Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 19 May 2016

Adakah Label Halal MUI untuk Toko ‘Sex Toy sesuai Syariah’ dari Belanda?


Perusahaan Sex Toy Syariah El Asira

IslamIndonesia.id–Dia menaklukkan Amsterdam lima tahun silam. Lalu satu per satu negara di Eropa jatuh dalam genggamamnya, menyusul kemudian setiap pojok negara Petrol Dolar di Timur Tengah. Tapi, seolah belum cukup, kini perhatiannya tertuju ke gerbang Kota Suci Mekkah. Abdelaziz Aouragh, pendiri dan pemilik toko, maaf, alat bantu seks atau kerap disebut sex toy ‘sesuai syariah’ El Asira, mengincar pasar yang lebih besar dan strategis di negara dengan populasi Muslim yang jauh lebih besar.

Tapi bagaimana jika, andai tertolak dari Mekkah, dia kemudian memutuskan mengubah haluan dan masuk ke Indonesia? Bakalkah MUI memberi label halal bila El Asira jadi buka cabang di Jakarta, misalnya?

Tak ada kejelasan dan semua ini pun baru sebatas spekulasi. Meski, bila mau jujur, tak dapat juga dipastikan MUI bakal serta-merta menolak, mengingat lembaga ini punya logikanya yang kontroversial, termasuk dalam soal pemberian label halal pada sebuah perusahaan fashion jilbab berbasis Bandung dan sebuah produk makanan kucing, yang beberapa bulan silam sempat menjadi bahan perbincangan hangat di Tanah Air.

Apapun itu, Aouragh, pria 35 tahun keturunan Maroko yang juga seorang penulis dan kolumnis surat kabar, bukan lah pebisnis yang mudah patah semangat. Ambisi agar produk syar’i El Asira dapat diakses oleh Muslim dan non-Muslim di seantero dunia, telah mendorongnya melangkah jauh dari awalnya nyaris suatu kemustahilan.

Dia membuktikannya sendiri lima tahun silam. Di Amsterdam, Belanda, menurut ceritanya ke The Independent belum lama ini, dialah orang pertama yang mendirikan “butik sensual” berbasis syariah, ketika tak ada seorang pun bahkan terpikir memulainya. Kini, cengkeram jejaring bisnisnya itu telah merambah ke lebih dari 30 negara di seluruh dunia, tak terkecuali beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Target pasar utamanya adalah “jantung Islam” di Mekkah, Arab Saudi, persis sebagaimana yang sejak awal diharapkannya menjadi titik pijak kokoh bagi geliat gurita bisnisnya ke negara mayoritas Muslim lainnya. Maklum, Mekkah adalah urat nadi perjalanan umat Islam di setiap musim haji.

Menolak perusahaan dan bisnis Halal Sex Shop miliknya dicap “toko seks”, Aouragh berdalih bisnisnya semata untuk membangun “jembatan peradaban” antara Timur dan Barat, yang jauh lebih mendasar. Lebih penting lagi, katanya, dari sisi spiritual tokonya ingin membangun keharmonisan hubungan antara pria dan wanita secara hakiki.

“Betapa banyak kehidupan seksual para pasangan hanya berfokus pada soal senggama, tanpa keinginan sadar dalam mengambil inisiatif guna saling menyenangkan dan membahagiakan satu sama lain, baik karena kurangnya waktu atau karena kelelahan,” katanya.

Itu sebabnya Aouragh lebih senang menyebut bisnisnya sebagai “butik kesenangan sensual” yang juga mengkhususkan diri dalam penyediaan aneka minyak dan krim pijat mewah yang tak menyalahi syar’i.

“Silakan saja dicek. Kami juga menyediakan produk yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan aktivitas hubungan suami-istri, meski kami juga punya beberapa produk khusus terkait hal itu,” tambah Aouragh seraya menyebut upayanya bukan tanpa dukungan ulama dan cendekiawan Muslim di Arab Saudi.

Menyebut bahwa sebelum memulai bisnisnya telah terlebih dahulu berkonsultasi kepada beberapa ulama dan ahli fikih kompeten tentang seksualitas dalam Islam, Aouragh ingin menunjukkan kepada dunia bahwa apa yang sedang dirintisnya adalah bisnis yang sepenuhnya halal. Bukan hanya itu, bahkan semua produknya kata Aouragh, dijamin mampu “memberikan makna yang lebih mendalam tentang apa itu seksualitas, sensualitas dan bahkan spiritualitas”.

Seperti klaim yang dimuat laman webnya, semua produk El Asira yang dijual secara online pun telah dinyatakan halal, yang berarti telah dijamin sesuai dengan hukum Islam.

“Semua produk kami mempertahankan integritas, kemanusiaan murni dan etika yang melekat dengan Syariah,” tulis laman web El Asira.

Makin berkembang pesat di Timur Tengah, El Asira saat ini telah membuka pusat distribusi barunya di Uni Emirat Arab untuk melayani Arab Saudi dan negara-negara Teluk.

Aouragh optimis bahwa ambisi utamanya untuk membuka toko di Mekkah bakal mudah terwujud karena ia merasa bahwa bisnis “butik sensual syar’i” tersebut secara filosofis sangat cocok berkembang di kota suci Islam itu. Karenanya, Aouragh berharap produknya dapat segera dipasarkan secara luas di Mekkah, paling tidak via 700an toko yang sudah mulai dibukanya di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, untuk mengantisipasi besarnya permintaam di kawasan itu.

“Meski jumlah ini secara persis belum sepenuhnya dapat dikonfirmasi, tetapi sekali lagi, apa yang tidak mungkin,” tambahnya. “Bukankah sebagian besar Muslim pasti akan berada di Mekkah saat musim haji? Bukankah kota suci ini pasti akan selalu dikunjungi jutaan umat Islam dari berbagai negara setiap tahunnya?”

Kepada AFP, Aouragh menyatakan siap menjual lebih dari 18 jenis mainan seks yang telah dianggap halal melalui perusahaan pemasarannya di Jerman, dengan kemungkinan juga dapat menyasar pasar global untuk mengakses 1,8 miliar Muslim.

Meski demikian, tak hanya demi tujuan bisnis, Aouragh—sembari menyoroti ketatnya pembatasan kebebasan perempuan di Arab Saudi terutama dalam hal berperilaku dan berpakaian, melalui El Asira mengatakan bahwa dia sedang berusaha untuk memberikan penyadaran dan pencerahan agar kaum pria di negara itu mulai “lebih mampu menunjukkan kekaguman dan cinta tulusnya kepada para wanita mereka” dengan meningkatkan “kehangatan” dalam hubungan perkawinan yang suci.

Nah, menilik tujuan dan niat ‘terpuji’ Aouragh, bisakah MUI merentang karpet merah berupa sertifikasi halal agar “butik kesenangan sensual yang sesuai syariah” ala El Asira tak terkendala beroperasi di Indonesia? []

 

EH & RQ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *