Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 16 February 2017

Sikap Kiai Arwani Amin Kudus Saat Dihina


Sikap Kiai Arwani Amin Kudus Saat Dihina

islamindonesia.id – Sikap Kiai Arwani Amin Kudus Saat Dihina

 

Dalam pengajian Tafsir Jalalain belum lama ini, Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al-Mubarok menceritakan salah satu kisah kehidupan KH Arwani Amin Kudus.

Ia menerangkan, seusai menghadiri pembukaan thoriqoh yang baru saja didirikan oleh KH Arwani Amin Kudus, KH Manshur Maskan, murid kesayangan Kiai Arwani melihat tulisan yang mengusik hatinya.

“Arwani Edan”. Ya, begitulah tulisan yang tertera melekat di atas tembok di pinggiran jalan.

Melihat tulisan yang masih basah itu, Kiai Manshur lantas bergegas matur kepada Kiai Arwani untuk meminta izin menghapus tulisan orang tak bertanggung jawab tersebut. Namun, apa yang justru dikatakan Kiai Arwani?

“Ojo dibusak disik, ben aku weruh disik. Ben wong sing nulis iku puas. Onone wong kui nulis, mergo nduwe tujuan ben tak woco. Wes jarke disik. Ngko nak aku wes weruh, hapusen.”

(Jangan dihapus dulu, agar orang yang menulis puas. Adanya orang itu nulis karena memiliki tujuan agar saya baca. Sudah biarkan saja dulu. Nanti kalau saya sudah melihat, hapuslah).

Itulah sikap yang ditunjukkan Kiai Arwani selaku ulama panutan umat yang layak disebut sebagai pewaris para Nabi. Alih-alih membalas keburukan dengan amarah, dengan sifat kelembutannya beliau memilih sikap yang lebih pantas, yakni dengan memberikan teladan tentang betapa mulianya sikap menahan diri. Di sisi lain, terdapat pula pelajaran secara tidak langsung kepada siapapun yang berbuat keburukan agar segera sadar dari kekhilafan, setelah mengetahui bahwa orang yang dituduhnya gila, tidaklah seperti anggapan dan penilaiannya.

Lebih jauh dari itu, mungkin itulah cara yang memang sepantasnya dilakukan oleh para ulama dalam mengharapkan ridha Tuhan, dengan membuat dirinya ridha, tetap sabar, lapang dada atau legawa atas penghinaan dan celaan dari sesama makhluk-Nya. Sehingga dirinya tidak terjerumus pada perilaku buruk serupa.

Hal ini sebagaimana pernah diriwayatkan bahwa suatu ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mendengar seseorang mencela salah seorang bernama Qumbur. Lalu Qumbur berdiri untuk menanggapinya. Saat itulah Ali justru memanggilnya dan berkata kepada Qumbur, “Tunggu dulu wahai Qumbur. Biarkan pencelamu memaki supaya engkau menyenangkan Sang Maha Pengasih, menyakitkan setan dan membalas musuhmu. Sesungguhnya demi Dia yang merekahkan biji, tidak ada (sikap) Mukmin yang menyenangkan Tuhan melebihi hilm (menahan diri), lebih menyakitkan setan daripada anteng dan lebih membalas orang ahmaq daripada diam.”

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *