akan dijelaskan di bawah.

Namun demikian, harus diakui bahwa sejak pemilihan gubernur DKI tahun 2017 dan berlanjut lebih intensif lagi pada pemilihan presiden tahun ini, partisipasi para ustad dan warga negara keturunan Arab termasuk habaib (jamak habib) dalam gerakan politik sangat menonjol. Sebagiannya digiring oleh nafsu kelompok politisi tertentu yang melibatkan sentimen keagamaan untuk menggaet suara umat Islam. Dengan pemahaman politik sebagian habib yang dangkal, mereka kemudian menjadi korban dan merasa terpanggil untuk “membela” Islam yang dianggapnya “terancam”.

Faktor lain adalah adanya seorang habib kharismatik, orator ulung, yang cara dakwahnya tidak konvensional dan sarat muatan politik. Menggerakkan massa lewat orasinya yang berapi-api, bila perlu dengan mencaci maki lawan politiknya, telah mengilhami berbagai ustad dan dai untuk meniru gayanya dan terkesima pada provokasinya tentang hari depan negeri ini yang digambarkan sebagai berbahaya bagi umat Islam bila dibiarkan di bawah rezim sekarang.

Habib yang belakangan melarikan diri ke kota suci Makkah untuk menghindar dari masalah hukum di sini, kemudian diberi gelar Imam Besar oleh pengikutnya. Kata-katanya dijadikan semacam fatwa dan perintah agung untuk dilaksanakan. Dari kejauhan di Makkah, dia masih terus memprovokasi pengikutnya untuk terus bergerak mendukung kelompok politik pilihannya.

Pendekatan dakwah paranoid anti asing dan agama lain itu cepat meluas dan menyebar ke mana-mana karena kemajuan teknologi internet. Berkat media massa daring dan mudahnya komunikasi antar pengguna internet, para ustad dan habib yang tadinya tidak pernah kita dengar namanya muncul ke permukaan dan populer. Pada gilirannya hal ini mendorong ustad-ustad muda tidak mau ketinggalan berpartisipasi dalam lomba kepopuleran ini.

Habib Sejati
Beberapa habib masa kini yang mendapat perhatian luas dari media massa itu, perilakunya sangat memprihatinkan serta menimbulkan kegelisahan dan merugikan citra Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas di negeri ini.

Lebih lagi ketika gelar habib ini dilekatkan pada keturunan Imam Ahmad bin Isa Almuhajir dari Hadaramaut yang mempunyai nasab langsung sampai kepada Fatimah putri Rasulullah SAW dan ayahnya Muhammad SAW. Di Indonesia mereka dikenal sebagai marga Alawiyun.

Tidak semua keturunan Arab di negeri ini dari keluarga Alawi/ habib. Sebelum ini, keluarga Alawiyun lebih sering disebut sebagai Sayid sedang gelar habib yang berarti kekasih atau yang dikasihi, dahulu hanya disandang dan diberikan oleh pengikutnya kepada orang-orang yang dianggap sebagai panutan dan telah mencapai maqam atau tingkat keagamaan tertentu. Entah bagaimana pada masa ini setiap anggota marga Alawi atau Ba-alawi menyandang gelar habib dan dianggap sebagai orang yang ilmu agamanya tinggi.

Habib adalah manusia biasa. Ada yang baik dan ada yang buruk perilakunya. Tetapi ketika gelar itu disandang oleh sembarang orang, maka resiko terbesar adalah generalisasi masyarakat awam atas tindak-tanduk mereka yang menyimpang.

Nasab habib yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW tidak membebaskannya dari dosa dan hukum setempat. Hubungan darah tidak selalu menjamin hubungan sifat dan ideologi. Nabi sendiri pernah mengatakan bahwa andai putriku Fatimah mencuri, aku akan potong tangannya.

Allah menolak doa Nabi Nuh yang memohon agar puteranya diselamatkan dari kesesatan. “Sesungguhnya ia (anakmu yang durhaka) bukanlah keluargamu, karena sesungguhnya perilakunya begitu buruk”. (Q.S. Huud; 46)

Habaib di atas jelas bukan teladan yang baik. Habaib pendahulu telah banyak dikenal di negeri ini dengan pengaruh yang luas berkat perilaku yang lembut, tulus dan ikhlas, serta dilandasi ilmu yang benar dan akhlak yang mulia.

Sebelum dan pascakemerdekaan RI, ada tokoh terkenal habib Ali Alhabsyi Kwitang, dengan majelis taklim yang bertahan selama lebih dari satu abad sampai sekarang karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berlandaskan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial, serta akhlaqul karimah. Ajaran dakwah Habib Ali berupa pelatihan kebersihan jiwa, tasauf mu’tabarah dan dialog antara makhluk dengan al-Khalik serta antara sesama makhluk.

Habib Ali tidak pernah mengajarkan ideologi kebencian, berpolitik, iri, dengki, ghibah, fitnah dan namimah. Sebaliknya, Habib Ali mengembangkan tradisi kakek-kakeknya dari keluarga Ahlul Bait yang intinya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati hak-hak setiap manusia tanpa membedakan manusia atas latarbelakang status sosial mereka.

Habib Ali bin Husin Alatas, seorang guru yang tawadhu’ dan sederhana, berhasil menciptakan murid-murid yang menjadi ulama besar seperti KH. Abdullah Sjafi’ie, pimpinan majelis taklim Assyfi’iyah, KH. Tohir Rohili, pimpinan majelis taklim Attahiriyah, KH. Syafi’i Hadzami, dan puluhan ulama lainnya. Bahkan, para muridnya itu kemudian menjadi guru para mubaligh dan perguruan tinggi Islam. Dan masih banyak lagi habaib di kota-kota lain yang namanya harum sampai sekarang berkat perilakunya yang sangat Islami.

Dari banyak habaib Hadramaut beberapa abad lalu, yang pengaruhnya sangat luas di Nusantara ada paling sedikit dua nama. Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi yang buku mauludnya Simtuddrurar dibaca setiap malam Jumat di seantero Nusantara, dan Habib Abdullah bin Alawi Alhaddad dengan wirid dan ratibnya yang terkenal luas di sini. Habib Abdullah Alhadad juga menulis puluhan buku yang bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Barat sebagai bahan mempelajari sisi spiritual Islam.

Di Gresik ada Habib Abubakar Assegaf, seorang zahid yang haulnya diperingati setiap tahun. Ada pula Habib Husin Alaydrus yang lebih dikenal sebagai Habib Luar Batang, seorang sufi yang dikeramatkan dan makamnya jadi tempat ziarah favorit. Para Habib ini mencapai maqamnya dengan upaya sungguh-sungguh dalam riyadhoh, bukan dengan sekadar mencantolkan gelar habib di depan namanya.

Pada masa kini pun banyak habib sejati dan intelektual  yang sebagian tidak memasang gelar habib di depan namanya dan ilmunya tinggi serta meneladani akhlak Nabi. Ulama seperti Prof. Quraish Shihab, Habib Luthfi bin Yahya, Habib Sagaf Aljufri Palu, dua bersaudara Habib Ahmad dan Jindan Novel, Habib Umar bin Hafidz, Habib Ali Aljufri, mantan Menteri Luar Negeri Dr. Alwi Shihab dan almarhum Ali Alatas, Prof. Syed Nagib Alatas, Dr. Haidar Bagir, pengacara Fikri Assegaf dan Mohammad Assegaf, Rektor Universitas Indonesia Prof. Anis Shahab, serta tokoh habib muda seperti Prof Ismail Fajri Alatas, Husein Ja’far, Syahir Hadana dan banyak lagi, adalah habaib kontemporer yang patut menjadi panutan.

Habib sejati ini ciri khasnya antara lain adalah rendah hati, arif, dan tidak suka menonjolkan diri serta tidak berpolitik praktis. Akibatnya suara mereka tenggelam di bawah militansi dan suara lantang habaib politisi di era pengeras suara ini.

Andai pun ada dari mereka yang masuk ke ranah politik praktis, maka mereka tidak akan melakukannya atas nama keluarga besar Alwiyun dengan menyandang gelar habib atau menyeret agamanya ke dalam lumpur politik.

Inilah manusia-manusia pilihan yang tutur bicaranya lemah lembut, dakwahnya merangkul semua pihak dan mengajak dengan penuh kasih sayang. Bukan penghasut yang merangsang emosi negatif pengikutnya.

Mereka telah berada di bumi Nusantara ini selama berabad-abad dan banyak yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan sebagai pahlawan di medan pertempuran maupun di meja perundingan dan diplomasi.

Adanya beberapa habib yang menyimpang dari jalur pendahulunya diharapkan tidak kemudian dijadikan alasan untuk menyamaratakan semua anggota keluarga besar Alawiyin/habib yang lebih dikenal dengan sebutan habib. Kita berdoa agar habaib yang bersimpang jalan dapat kembali ke jalan yang dicontohkan oleh habaib terdahulu.

AT – 30052019

YS/Islamindonesia

One response to “KOLOM – Habib dan Pergolakan Politik Partisan”

  1. Ahmad Bagir says:

    Tulisan yg bernas dan mencerahkan. Walaupun hanya tulisan pendek tapi cukup lengkap menginformasikan keadaan yg sesungguhnya.

    Pak Abdillah Toha termasuk salah satu yg sudah sampai pada maqam Habib (mumpuni dalam ilmu, menyintai dan dicintai) yg tidak pernah menyematkan gelar itu di namanya.

    Saatnya sekarang para “habaib” mawas diri dan bertanya: Apakah sudah pantas menyandang gelar habib? Hanya mereka yg punya ilmu tinggi, akhlaq yg agung, tutur kata yg lembut dan punya welas asih yg akan secara otomatis mendapat gelar habib dengan atau tanpa diminta dan meminta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *