Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 25 February 2018

KISAH – Penghujung Nasib Si Tukang Kayu


KISAH – Penghujung Nasib Si Tukang Kayu

islamindonesia.id – Penghujung Nasib Si Tukang Kayu

 

Seorang tukang kayu yang sudah tua berniat pensiun dari profesi yang sudah digelutinya selama puluhan tahun. Tujuannya sederhana: ingin menikmati masa tua bersama istri dan anak cucunya. Meski sadar akan kehilangan penghasilan rutinnya namun dia berpikir sudah saatnya tubuh tuanya butuh istirahat.

Rencana itu pun dia sampaikan kepada atasan atau mandornya. Sang Mandor merasa sedih, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan handal dalam timnya. Namun ia juga tak bisa memaksa.

Sebagai permintaan terakhir sebelum tukang kayu tua ini berhenti, sang mandor memintanya untuk sekali lagi membangun sebuah rumah untuk terakhir kalinya.

Dengan berat hati si tukang kayu menyanggupi namun ia berkata karena dirinya sudah berniat untuk pensiun maka ia akan mengerjakannya “semampu tenaganya”.

Sang mandor hanya tersenyum dan berkata, “Kerjakanlah dengan cara terbaik yang kamu bisa. Kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang kamu inginkan.”

Tukang kayu lalu memulai pekerjaan terakhirnya. Ia begitu malas-malasan dan asal-asalan membuat rangka bangunan. Karena malas mencari dan memilih bahan terbaik, maka ia gunakan bahan-bahan berkualitas rendah seadanya.

Sayang sekali, tanpa sadar ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri kariernya.

Saat rumah itu selesai, sang mandor datang untuk memeriksa. Saat memegang daun pintu depan, ia berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu!”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya sendiri, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Sekarang akibatnya, ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan itu.

Nah, tak jauh beda dengan si tukang kayu, seperti itulah sebagian dari kita memperlakukan hidup kita sendiri dan pada akhirnya menyesal setelah “nasi sudah menjadi bubur”.

Agar tak mengulangi hal serupa, mumpung masih ada waktu, ada baiknya renungkanlah kisah si tukang kayu ini. Anggaplah rumah itu sama dengan kehidupan Anda. Setiap kali Anda memalu paku, memasang rangka, memasang keramik, lakukanlah dengan segenap hati dan sikap bijaksana. Sebab kehidupan Anda saat ini adalah akibat dari pilihan Anda di masa lalu. Sedangkan masa depan, tak lain adalah hasil dari keputusan saat ini.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *