Satu Islam Untuk Semua

Monday, 19 February 2018

KISAH – Raja Berubah ‘Nyufi’ Gara-gara Sepotong Roti


KISAH – Raja Berubah ‘Nyufi’ Gara-gara Sepotong Roti

islamindonesia.id – Raja Berubah ‘Nyufi’ Gara-gara Sepotong Roti

 

Ibrahim bin Adham merupakan seorang raja di Balkh, yakni sebuah daerah tempat awal perkembangan ajaran Buddha. Kisah Ibrahim bin Adham adalah satu kisah yang cukup menonjol di masa awal kesufian.

Ibrahim bin Adham terlahir dari keluarga bangsawan Arab yang dalam sejarah sufi sangat dikenal karena meninggalkan kerajaannya dan memilih menjalani latihan pengendalian tubuh dan jiwa sama seperti yang dilakukan oleh Buddha Sidharta.

Dalam tradisi kesufian banyak diceritakan tentang tindakan keberanian, rendah hati, serta gaya hidupnya yang cukup bertolak belakang dengan kihidupannya semasa menjadi Raja Balkh. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’yam, Ibrahim bin Adham menekankan akan pentingnya ketenangan dan meditasi dalam melakukan pelatihan pengendalian tubuh dan jiwa.

Lalu bagaimana ceritanya, sang raja yang sebelumnya penuh kuasa itu lebih memilih menjalani hidup sebagai sufi?

Titik balik kehidupan Raja Abu Ishaq Ibrahim bin Adham, sebenarnya berawal dari keinginannya untuk berburu. Bersama kuda kesayangannya, Ibrahim menuju hutan dengan penuh gairah. Keadaan berlangsung normal hingga ketenangannya diusik oleh seekor gagak.

Ibrahim sesungguhnya hanya ingin istirahat sejenak. Melepas lelah perjalanan sembari memakan roti. Sialnya, Ibrahim tak sempat mencicipi sedikit pun bekal bawaannya itu. Seekor gagak datang tiba-tiba menyambar roti, lalu membawanya terbang ke udara.

Ibrahim yang kaget bercampur kagum itu memutuskan untuk mengikuti ke mana gagak pergi. Si burung hitam meluncur cepat ke arah gunung, hingga Raja Balkh nyaris saja tak menemukannya lagi. Tapi tekad Ibrahim bin Adham untuk menaklukkan segala rintangan gunung membuatnya tak kehilangan jejak.

Tapi gagak tetaplah gagak. Jerih payah sang raja untuk mendekatinya mendapat penolakan. Sekali lagi, gagak mengudara, kabur menghilang entah ke mana. Di saat bersamaan, Ibrahim bin Adham menjumpai seseorang tengah terbaring di tanah dalam keadaan terikat. Segera ia turun dari kuda dan berusaha melepaskannya.

“Ada apa dengan Anda?” tanya Ibrahim bin Adham.

“Saya korban perampokan,” jawab orang tersebut yang ternyata adalah seorang saudagar. Setelah seluruh hartanya dirampas, para perampok hendak membunuhnya dengan cara mengikat dan melantarkan tubuhnya sendirian. Saudagar mengaku, sudah tujuh hari ia terlentang tak berdaya di tempat itu.

“Bagaimana Anda bisa bertahan hidup?”

Saudagar tersebut lantas menceritakan bahwa selama masa-masa sulit itu, seeokor gagak rutin menghampiri, hinggap di atas dada, dan menyodorkan makanan untuknya, termasuk roti. Begitulah cara ia mendapatkan tenaga setiap hari.

Peristiwa ini membuka kesadaran Ibrahim bin Adham tentang hakikat rezeki. Ia akhirnya mantap mundur dari jabatan raja, memerdekakan semua budak miliknya, dan mewakafkan segala kekayaannya.

Ibrahim bin Adham memilih menjalani hidup sederhana sebagai rakyat biasa. Jalan tasawuf mulai ia tekuni dengan berjalan kaki ke Mekah, tanpa bekal apapun kecuali rasa tawakal yang amat tinggi. Sejak saat itu, olah rohani merupakan kegiatan pokok selama hidupnya.

Ternyata, kisah tentang kegagalan Ibrahim bin Adham mencicipi roti ini berbuntut pada perubahan serius keseluruhan hidup mantan raja Balkh itu.

Ibrahim bin Adham akhirnya masyhur sebagai tokoh sufi yang sangat dikagumi. Dalam sumber-sumber Arab dan Persia, seperti Imam Bukhari dan lainnya, ia terkenal sebagai tokoh sufi yang pernah bertemu dengan Nabi Khidzir.

 

EH / Islam Indonesia – Sumber: Kitab Al-Aqthaf ad-Daniyyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *