Satu Islam Untuk Semua

Monday, 15 October 2018

KOLOM – Fenomena Massa


Retro microphone in front of audience

islamindonesia.id – KOLOM – Fenomena Massa

 

 

 

Oleh Abdillah Toha | Pemerhati Sosial, Politik dan Keagamaan

 

 

Ketika menunggu giliran untuk beraudiensi dengan Habib Umar bin Hafidz kemarin malam, saya terkagum-kagum pada begitu banyaknya manusia yang antri dengan sangat antusias ingin berjumpa dengan beliau atau paling tidak bisa mencium tangannya. Dimanapun beliau berada ribuan manusia berebut ingin mendekat kepadanya. Apa sebenarnya daya tarik orang alim ini di tengah-tengah banyak orang alim lainnya? Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini?

Daya tarik Habib Umar jelas bukan semata karena ilmunya karena banyak orang berilmu yang tidak memiliki massa pengagum sebanyak pemuja beliau. Juga bukan karena kesederhanaan dan kerendahan hatinya, karena banyak pula pemimpin yang rendah hati dan sederhana tidak mampu menarik begitu banyak massa. Beliau juga bukan orang muda yang berwajah tampan dan bukan seorang penyanyi yang suaranya merdu yang biasanya menarik ribuan penggemar. Atau pejabat tinggi yang bisa menjanjikan hadiah bagi yang memujinya. Ada daya tarik tersendiri yang sulit dijelaskan.

Bila ingin mencari jalan pintas untuk menjelaskannya maka kita akan mengatakan itu adalah kharisma atau daya tarik yang merupakan anugerah dari Allah SWT. Namun demikian penjelasan ini belum tentu memuaskan semua pihak karena “anugerah” jenis itu dimiliki juga oleh mereka yang berada tidak di jalan Allah. Ada orator dan demagog yang bisa menarik ribuan massa. Artis yang dikerubuti oleh massa yang histeris. Ada pula “ustaz” tidak berilmu yang mampu menggerakkan puluhan ribu massa. Jadi, apa sebenarnya yang terjadi?

Barangkali jawabnya bukan berada pada sang tokoh yang dikagumi tetapi pada psikologi massa. Banyak teori yang sudah ditulis tentang hal ini. Ada yang menjelaskan histeria massa sebagai penyakit dan ada pula yang mengatakan dengan contoh-contoh bahwa fenomena itu ada pada grup yang mempunyai kesamaan identitas dan tujuan. Juga kelompok ini dikatakan sebagai kelompok yang lemah terhadap kekuatan hipnotis. Ada pula yang mengatakan bahwa di tengah-tengah massa yang besar, individu kehilangan jati dirinya,  bisa menyembunyikan rasa segannya kemudian memunculkan apa yang ada dalam bawah sadarnya secara terbuka tanpa malu.

Psikologi massa ini banyak dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh mereka yang mempelajarinya dengan maksud untuk mencapai tujuan politik atau lainnya. Para manipulator ini umpamanya menebar ketakutan kolektif dan meyakinkan massa bahwa dirinyalah atau jalan yang ditawarkannya lah satu satunya jalan yang dapat menyelamatkan mereka.

Ada pula massa histeris yang memuja artis. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai angan-angan yang tinggi dan ingin menjadi seperti artis yang dipujanya. Massa politik percaya bahwa politisi yang diagungkannya adalah penyelamat negeri dan dirinya. Begitu seterusnya.

Tentu saja kita tidak bisa menyamaratakan niat semua tokoh sebagai niat buruk. Tidak kurang tokoh kharismatis seperti habib Umar yang tulus dan baik niatnya tanpa pamrih. Begitu pula kita tahu ada beberapa pemimpin revolusi dalam sejarah yang tulus dan berhasil menjatuhkan penguasa tiran kemudian mengubah negerinya menjadi negeri yang lebih adil dan beradab.

Khusus tentang massa beragama, ada berbagai kategori. Ada yang benar-benar berkeinginan untuk mendapatkan bimbingan yang benar melalui penguasaan ilmu sang tokoh. Ada yang punya hajat dan ingin hajatnya terkabul melalui doa atau sentuhan sang kiai. Tapi banyak pula yang ingin meraih jalan pintas lompatan spiritual melalui berkah dengan sekadar menghadiri majelisnya atau mencium tangan sang guru. Namun yang terbanyak barangkali mereka yang berada dalam kebingungan dan tidak memiliki pegangan ilmu dan nalar yang kuat sehingga perlu sebuah penyangga dari manusia lain yang dianggap patut menjadi sandaran.

Massa dari kelompok terakhir inilah yang paling banyak dan paling rapuh untuk dimanipulasi dan dijadikan tunggangan oleh tokoh yang menyembunyikan niat buruknya. Kelompok ini, meski sebagian besar berada pada kategori berpendidikan rendah namun fakta menunjukkan, dan ini mengherankan, tidak kurang orang berpendidikan tinggi yang mudah terpengaruh dan mengidap kelemahan kepribadian jenis ini.

Di era informasi yang melimpah seperti saat ini, fenomena massa yang terkecoh bukannya menyurut tapi justru berlipat. Bila dibiarkan tanpa kendali oleh pemerintah dan pemimpin masyarakat yang bertanggung jawab, massa tertentu bisa berubah menjadi agresif dan destruktif.

Media massa juga mempunyai tanggung jawab yang besar dalam memilah dan memilih berita dan opini yang layak disiarkan. Tidak sekadar mencari rating yang tinggi guna meraup pendapatan dari iklan. Ulama yang bersih tidak boleh diam dan membiarkan massa dipimpin oleh “ustaz” jadi jadian yang menjual agama dengan atau tanpa disengaja.

Keterbukaan dan kebebasan berpendapat dalam sistem demokrasi jangan sampai dibajak oleh mereka yang sebenarnya bermaksud memanfaatkan keterbukaan itu sebagai jalan masuk untuk menggantinya dengan sistem yang tiranikal. Wallah a’lam.

 

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *