Satu Islam Untuk Semua

Friday, 17 August 2018

Palestina Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia


Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini (bersorban), dan Muhammad Ali Taher, pemimpin Palestina (di kirinya) bersama-sama Pemimpin Panitia Pusat, setelah berhasil lolos dari Kairo dari penangkapan Sekutu di Eropa dan mendapat perlindungan dari Raja Faruk. Sumber gambar: Hamid Nabhan, Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan, Lamongan, PAGAN PRESS, 2018, hal. 73

islamindonesia.id – Palestina Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia

 

Terdapat setidaknya empat syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi sebuah negara berdaulat, yaitu; wilayah yurisdiksi, penduduk, pemerintahan yang legitimate, dan adanya pengakuan dunia internasional. Pada saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika Bung Karno mendeklarasikan berdirinya Republik Indonesia, kita sudah memenuhi setidaknya tiga kriteria pertama. Lalu, Negara mana saja yang pertama-tama mengakui kemerdekaan Indonesia?

Dalam salah satu buku Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan, karya Hamid Nabhan, yang diterbitkan baru-baru ini, disebutkan bahwa setidaknya 10 negara pertama yang menyatakan dukungannya dan mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, adalah negara-negara Islam di kawasan Afrika dan Timur Tengah.  Negara-negara tersebut adalah; Palestina, Mesir, Libanon, Siria, Irak, Saudi Arabia, Yaman juga menyusul Afganistan, Iran dan Turki.

Dikisahkan oleh Hamid Nabhan, pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan nya, tapi dunia internasional belum ada yang mengakui kemerdekaan tersebut, padahal pengakuan dunia internasional adalah syarat bagi eksistensi sebuah negara. Ketika itu, wilayah Indonesia terjadi kekosongan kekuasaan setelah jepang menyerah pada Sekutu. Tapi di saat yang sama, pasukan Sekutu akan mendarat dengan membawa pasukan Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia. Maka pengakuan dunia internasional menjadi satu hal yang paling urgent dibutuhkan pada saat itu.

Menariknya, pengakuan dari negara-negara Arab ini justru di mulai dari Palestina yang diwakili oleh Mufti Besar Bangsa Palestina Sayyid Muhammad Amin Al Husaini yang diucapkan langsung dari Radio Berlin berbahasa Arab dan juga lewat Harian Al-Ahram yang turut memberitakan pengakuan kemerdekaan Indonesia.

Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini. Sumber gambar: Hamid Nabhan, Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan, Lamongan, PAGAN PRESS, 2018, hal. 72

Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini. Sumber gambar: Hamid Nabhan, Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan, Lamongan, PAGAN PRESS, 2018, hal. 72

 

Menurut Hamid Nabhan, pengakuan Palestina ini sebenarnya sudah dilakukan secara de facto setahun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya di tahun 1944 yang bertepatan dengan janji manis yang dikeluarkan Jenderal Kuniaki Koiso (Perdana Menteri Jepang) untuk memberi kemerdekaan terhadap Indonesia. Mufti Besar Palestina Sayyid Muhammad Amin Al Husaini adalah sosok yang mewakili Palestina memberikan pengakuan tersebut, serta menyebarluaskan berita tersebut ke seluruh dunia.

Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini (bersorban), dan Muhammad Ali Taher, pemimpin Palestina (di kirinya) bersama-sama Pemimpin Panitia Pusat, setelah berhasil lolos dari Kairo dari penangkapan Sekutu di Eropa dan mendapat perlindungan dari Raja Faruk. Sumber gambar: Hamid Nabhan, Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan, Lamongan, PAGAN PRESS, 2018, hal. 73

Mufti Besar Palestina M. Amin Husaini (bersorban), dan Muhammad Ali Taher, pemimpin Palestina (di kirinya) bersama-sama Pemimpin Panitia Pusat, setelah berhasil lolos dari Kairo dari penangkapan Sekutu di Eropa dan mendapat perlindungan dari Raja Faruk. Sumber gambar: Hamid Nabhan, Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan, Lamongan, PAGAN PRESS, 2018, hal. 73

 

Pengakuan kemerdekaan ini kemudian diikuti oleh Mesir yang diwakili oleh Konsul Jenderal Mesir di Mumbai India Muhammad Abdul Mun’im yang datang di ibukota RI Yogyakarta. Mun’im yang datang sebagai utusan Liga Arab yang ingin kemerdekaan Indonesia dan pada tanggal 16 Maret 1947 berangkatlah delegasi diplomatik Indonesia ke Mesir melalui Mumbai. Delegasi RI itu adalah H. Agus Salim (Ketua), HM Rasjidi, Nazir ST, Abdul Kadir dan AR Baswedan.

Bung Hatta bersama pemimpin-pemimpin Arab. Di kirinya Emir Abdulkarim Maroka dan wakil Aljazair, Syagli Makki, dan di kanannya Mufti Besar Palestina M.A. Husaini dan seorang Palestina lainnya dan di ujung kiri Emir Muhammad, adik Emir Abdulkarim yang sama-sama meloloskan diri di Zues dari kapal Perancis dan kemudian dilindungi oleh Raja Faruk. Semua pemimpin-pemimpin Arab itu lari dari jaringan Perancis dan Inggris dan mendapat perlindungan dari Raja Faruk. Sumber gambar: Hamid Nabhan, Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan, Lamongan, PAGAN PRESS, 2018, hal. 72

Bung Hatta bersama pemimpin-pemimpin Arab. Di kirinya Emir Abdulkarim Maroka dan wakil Aljazair, Syagli Makki, dan di kanannya Mufti Besar Palestina M.A. Husaini dan seorang Palestina lainnya dan di ujung kiri Emir Muhammad, adik Emir Abdulkarim yang sama-sama meloloskan diri di Zues dari kapal Perancis dan kemudian dilindungi oleh Raja Faruk. Semua pemimpin-pemimpin Arab itu lari dari jaringan Perancis dan Inggris dan mendapat perlindungan dari Raja Faruk. Sumber gambar: Hamid Nabhan, Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan, Lamongan, PAGAN PRESS, 2018, hal. 72

 

Dari Mesir, rombongan berangkat ke Lebanon, dan Lebanon pun mengakui kemerdekaan Indonesia. Lalu Haji Agus Salim memerintahkan Rasjidi untuk melanjutkan misi ke Saudi Arabia. Sedang AR Baswedan dan anggota delegasi lain diperintahkan pulang ke tanah air untuk menyerahkan dokumen dari Mesir dan Lebanon. Rasjidi berangkat ke Saudi menemui Raja Abdul Aziz Al-Saud dan mendapat simpati serta sambutan yang sangat luar biasa dari kerajaan Saudi Arabia.

Raja Abdul Aziz berkata ,”Nahnu laa nata akhkharu” (kami tidak akan ketinggalan) untuk memberikan dukungan dan pengakuan untuk Indonesia. Maka di istana raja, Raja Abdul Aziz menyerahkan surat pengakuan kerajaan Saudi Arabia terhadap kemerdekaan RI, peristiwa yang sangat bersejarah itu terjadi pada tanggal 24 November 1947. Lalu pengakuan kemerdekaan RI mengalir dari negara-negara Arab yang lain seperti Syria, Iraq dan Yaman.

Terkait dengan dukungan bangsa Palestina, mereka tidak hanya sekedar memberikan pernyataan ataupun pengakuan semata. Tapi juga bantuan konkrit seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali Thahir, saudagar kaya Palestina, yang saat itu menyerahkan uangnya di Bank Arabia dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.”

Tak heran jika kita bangsa Indonesia selalu ada untuk membela kemerdekaan Palestina dan memenangkan perjuangan mereka.

 

AL/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *