Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 16 May 2018

Pesantren al-Hidayah: Pusat Deradikalisasi Anak-Anak Mantan Teroris


40145170_304

islamindonesia.id – Pesantren al-Hidayah: Pusat Deradikalisasi Anak-Anak Mantan Teroris

 

 

 

Dalam kurun waktu satu minggu terakhir, kita dikejutkan oleh serangkaian aksi terorisme yang mengguncang Jakarta dan Surabaya. Tentu saja rentetan kejadian ini menoreh luka bagi kita semua. Terlebih pada aksi terorisme di Surabaya, pelakunya dikabarkan merupakan satu keluarga, termasuk istri dan anak-anak. Bagi bangsa Indonesia, serangan teror bukan hal baru. Tapi metode aksi dengan melibatkan eksekutor satu keluarga, baru kali ini terjadi. Fenomena ini jelas menggugat nalar kemanusiaan kita. Bagaimana seorang anak, yang sedang di usia bermain, bisa terlibat dalam aksi sekeji ini?

Kedudukan pesantren bagi bangsa Indonesia sangat vital. Inilah sistem dasar yang menopang rangka bangun kebudayaan, sistem sosial dan nilai-nilai religiusitas dalam diri masyarakat nusantara. Berdasarkan data dari Bagian Data, Sistem Informasi, dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, pada tahun 2016 terdapat 28,194 pesantren yang tersebar baik di wilayah kota maupun pedesaan dengan 4,290,626 santri.[1]

Diantara jumlah tersebut, terdapat satu model pesantren yang terbilang unik, yaitu Pesantren Al-Hidayah yang berada di Deli Serdang, Sumatera Utara. Karena pesantren ini memang dikhususkan untuk mendidik putra-putri mantan teroris dengan tujuan menjauhi mereka dari paham radikal.

Yang lebih menarik, pesantren ini didirikan oleh mantan pelaku teroris bernama Khairul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin. Ia adalah salah satu pelaku perampokan Bank CIMB Niaga, di Jln. Aksara, Medan pada Agustus 2010 silam.[2] Rencananya, dana hasil rampokan ini akan digunakan untuk membiayai aksi terorisme kelompoknya.

Khairul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin, sosok pendiri Pesantren Al Hikmah. Sumber poto: dw.com

Khairul Ghazali alias Abu Ahmad Yasin, sosok pendiri Pesantren Al Hikmah. Sumber poto: dw.com

Atas kejahatannya tersebut, dia dijatuhi hukuman enam tahun penjara oleh pengadilan. Namun setelah menjalani hukuman penjara selama empat tahun dua bulan, Ghazali mendapat pembebasan bersyarat. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius menilai Ghazali “sepenuhnya berubah” dan telah kembali ke jalan yang benar. “Negara harus mendukungnya karena orang tidak menjadi radikal dalam sehari atau dua hari, tapi melalui proses panjang. Jadi program deradikalisasi juga butuh waktu yang lama,” katanya.[3]

Khoirul Ghazali menghirup udara bebas pada tahun 2015. Salah satu keprihatinannya ketika itu adalah nasib anak-anak mantan teroris yang sebagiannya tidak lain adalah kolega-koleganya. Sebagian dari anak-anak ini pernah menyaksikan ayahnya tewas di tangan Densus 88. Beberapa lainnya ada yang harus hidup sebatang kara setelah ditinggal orang tuanya ke penjara. Di samping itu, anak-anak ini mengalami sanksi sosial yang sangat keras. Mereka dijauhi dan dikucilkan oleh teman-teman sepermainannya dan masyarakat sekitar.

Salah satu contoh adalah Abdullah. Ia bersama kedua adiknya dikirim oleh sang ibu ke Pesantren al-Hidayah setelah kerap mengalami perundungan di sekolah. “Saya berhenti di kelas tiga dan harus hidup berpindah,” ujarnya. “Saya dikatai sebagai anak teroris ketika ayah saya di penjara. Saya sangat sedih.” Pengalaman tersebut berbekas pada bocah berusia 13 tahun itu.[4]

Sebelum resmi menjadi pesantren seperti sekarang, Ghazali memulai ikhtiarnya dengan mendirikan semacam majelis pengajian di atas tanah seluas 7000 M2 di Dusun IV, Desa Sei Mencirim, Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatera Utara. Majelis ini kemudian berkembang dan ia beri nama Pesantren Darusy Syifaa.[5] Ketika itu baru ada satu rumah sekaligus kantor pesantren, musholah, rumah kecil semi-permanen yang dijadikan tempat tinggal santri, dan 3 pondok gazebo beratap rumbia yang digunakan untuk belajar.[6]

Awal pendirian Pesantren Darusy Syifaa yang merupakan cikal bakal Pesantren Al HIkmah. Sumber poto: sumatera.metrotvnews.com

Awal pendirian Pesantren Darusy Syifaa yang merupakan cikal bakal Pesantren Al HIkmah. Sumber poto: sumatera.metrotvnews.com

Untuk mengatasi keterbatasan pula, Pesantren Darusy Syifaa menggunakan konsep sekolah alam. Para santri berjubah putih dan sorban belajar di gazebo berukuran sekitar 3×3 meter yang sengaja ditempatkan di bawah pepohonan di tepi sawah dan kolam ikan. Mereka harus melewati jalan kecil dan pematang kolam untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar.[7]

Awal pendirian Pesantren Darusy Syifaa yang merupakan cikal bakal Pesantren Al HIkmah. Sumber poto: sumatera.metrotvnews.com

Awal pendirian Pesantren Darusy Syifaa yang merupakan cikal bakal Pesantren Al HIkmah. Sumber poto: sumatera.metrotvnews.com

Tapi karena visinya yang tidak biasa, keberadaan persantren ini menarik minat banyak wartawan untuk meliputnya. Sehingga bantuan dan dukunganpun mulai banyak berdatangan baik dari pemerintah maupun swasta. Dukungan paling besar justru datang dari BNPT yang sangat menyambut baik berdirinya pesantren ini. BNPT bahkan ikut membantu membangun pesantren ini.

Kunjungan Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius, ketika memberikan bantuan dan sekaligus meresmikan Pesantren Darus Syifaa tahun 2016. Sumber gambar: news.detik.com

Kunjungan Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius, ketika memberikan bantuan dan sekaligus meresmikan Pesantren Darus Syifaa tahun 2016. Sumber gambar: news.detik.com

Tantangan yang dihadapi oleh Khairul Ghazali pada awal memulai pesantren ini datang dari masyarakat setempat. Banyak dari mereka yang curiga dengan didirikannya pesantren yang menampung anak-anak mantan teroris tersebut. Reaksi yang timbul juga beragam, mulai dari papan nama yang dibakar hingga laporan ke kepolisian. Beruntung ketika itu, pesantrennya dilindungi oleh kepolisian karena sudah menjadi bagian dari program deradikalisasi pemerintah.

Tantangan dari dalam juga tak kalah berat. Awalnya, kata Ghazali, cukup sulit mengubah paradigma anak-anak para teroris yang menjadi santrinya. Mereka sangat membenci polisi. Namun, seiring berjalannya waktu, sikap itu berubah. Di pesantren inilah mereka diajarkan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin bukan agama yang mengajarkan kebencian dan kekerasan.[8]

Pada 24 Februari 2017, akhirnya Pesantren Darusy Syifaa secara resmi berganti nama menjadi Pesantren Al Hikmah. Peresmian pesantren tersebut dilakukan langsung oleh Suhardi Alius Kepala BNPT, dan  Gubernur Sumatera Utara, H. Tengku Erry Nuradi.[9] Pesantren Al Hidayah sekarang sudah memiliki Masjid, kelas belajar dan sejumlah fasilitas yang jauh lebih memadai dari sebelumnya.

Gubernur Sumatera Utara, H. Tengku Erry Nuradi bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komjen Pol Suhardi Alius, ketika meresmikan Masjid Al Hidayah di Pondok Pesantren Al Hidayah di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, 24 Februari 2017. Sumber poto: analisadaily.com

Gubernur Sumatera Utara, H. Tengku Erry Nuradi bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komjen Pol Suhardi Alius, ketika meresmikan Masjid Al Hidayah di Pondok Pesantren Al Hidayah di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, 24 Februari 2017. Sumber poto: analisadaily.com

Sejak didirikannya, Pesantren Al-Hidayah acap disambangi tokoh masyarakat, entah itu pejabat provinsi atau perwira militer dan polisi. Bahkan pejabat badan antiterorisme Belanda pernah menyambangi pesantren milik Ghazali buat menyimak strategi lunak (soft power strategy) Indonesia melawan radikalisme.

Suasana belajar mengajar di Pesantren Al Hidayah. Sumber poto: dw.com

Suasana belajar mengajar di Pesantren Al Hidayah. Sumber poto: dw.com

 

Aktifitas di dalam Masjid Al Hikmah. Sumber poto: dw.com

Aktifitas di dalam Masjid Al Hikmah. Sumber poto: dw.com

Sekarang, sebanyak 20 santri yang merupakan anak-anak mantan teroris mengenyam pendidikan di sini. Tapi menurut Ghazali, jumlah ini amat kecil dan belum memuaskan. Saat ini terdapat lebih dari 2.000 putra atau putri jihadis yang telah terbunuh atau mendekam di penjara. Menurutnya mereka terancam terseret menjadi gerilayawan baru dalam jihadisme berdarah di Indonesia.[10] (AL)

Catatan kaki:

[1] Lihat, http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/11/30/p088lk396-pertumbuhan-pesantren-di-indonesia-dinilai-menakjubkan, diakses 6 Fabruari 2018

[2] Lihat, https://www.merdeka.com/foto/peristiwa/749793/20160903183920-mengunjungi-pesantren-untuk-anak-anak-teroris-di-deli-serdang-004-isn.html, diakses 6 Fabruari 2018

[3] Lihat, http://www.dw.com/id/pesantren-al-hidayah-didik-putra-teroris-jauhi-faham-radikal/a-39929541, diakses 6 Fabruari 2018

[4] Ibid

[5] Lihat, http://sumatera.metrotvnews.com/peristiwa/4KZX5Lwb-mengintip-pesantren-anak-teroris-di-deli-serdang, diakses 6 Fabruari 2018

[6] Lihat, https://www.merdeka.com/foto/peristiwa/749793/20160903183921-mengunjungi-pesantren-untuk-anak-anak-teroris-di-deli-serdang-005-isn.html, diakses 6 Fabruari 2018

[7] Lihat, http://sumatera.metrotvnews.com/peristiwa/4KZX5Lwb-mengintip-pesantren-anak-teroris-di-deli-serdang, Op cit

[8] Ibid

[9] Lihat, http://waspada.co.id/sumut/gubsu-dan-kepala-bnpt-resmikan-masjid-di-pesantren-mantan-teroris/, diakses 6 Februari 2018

[10] Lihat, http://www.dw.com/id/pesantren-al-hidayah-didik-putra-teroris-jauhi-faham-radikal/a-39929541, Op Cit

 

 

 

AL/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *