Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 27 February 2018

KISAH – Pertemuan Manajer Muslim dan Marbot Mukmin


KISAH – Pertemuan Manajer Muslim dan Marbot Mukmin

islamindonesia.id – Pertemuan Manajer Muslim dan Marbot Mukmin

 

Sering kali sebagian orang memandang dan menilai sesuatu atau seseorang dari apa yang tampak di luar atau melalui apa yang terindra oleh mata saja. Padahal apa yang terlihat belum tentu menggambarkan tentang ‘apa’, ‘siapa’ dan ’bagaimana’ sesuatu dan seseorang itu sebenarnya.

Mungkin karena itulah muncul pepatah berisi anjuran, “Jangan nilai buku hanya dengan melihat sampulnya”. Artinya, alangkah bijak bila kita tak menilai bagus atau tidaknya kualitas sebuah buku atau karya tulis tertentu hanya dengan melihat sepintas tampilan sampul buku tersebut, tanpa merasa perlu membaca tuntas halaman pertama hingga halaman terakhir dan memahami isi yang terkandung di dalamnya.

Seperti halnya penilaian terhadap buku, begitu pula hendaknya kita memberlakukan penilaian terhadap seseorang, baik yang sudah lama kita kenal maupun mereka yang baru kita temui. Hal ini perlu dilakukan agar kita tak salah menilai sehingga berpengaruh pada pandangan dan hubungan sosial kita dengan seseorang atau pribadi tertentu tersebut.

Di sisi lain, dengan cara itu diharapkan kita mampu belajar memahami bahwa tak selamanya apa yang tampak oleh mata, bisa dipastikan bakal selalu sama dengan fakta sebenarnya. Bahkan lebih sering akan selalu bisa ditemukan lebih banyak ‘misteri’ di balik itu.

Di dunia ini, betapa banyak kejadian yang semula tampak biasa, setelah ditelusuri lebih jauh ternyata di luar dugaan, justru merupakan hal yang luar biasa. Dari kejadian-kejadian dan pengalaman ‘kecele’ semacam itulah hendaknya kita mampu mengambi pelajaran penting: jangan terburu-buru menghakimi sesuatu atau seseorang sebelum tahu persis siapa sosok orang itu dan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.

Itulah yang setidaknya pesan penting yang akan disampaikan kisah berikut ini.

***

Alkisah, ada dua sahabat; Mukmin dan Muslim. Mukmin ini pintar sekali dan cerdas. Tapi dia kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Muslim adalah sahabat yang biasa-biasa saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karier dan masa depan cemerlangnya.

Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yang istimewa; di koridor wudhu sebuah masjid megah dengan arsitektur yang cantik, dengan pemandangan pegunungan dan kebun teh yang terhampar hijau di bawahnya. Sungguh indah mempesona.

Ketika bertemu, Muslim sudah menjelma menjadi seorang manajer kelas menengah, necis, dan perlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya. Ia punya kebiasaan, setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yang ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih beroleh waktu yang diperbolehkan shalat sunnah, maka ia akan shalat sunnah juga sebagai amaliah tambahan.

Seperti biasa, saat tiba di kawasan Puncak, Bogor, Muslim mencari masjid. Ia pinggirkan mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yang ia temukan. Di sanalah ia bertemu Mukmin. Muslim kaget bercampur senang, saat kembali bertemu sahabatnya ini, yang meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun. Namun, Muslim tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Mukmin sebagai marbot masjid..!

“Maaf,” katanya menegor sang marbot. “Kamu Mukmin kan? Mukmin kawan SMP saya dulu?”

Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan. “Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”

Muslim terlihat masih berdasi. Lengan baju yang digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam tangan bermereknya terlihat oleh Mukmin. “Ah, biasa saja…”

Saat dilihatnya Mukmin yang sedang memegang kain pel, Muslim pun jatuh iba. Penampilan Muslim benar-benar khas marbot; Celana digulung, dan peci didongakkan membuat jidatnya yang lebar terlihat jelas.

“Min… Ini kartu nama saya…” kata Muslim sambil menyerahkan kartu namanya.

Mukmin melihat kartu nama yang disodorkan Muslim, “Manager Area… Wah, bener-bener keren,” pujinya.

“Oh iya, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, kalau kamu berminat, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekadar marbot di masjid ini. Maaf…” pinta Muslim.

Mukmin tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya.”

Mukmin pun menyelesaikan pekerjaannya untuk bersih-bersih…”Silakan. Yang nyaman,” ucap Mukmin kepada Muslim.

Sambil berwudhu, Muslim tak habis pikir. Mengapa Mukmin yang pintar, kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai marbot, tapi marbot… ah, pikirannya tak mampu membenarkan. Muslim menyesalkan kondisi negerinya ini yang tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenarnya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin.

Air wudhu membasahi wajahnya… Sekali lagi Muslim melewati Mukmin yang sedang bersih-bersih. “Andai saja Mukmin mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan marbot. Melainkan ‘office boy’,” pikirnya.

Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Muslim. Sama-sama shalat sunnah agaknya. Ya, Muslim sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya.

Muslim sempat melirik, “Barangkali ini kawan si Mukmin…,” gumamnya.

Muslim menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Mukmin.

“Pak,” tiba-tiba anak muda yang shalat di belakangnya itu menegurnya.

“Iya Mas..?”

“Pak, Bapak kenal emangnya sama Bapak Insinyur Haji Mukmin…?”

“Insinyur Haji Mukmin…?”

“Ya, Insinyur Haji Mukmin…”

“Insinyur Haji Mukmin yang mana…?”

“Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…”

“Oh… Mukmin… Iya, kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?”

“Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelum beliau bangun ini masjid…”

Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hati Muslim… Dari dulu sudah haji… Dari sebelum beliau bangun masjid ini…

Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yang marbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini, Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid indah ini, sebagai masjid transit mereka yang mau mampir shalat. Bapak lihat mall megah di bawah sana? Juga hotel indah di seberangnya? … Itu semua milik beliau… Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, yang saya anggap aneh. Yaitu kesenangannya menggantikan posisi saya. Karena suara saya menurutnya bagus, kadang saya disuruh mengaji dan azan saja…”

Mendengar penuturan panjang anak muda itu, hati Muslim pun seolah makin terguncang. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Pada penilaiannya yang terburu-buru atas sosok sahabat lamanya itu.

***

Akhirnya, coba kita renungkan kisah di atas. Jika Mukmin itu adalah kita, mungkin begitu ketemu kawan lama yang sedang melihat kita membersihkan toilet, segera kita beritahu posisi kita siapa yang sebenarnya. Dan jika kemudian kawan lama kita ini menyangka kita marbot masjid, maka kita akan menyangkal
dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang membangun masjid ini.

Tapi kita bukan Haji Mukmin dan Haji Mukmin bukannya kita. Ia selamat dari rusaknya nilai amal, sebab ia tetap cool dan tenang saja. Tetap adem meski dipandang sebelah mata. Haji Mukmin merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada kawan lamanya, Muslim, yang mengira dirinya seorang marbot miskin.

Namun kemudian Allah yang memberitahu siapa dia sebenarnya melalui lisan si anak muda, marbot asli di masjid itu.

Begitulah tabiat orang yang ikhlas. “Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi”
(Orang ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, seperti ia menyembunyikan  keburukan-keburukannya).

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *