Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 26 November 2015

Abangan: Slametan Bersumber Ajaran Islam


IMG_2039

Oleh Parni Hadi

Slametan (selamatan) adalah ritual yang ditandai dengan kenduri dan sesaji kepada roh-roh penguasa sesuatu benda atau tempat yang dianggap sakral, “wingit”, angker atau ada penunggunya. Dalam masyarakat Jawa, roh penunggu itu disebut “sing mbaurekso” atau “danyang”. Artinya, yang berkuasa. Slametan disebut Clifford Geertz dalam “The Religion of Java” sebagai tradisi agama abangan yang dominan di masyarakat petani Jawa.

Sebagai anak petani yang dibesarkan di desa, saya membenarkan observasi Geertz itu. Sekitar 50 tahun lalu, saya saksikan petani setiap akan mulai membajak sawah, menanam dan memanen padi, mengadakan “slametan”. Juga waktu mau mendirikan bangunan rumah, khitan dan nikah. Kenduri bisa dilakukan di rumah, di sawah atau di “pundhen”( makam tokoh masyarakat yang dipercayai punya daya gaib).

Slametan, menurut Geertz, adalah ritual terpenting masyarakat abangan yang bertujuan menenangkan roh-roh untuk memperoleh keadaan slamet (selamat). Saya sering diundang kenduri slametan dan sejak awal berpendapat, itu ritual musyrik, tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tapi, anehnya, doa slametan selalu dimulai dengan bacaan basmalah. Yang memimpin doa selalu ditunjuk yang tertua dan bisa membaca doa bahasa Arab. Biasanya, Pak Modin, kepala urusan kerokhanian Islam, desa. Pemimpin doa diberi uang saku, yang disebut “binat”.

Doanya gabungan bahasa Jawa dan Arab. Untuk doa bahasa Jawa, peserta kenduri diminta untuk mengiyakan permohonan dengan mengatakan “inggih”. Untuk doa bahasa Arab dengan “amien”. Yang disebut dalam doa mulai dari Gusti Allah, Kanjeng Nabi Muhammad, sahabat Rasulullah, Syech Abdul Kadir Jaelani sampai “Yang Mbaurekso” atau “Ki Danyang, Nyai Danyang”.

Sedoyo disuwun berkahipun, mugi niat Pak Anu (yang punya hajat), kabul” (Semua, dimintai berkah agar niat yang punya hajat terkabul)”, kata pemimpindoa, yang diaminkan hadirin. Kalau pendoa tidak fasih berbahasa Arab, Bismillah kedengaran diucapkan “(bi)Semilah” dan Mohammad sebagai Mokamad. “Tuhan tahu maksudnya, yang penting niatnya”, kilahnya. Bagi saya, yang penting “berkat” nya, yakni nasi dan lauk pauk yang dibagi untuk disantap sedikit dan kemudian dibungkus daun pisang dan dibawa pulang (ikut makan lagi).

Belakangan, saya berpendapat bahwa slametan adalah bagian dari upaya perbaikan gizi di masyarakat petani pedesaan. Alasannya, apa yang disajikan untuk kenduri adalah menu terbaik (nasi putih, ayam panggang, daging, tahu, tempe dan buah pisang dengan kwalitas terbaik). Menu itu jarang dijumpai dalam hidangan harian.  

Trikotomi Geertz: santri, abangan dan priyayi, terutama dikotomi santri dan abangan, dikritik sejumlah peneliti, anthropolog dan sejarahwan Islam baik dari Indonesia maupun asing. Di samping Marshall Hogson, Mitsuo Nakamura, seorang antropolog Jepang dan peneliti Islam Indonesia, juga mengeritik trikotomi itu. Semua itu dikupas tuntas dalam buku “Memahami Islam Jawa” karya Prof. Dr. Bambang Pranowo, guru besar antropologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Menurut Nakamura, slametan adalah istilah dan bersumber pada ajaran Islam. Ia berpendapat, slamet berasal dari kata Arab, salam, yang berarti damai. Salam berasal dari kata salima, yang berarti lebih baik. Konsep slametan bukan bersifat Hindu-Bunddha atau animistik.

Prof. Kuntjaraningrat, bapak antropologi Indonesia, menanggapi isyu slametan yang diangkat Geertz, mengatakan slametan dilakukan baik oleh abangan maupun santri, terutama yang diistilahkan dengan kaum kolot atau konservatif.

Kini slametan populer disebut “syukuran” dan kenduri dimaknai sebagai “sedekahan”, tanda mensyukuri nikmat Allah. [] 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *