Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 24 April 2014

Jurnalisme Welas Asih


foto:masterpaece.com

“Semakin seorang jurnalis melihat dirinya sebagai pelaku dalam sebuah peristiwa, dan memiliki loyalitas pada narasumber, maka ia tak bisa menyebut  lagi dirinya sebagai seorang jurnalis.” (Maggie Gallagher).

 

SEBUAH peristiwa unik terjadi pada awal Juli tahun lalu. Tujuh jurnalis Aljazeera di Mesir melakukan resign massal. Pasalnya. stasiun televisi tempat mereka mencari nafkah dinilai telah turut andil dalam upaya pembenturan terhadap sesama rakyat Mesir. Sebagai warga Mesir, para jurnalis  tersebut menyatakan marah dan  tidak rela dengan berbagai progam  provokatif pihak Aljazeera.

Aljazeera kerap melakukan pembohongan publik dalam pemberitaannya terkait kondisi Mesir saat ini,”ujar Hujaj Salamah, juru bicara para jurnalis itu. Ya memang, bukan rahasia lagi jika Emir Qatar, pemodal utama stasiun televisi yang berpusat di Doha tersebut, bersimpati terhadap salah satu pihak yang bertikai di Mesir.

Dalam The Elements of Journalism, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menyebut salah satu tugas jurnalisme adalah berlaku independen  terhadap sumber berita.  Sikap independen ini tentunya berbeda dengan sikap netral, yang bukan merupakan  prinsip inti jurnalisme.  Sesimpati apapun seorang reporter terhadap nara sumbernya, ia harus bisa mengatur jarak sehingga hasil pemberitannya tidak terjatuh dalam bias dan lebih jauh malah menjerumuskan. “Seorang jurnalis harus tetap independen dari pihak yang mereka liput,” tulis Kovach & Rosenstiel.

Menurut Maggie Gallagher, ada perbedaan antara jurnalis dengan juru propaganda. Seorang jurnalis sesungguhnya tidak menulis sebuah berita atau artikel dengan tujuan untuk memanipulasi para audiens. Ia mencari untuk mengungkap dan menyampaikan kepada para pembaca, sebuah dunia sebagaimana ia melihatnya. Karena itu, “Semakin seorang jurnalis melihat dirinya sebagai pelaku dalam sebuah peristiwa, dan memiliki loyalitas pada narasumber, maka ia tak bisa menyebut  lagi dirinya sebagai seorang jurnalis,” ujar jurnalis terkemuka dari Amerika Serikat tersebut.

Islam Indonesia berusaha untuk berdiri di atas ranah indepedensi tersebut. Sejak awal kedatangan kami di dunia pers Indonesia dua tahun yang lalu, kami berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan semangat welas asih dan keberpihakan kepada “kaum yang terzalimi” sebagai pilihan kami. Tentunya saat ini kami tampil bukan tanpa kekurangan.  Banyak “bolong-bolong” yang harus secepatnya diperbaiki. Justru di sinilah, muncul harapan para pembaca bisa “menolong” kami dengan memberikan kritik-kritik yang argumentatif dan konstruktif.  

Kerumitan yang kini tengah dihadapi dunia Islam menjadi uji coba terbesar pertama yang sedang kami hadapi. Di tengah kebencian, kekerasan dan konflik berkepanjangan yang terjadi di Suriah, Mesir, Burma dan bahkan di negeri kita sendiri, kami berusaha untuk tetap menyajikan pemberitaan secara adil bukan hanya untuk umat Islam semata tapi juga seluruh manusia, sesuai dengan semangat Al Qur’an: “”Dan jangan karena kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil.” (al-Maidah: 8). 

Karena itu, dalam semangat welas asih dan cinta, kritik dan doakanlah agar kami bisa bersikap adil untuk kebaikan bersama.

 

 

*) Jurnalis Islam Indonesia

 

 

Sumber: Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *