Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 14 September 2017

KISAH – Prestasi Anjing dan Kucing di Mata Sufi


cat

IslamIndonesia.id – KISAH – Prestasi Anjing dan Kucing di Mata Sufi

 

Seorang lelaki yang sangat tidak menyukai Abu Ustman, datang mengundangnya untuk bersantap makan malam bersama. Namun, ketika Abu Utsman menerima undangan itu dan sampai ke rumahnya, laki-laki itu berteriak, “Orang rakus, tak ada apa-apa untukmu di sini. Pulanglah!”

Abu Utsman pun menurut. Melangkahkan kakinya perlahan, hendak pulang. Tapi, baru beberapa langkah ia berjalan, lelaki itu kembali memanggilnya, “Wahai Syeikh, kemarilah!”

Abu Utsman pun kembali.

“Engkau tampak begitu bernafsu untuk makan,” ejek lelaki itu, “Tak ada apa-apa di sini. Pergilah!”

Abu Utsman pun pergi. Lelaki itu memanggilnya lagi, dan Abu Utsman pun kembali.
“Makanlah batu, atau pulang sana!”

Abu Utsman berjalan pulang sekali lagi. Tiga puluh kali lelaki itu memanggilnya, lalu mengusirnya. Tiga puluh kali pula Abu Utsman datang dan pergi, tanpa menunjukkan rasa kesal dan sedih sedikitpun.

Kemudian, lelaki itu tersungkur di kaki Abu Utsman, dan dengan bercucuran air mata meminta maaf karena telah menguji kesabarannya tersebut.

“Kau sungguh luar biasa!” Kata lelaki itu. “Tiga puluh kali aku mengusirmu dengan penghinaan, namun engkau tak menunjukkan rasa kesal sedikit pun.”

“Itu hanya bagian kecil dari kehidupan,” jawab Abu Utsman. “Anjing-anjing pun melakukannya. Saat engkau mengusir mereka, mereka pergi, dan saat engkau memanggil mereka, mereka pun datang, tanpa menunjukkan rasa kesal sedikit pun. Prestasi anjing seharusnya bisa dijadikan contoh bagi manusia, bahkan lebih dari itu.”

—–

Fariduddin Aththar berkisah tentang Abu Utsman ibnu Ismail al Hiri al Nisyaburi. Seorang ahli sufi yang lahir di Rayy, dan wafat di  Nisyabur pada tahun 298 H/ 911 M. Ia dikenal dunia dengan sikapnya yang tidak mudah marah dan tidak pernah membenci siapa pun.

 

Kisah serupa hadir dari Kitab Kimiya As-Sa’adah karya Imam Al-Ghazali

Konon, suatu hari, saat Syekh Asy-Syibli berkunjung ke rumah Syekh Tsauri, ia melihat tuan rumahnya itu sedang duduk tafakur sedemikian khusyuk. Sehingga, tak satu pun helai rambut yang bergerak.

Bingung melihat keadaan tersebut, selepas Syekh Tsauri menuntaskan dzikirnya, Asy-Syibli pun langsung bertanya, “Siapa yang mengajarimu tafakur sedemikian khusyuk?”

Al-Tsauri menjawab, “Seekor kucing yang aku lihat menunggu di depan lubang tikus. Dibanding keadaanku sekarang, ia bahkan jauh lebih tenang.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *