Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 01 January 2017

KOLOM – Akhlak Mulia


gus-mus-islam-kita-islam-indonesia-bukan-islam-saudi-arabia

islamindonesia.id –  KOLOM — Akhlak Mulia

 

Oleh: KH. Ahmad Mustofa Bisri*

 

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم ~ ال عمران:٣١

“Katakanlah, jika kamu benar mencintai Allah, ikutilah aku; maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

 

Hampir semua orang beragama mengaku mencintai Allah, tapi mungkin tidak terlalu banyak yang berusaha mengikuti jejak RasulNya, kecuali dalam pengakuan. Ini boleh jadi karena keengganan untuk lebih mengenal Rasulullah SAW sebelum mengaku mengikuti jejaknya.

Umumnya orang merasa tidak punya waktu untuk membaca sunnah Rasulullah SAW agak sedikit komplit. Umumnya, orang membaca, menulis, atau menyampaikan hadis Nabi Muhammad SAW –bahkan Al-Quran—sebatas yang sesuai dengan kecenderungan mereka yang bersangkutan.

Hal ini tidak mengapa, asal tidak sampai meninggalkan atau melewatkan nilai penting –apa pula yang terpenting– dari nilai-nila mulia Rasulullah SAW. Nilai yang apabila kita ikuti merupakan dakwah tersendiri yang pasti tidak kalah dari dakwah-dakwah kreasi kita sendiri.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan tampilkan sifat utama Rasulullah SAW yang sesuai dengan misi utamanya. Satu dan lain hal agar kita yang di muara ini dapat sedikit melihat beningnya Mata Air.

Seperti dinyatakan oleh Al-Quran sendiri dan persaksian para sahabat beliau, panutan agung kita Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang berakhlak sangat mulia. Imam Bukhari meriwayatkan dari shahabat Anas r.a. yang berkata:

لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا لعانا ولا سبابا

“Rasulullah SAW orangnya tidak keji dan kasar, tidak tukang melaknat, dan tidak suka mencaci..”

[Baca juga – Gus Mus: Quraish Shihab, Habib yang Alim dan Mengasihi]

Imam Bukhari juga meriwayatkan pernyataan Masruq r.a.yang mirip pernyataan Anas:

“Rasulullah SAW bukanlah orang yang keji dan suka bicara kotor. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya orang-orang terbaik di antara kalian ialah orang-orang yang paling baik pekertinya.”

Sahabat Anas yang pernah meladeni Rasulullah SAW selama sepuluh tahun tidak pernah sekali pun mendengar Rasulullah SAW membentaknya. (Lihat persaksiannya di Bukhari dan Muslim). Bahkan Imam Bukhari meriwayatkan:

Orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW dan berkata “As-saamu ‘alaikum!” (bukan Assalaamu ‘alaikum), “Kematian bagimu!”.

Sayyidatina ‘Aisyah pun menyahut: “Kematian juga bagi kalian dan juga laknat Allah dan murka Allah!”

Rasulullah SAW pun menegur: “Tenang, ‘Aisyah; jagalah kelembutan, jangan kasar dan keji!”

Sayyidatina ‘Aisyah masih menjawab: “Apakah Rasulullah tidak mendengar apa yang mereka katakan?”

Rasulullah bersabda: “Apakah kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Aku telah mengembalikan doa mereka kepada mereka (Rasulullah sudah menjawab “wa’alaikum” yang artinya “bagi kalian juga”) doaku atas mereka diijabahi dan doa mereka terhadapku tidak”.

Alangkah mulianya akhlak Rasulullah! Sampai pun sikap buruk mereka yang membencinya, tidak mampu membuat beliau meradang; bahkan menasehati istrinya agar tetap bersikap lembut; tidak kasar dan keji.

[Baca juga: OPINI – Semesta Akhlak]

Akhlak yang mulia ini, sesuai benar dengan misi Rasulullah SAW seperti disabdakannya sendiri,

” انما بعثت لاتمم صالح الاخلاق”

“Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (Imam Ahmad dari Sa’ied bin Manshur dari Abdul ‘Aziez bin Muhammad dari Muhammad bin ‘Ajlaan dari al-Qa’qaa’ bin Hakiem dar Abi Shaleh dari Abu Hurairah).

Bandingkan akhlak Rasulullah itu dengan banyak penganutnya yang gemar melaknat dan mencaci bahkan terhadap saudaranya sendiri.

Sehebat apa pun takwa orang Islam, pastilah tidak mungkin melebihi takwa Rasulullah SAW. Menyamai saja tidak. Sebesar apa pun ghirah atau semangat beragama orang Islam, pastilah tidak mungkin melebihi ghirah dan semangat beragamanya Rasulullah SAW. Menyamai saja tidak.

Hanya saja dalam ghirah dan semangat beragama itu, dalam membela Allah dan agamaNya, Rasulullah SAW tidak mengikut sertakan nafsunya. Boleh jadi nafsu inilah yang membedakan; nafsu inilah yang membuat seolah-olah banyak muslim masa kini tampak lebih bersemangat dari Rasulullah sendiri. Padahal tidak.

Seandainya umat Islam mau meniru sifat mulia Rasul mereka itu dan mengikuti jejaknya, pastilah banyak persoalan-persoalan keumatan, khususnya dalam pergaulan hidup mereka sendiri, dapat dengan mudah teratasi. []

*Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah

[Baca juga: Singgung Soal Aleppo, Gus Mus: Bacalah Surat Terbuka Ini dengan Pikiran Jernih]

 

YS/ Islam Indonesia/ Sumber: gusmus.net

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *