Satu Islam Untuk Semua

Friday, 16 November 2018

Peristiwa-peristiwa pada Kelahiran Nabi Muhammad


Maulid Nabi

islamindonesia.id – Peristiwa-peristiwa pada Kelahiran Nabi Muhammad

 

Hampir seluruh negara berpenduduk Islam di dunia menyelenggarakan acara Maulid Nabi setiap tahunnya, bahkan menjadikannya sebagai hari libur nasional. Hanya ada beberapa negara saja yang enggan melaksanakan maulid, mereka yaitu Arab Saudi, dan Afghanistan ketika di bawah Taliban.

Di Yaman, walaupun ada aliran Salafi garis keras Man’had Darul Hadits Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I di daerah Dammaj, namun pada prakteknya di daerah lain, di daerah para Habib justru Maulid Nabi diselenggarakan dengan semarak.  Yaman adalah “surga” Maulid bagi para pendukung kegiatan ini, sebagaimana dikutip dari buku karya AM. Waskito, Pro dan Kontra Maulid Nabi.

Sementara itu ada beberapa perbedaan pendapat mengenai tanggal pasti kelahiran Nabi Muhammad SAW, menurut ahli astronomi, Mahmud Basya, tanggal lahir yang tepat adalah 9 Rabi’ul-Awwal 571 M. Namun bagi mayoritas ulama Sunni, Nabi lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Sedangkan bagi mayoritas ulama Syiah, Nabi lahir pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal.

Di Indonesia sendiri, Maulid Nabi diselenggarakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, yang mana pada tahun 2018 ini jatuh pada tanggal 20 November. Bagi siapapun yang hendak memperingatinya, ada kisah menarik tentang peristiwa-peristiwa menjelang dan setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Berikut ini adalah kisahnya.

 

Peristiwa-peristiwa pada Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Di tengah keluarga Bani Hasyim di Mekkah pada Senin pagi, pada permulaan tahun dari peristiwa penyerangan pasukan gajah, dan empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan, atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M seorang Ibu hamil yang bernama Aminah hendak melahirkan.

Merujuk kepada kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami  Asy-Syafii sebagaimana dilansir dari NU online, pada waktu itu sang Ibu sendirian, sebab suaminya, Abdullah, telah wafat hampir 6 bulan sebelumnya. Sementara itu, kakek dari calon bayi yang hendak dilahirkan itu, Abdul Muthalib, tengah bermunajat ke Ka’bah.

Tidak ada orang yang menemaninya. Di dalam kesendiriannya, Aminah menangis karena tidak ada satu orang pun yang menemani dan membantunya – pada saat-saat dia hendak melahirkan.

Di tengah kegalauannya itu, tiba-tiba saja muncul empat orang perempuan di dalam rumah Aminah. Mereka begitu cantik, anggun, harum, dan diliputi dengan cahaya yang memancarkan kemilauan. Wanita pertama datang menghampiri Aminah. Dia kemudian berkata kepada Aminah: “Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah!”

Wanita itu melanjutkan, mengatakan bahwa Aminah adalah perempuan yang paling beruntung dan mulia di dunia ini karena telah mengandung Muhammad, pemimpin setiap insan. Wanita ini kemudian duduk di sebelah kanan Aminah.

“Siapa engkau?” tanya Aminah

“Kenalkan, aku adalah Hawa, istri Nabi Adam, ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah untuk menemanimu,” jawabnya.

Wanita kedua juga mendekat kepada Aminah. Kurang lebih sama, dia menyampaikan pujian kepada Aminah, sebagaimana Hawa. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan dari pada Aminah. Aminah mengandung Nabi Muhammad, seseorang yang begitu istimewa, mulia, agung, cerdas, dermawan, dan sangat berwibawa, katanya.

Setelah ditanya Aminah, dia menjawab bahwa dirinya adalah Sarah, istri Nabi Ibrahim. Dia juga diperintah Allah untuk menemani proses kelahiran Nabi Muhammad. Sarah kemudian duduk di sebelah kiri Aminah.

Giliran wanita ketiga yang menghampiri Aminah. Dia mengatakan kalau Aminah begitu beruntung karena telah mengandung kekasih Allah. Setelah menyampaikan pujiannya, dia kemudian duduk di belakang Aminah.

Lagi-lagi Aminah bertanya siapa gerangan dirinya. Wanita tersebut kemudian menjawab kalau dirinya adalah Asiyah binti Muzahim. Dia juga diutus Allah untuk menemani Aminah.

Kini wanita terakhir yang maju mendekat Aminah. Sama seperti wanita-wanita sebelumnya, wanita keempat ini juga menyanjung Aminah sebagai wanita yang sangat beruntung karena telah mengandung Nabi Muhammad. Seseorang yang dianugerahi Allah banyak mukjizat. Seseorang yang menjadi junjungan seluruh penghuni bumi dan langit.

Wanita itu lalu duduk di depan Aminah. Aminah semakin kagum karena wanita keempat ini lebih anggun, berwibawa, dan cantik. Dia meminta agar Aminah untuk tersenyum, tidak lagi menangis.

“Sesungguhnya aku adalah Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa,” katanya.

Aminah menjadi tenang dan damai setelah ditemani oleh wanita-wanita mulia tersebut. Pada saat tanda-tanda kelahiran sudah dirasakan, Aminah menyandarkan tubuhnya kepada empat wanita utama tersebut.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy, sebagaimana dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, pada saat kelahiran Nabi Muhammad SAW sepuluh balkon istana Kisra runtuh, api yang disembah kaum Majusi padam, gereja-gereja di sekitar Buhairah amblas ke tanah dan kemudian runtuh. Ibnu Sa’d meriwayatkan, Aminah, ibunda Rasulullah, berkata, “Setelah bayiku keluar, aku melihat ada cahaya yang keluar dari kemaluanku, menyinari istana-istana di Syam.”

 

PH/IslamIndonesia/Gambar: Alexis Lumbard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *