Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 21 May 2016

KISAH NYATA—Nenek Renta Penjaga Tuah Harkitnas


Fakta Non Verba dan Budi Utama

IslamIndonesia.id–Nenek Renta Penjaga Tuah Harkitnas

 

Tahun ini, genap 81 tahun usia Murtiningrum. Terhitung sejak tahun 1951, sudah 65 tahun dia lakoni wasiat sang ayah untuk mengikuti jejaknya selaku juru pelihara makam. Dan baru setelah 44 tahun berlalu, atau tepatnya sejak 1995 silam, pemerintah mulai memberikan imbalan—itu pun dengan jumlah ala kadarnya, kepada Murtiningrum atas jasanya itu.

Makam siapa yang dijaganya penuh khidmat itu? Setelah 44 tahun bertugas ikhlas tanpa diupah sepeser pun, apakah dia yang hidup sebatang kara itu pernah mengeluh?

Hingga saat ini hampir tiap saat nenek renta berkacamata tebal ini duduk bersimpuh di pemakaman; menjalankan tugasnya, meneruskan jejak perjuangan sang ayah dengan setia: menjaga dan merawat pusara pahlawan pergerakan nasional, dr. Soetomo.

Senyumnya selalu mengembang tiap menyambut tetamu yang datang. Di usianya yang tergolong senja, kesabaran dan ketelatenannya tetap luar biasa dalam menjelaskan siapa sosok Pak Tom—panggilan khasnya untuk dr. Soetomo, kepada para peziarah yang ingin mengetahui lebih jauh sejarah hidup pendiri Budi Utomo, yang tiap tanggal 20 Mei dikenang kembali dalam momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional itu.

***

Minggu, 30 Juli 1888, 128 tahun silam, di sebuah dusun di Nganjuk, Jawa Timur, bayi Soebroto lahir. Dialah yang oleh neneknya kelak diganti namanya menjadi Soetomo saat hendak mendaftar di sekolah Belanda (Koropose Lagere School) Bangil. Nama Soebroto, yang kala itu dianggap nama biasa dari keluarga tak terpandang, diyakini keluarganya akan menjadi penghalang untuk masuk ke sekolah tersebut. Itulah sebabnya kenapa Soebroto terpaksa berganti nama menjadi Soetomo, nama yang disandangnya hingga dewasa.

Lulus dari KLS Bangil, Soetomo memilih melanjutkan pendidikannya ke sekolah calon dokter, STOVIA di Jakarta hingga tahun 1911. Selang 8 tahun kemudian, tepatnya tahun 1919 dr. Soetomo melanjutkan studinya ke Amsterdam Belanda.

Lalu apa yang dilakukan dr. Soetomo selama 8 tahun sebelum berangkat ke negeri Kincir Angin itu?

Saat itulah tugas mulianya sebagai “dokter keliling” dimulai. Bukan hanya berpindah-pindah di seputar wilayah Jawa, melainkan hingga ke luar Jawa. Berawal tahun 1911 bertugas di Stadeverband Semarang, tahun 1912 dipindahkan ke Tuban, tahun 1913 bertugas di Lubuk Pakam (Sumatra), tahun 1914 pindah ke Kepanjen (Malang Selatan), tahun 1916 ditugaskan memberantas penyakit pes di Magetan, tahun 1917 dipindahkan lagi ke daerah Blora sambil diperbantukan di Zendings Hospital, dan pada tahun 1918 ditugaskan ke Baturaja (Sumatra). Dimulai tahun 1919, setelah 4 tahun studinya di Belanda, bulan Juni 1923 dr. Soetomo kembali ke Tanah Air dan ditempatkan di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) sekolah untuk pendidikan dokter pribumi pada zaman kolonial Hindia-Belanda di Surabaya.

Dari perjalanan tugasnya sebagai “dokter keliling” ini, ada hal yang patut diteladani generasi muda, khususnya para dokter di masa kini. Karena seperti cerita Murtiningsih, saat itulah dengan ikhlas dr. Soetomo tak segan menolong pasiennya secara cuma-cuma, tanpa dibayar. Prinsipnya bagi dr. Soetomo, kepentingan umum mesti didahulukan dari kepentingan pribadi. Apalagi bila mengingat tujuan hidup yang selalu dipegangnya dengan teguh, yaitu kemerdekaan dan kemuliaan bangsanya.

Tak heran, selain menjalankan tugas utamanya sebagai dokter dengan sepenuh hati, dr. Soetomo juga dikenal aktif dalam perkumpulan atau pergerakan Budi Utomo yang dibentuknya semasa di STOVIA dulu.

Hal menarik lain yang patut dicatat dan mengagumkan adalah semboyan Fakta Non Verba yang menjadi prinsip hidupnya. Dengan prinsip itu, dr. Soetomo yakin bahwa bukti atau fakta perbuatan kita lah yang lebih utama daripada sekadar kata-kata. Dan hal itulah yang selama ini telah berhasil dibuktikannya.

Sebagai seorang profesional, dia sangat menjunjung tinggi serta paham sepenuhnya tanggung jawab yang dibebankan di pundaknya selaku dokter. Sementara sebagai manusia, bagian tak terpisah dari masyarakatnya, dia tak mungkin melupakan tugas sosialnya. Karena itulah, selain bekerja di Rumah Sakit Umum dan NIAS, dr. Soetomo juga sering menerima pasien serta membantu banyak orang dari berbagai kalangan di luar jam kerjanya, tanpa memandang pangkat dan derajat, baik kaya maupun miskin. Baginya, semua manusia adalah ciptaan Tuhan. Maka tak ada alasan apapun untuk membeda-bedakan mereka. Dia akan merasa senang saat pasiennya senang dan akan sangat sedih apabila pasiennya susah.

Itulah salah satu wujud dan cerminan makna hidup “mengutamakan budi mulia” sebagaimana semangat pendirian Budi Utomo. Prinsip luhur yang di masa kini, menurut Murtiningsih seolah mulai hilang perlahan terkikis zaman.

Tak hanya itu saja, hal lain yang menambah keprihatinan juru pelihara makam dr. Soetomo itu, adalah makin minimnya penghargaan generasi muda kini pada pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang di masa pra kemerdekaan dulu.

Saat ini, betapa banyak kemegahan dan semarak peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang semata mementingkan sisi seremonial belaka. Tak berlangsung lama, lewat sehari dua hari, paling lama sepekan berlalu dari tanggal 20 Mei pun, kadang bangsa kita sudah lupa bahwa mereka baru saja memperingati momen bersejarah Kebangkitan Nasionalnya. Jika hal demikian terus berlangsung, bagaimana Indonesia bakal mampu benar-benar bangkit sebagaimana dicita-citakan para pahlawan yang telah dengan ikhlas mengorbankan jiwa-raga mereka?

“Saya berharap agar momen kebangkitan nasional bukan hanya diperingati secara seremonial belaka, tetapi hendaknya dapat dijadikan sebagai momen instropeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini,” harap putri dari murid kesayangan dr. Soetomo itu.

Dalam pandangan Murtiningsih, nilai yang diteladankan dr. Soetomo di bidang politik, pendidikan dan kebudayaan, juga pengorbanan tanpa pamrih saat melawan penjajah, semua itu kini diambang kehancuran. Penyebabnya adalah moral pemimpin dan rakyat yang tak lagi mulia seperti pernah diajarkan oleh dr. Soetomo dan kawan-kawan saat mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908, 108 tahun silam.

“Kehancuran bangsa ini diawali oleh budi pekerti dan moral yang tidak utama, tidak lagi mulia. Padahal, Budi Utomo mengajarkan budi pekerti mulia sebagai yang utama,” pungkas juru pelihara makam dr. Soetomo itu.

Apa yang dapat kita pelajari lewat penuturan sekaligus teladan pengabdian yang telah dibuktikan nenek renta berusia 81 tahun itu?

Selain pemenuhan wasiat ayahnya sebagai amanah, keihklasan menjaga dan merawat pusara sekaligus semangat perjuangan dr. Soetomo,  bukankah apa yang dituturkan Murtiningsih, sebagai prinsip hidup dr. Soetomo sekaligus falsafah dasar pendirian Budi Utomo, tentang  betapa pentingnya sebagai bangsa kita mengutamakan budi pekerti mulia dan moral utama, sepenuhnya sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah?

Bukankah Rasulullah kerap menekankan kepada umatnya, bahwa sesungguhnya beliau saw diutus (ke muka bumi ini) semata-mata untuk meneladankan akhlakul karimah atau menyempurnakan akhlak baik di tengah manusia?

Begitu juga halnya dengan prinsip Fakta Non Verba, bukankah Islam telah sejak mula menekankan pentingnya amal salih dan lebih utamanya perbuatan nyata daripada sekadar iman dan perkataan semata?

Dengan tetap meneguhi kedua prinsip utama (Fakta Non Verba dan Budi Utama) itu, kita patut berharap Indonesia mampu benar-benar bangkit dari keterpurukannya di segala lini. Utamanya keterbebasan dari petaka kian terjun bebasnya kemerosotan moral, baik di kalangan elit penguasa maupun di kalangan kaum alit dan rakyat jelata.

Akhirnya, seraya berharap dan mendoakan kebaikan serta pahala berlimpah dari Allah untuk dr. Soetomo di alam sana, atas jasa-jasanya semasa hidup bagi bangsa kita. Mungkin ada baiknya penulis sampaikan pesan terakhir dari putra pertama seorang guru bernama R. Soewail ini  kepada teman-teman seperjuangannya sebelum menutup mata untuk selama-lamanya pada 30 Mei 1938 silam.

Inilah pesan penting yang kepada para peziarah yang mendatangi makam Bapak Pergerakan itu selalu tak bosan disampaikan kembali oleh Murtiningsih, perawat spirit perjuangan yang juga layak kita sebut pahlawan karena pengabdian tulusnya kepada bangsa:

“Saudara-saudaraku, pesanku kepadamu, dan saudara perjuangan yang kutinggalkan. Tetap bekerjalah untuk pergerakan kita, ketahuilah bahwa pergerakan kita harus terus berkembang, harus bersemi dan harus selalu maju. Oleh karena itu sampaikanlah pesanku kepada saudara-saudaraku yang tidak dapat mengunjungiku kemari: Bersama-sama, giat bekerjalah kalian semua guna kemajuan pergerakan dan perjuangan kita, sehingga benar-benar tercapai kemerdekaan dan kemuliaan bangsa kita.”

Memberikan teladan bagi rakyatnya dalam menyambut seruan dr. Soetomo, selaku Pemimpin Besar Revolusi bagi bangsa besar yang wajib menghormati jasa para pahlawannya, saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1961, kembali Bung Karno mengukir kalimat indahnya dalam sebuah prasasti di kompleks pemakaman Bapak Pergerakan Nasional itu:

Soekarno

Kami bangsa Indonesia sadar, bahwa para pahlawan telah menjumbangkan bagiannja jang njata pada tertjapainja kemerdekaan nusa dan bangsa.

Maka atas djasa para pahlawan itu bangsa Indonesia dengan sepenuh chidmat dan hormat mempersembahkan suatu bangunan sebagai tanda terima kasih dan penghargaan jang setinggi-tingginja.

Djakarta, 17 Agustus 1961

Atas nama bangsa Indonesia

Pemimpin Besar Revolusi

SOEKARNO

 

EH/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *