Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 11 April 2017

KISAH – Orang yang Bersama Nabi di Surga


pasar arab kartun ilustrasi

IslamIndonesia.id–KISAH – Orang yang Bersama Nabi di Surga

 

Setelah Nabi Dawud as memohon kepada Allah untuk diperlihatkan temannya di surga kelak, Allah menjawab, “Esok hari keluarlah dari gerbang kota. Orang pertama yang engkau jumpai setelah keluar, itulah temanmu di surga.”

Keesokan harinya, Dawud bersama putranya, Sulaiman as, keluar rumah menuju gerbang kota. Setelah melalui gerbang kota, mereka berhenti dan melihat seorang tua yang sedang memikul seikat kayu bakar di atas punggungnya mendekati gerbang kota.

Kepada orang-orang di sekitarnya, orang tua itu berteriak dengan lantang, “Siapakah yang ingin membeli kayu bakar ini?”

Tidak lama kemudian, seseorang mendekati orang tua itu dan membeli barang dagangannya lalu pergi meninggalkannya. Setelah orang tua itu menyimpan uang hasil jualannya di sakunya, Dawud dan putranya mendekatinya.

Mereka berdua mengucapkan salam padanya, lalu Dawud berkata “Apakah kami bisa berkunjung sebagai tamu ke rumah Anda hari ini?”

Dengan bahagia, orang tua itu menyambut dengan berkata, “Selamat datang! Tamu adalah kekasih Allah.”

Orang tua itu pun mampir di pasar membeli biji gandum dengan uang hasil keringatnya. Sesampainya di rumah, ia menumbuk biji gandum itu hingga diolah menjadi tiga roti. Dua roti dihidangkan untuk kedua tamunya, dan sisanya untuk dirinya sendiri. Sebagaimana akhlaknya yang telah melekat, ia mengucapkan ‘Bismillah’ sebelum makan, dan setelah makan mengucapkan ‘Alhamdulillah’.

Sedemikian nikmatnya apa yang ia rasakan, kedua telapak tangannya menegadah ke langit dan spontan berucap, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kayu bakar yang ku jual itu dari pohon yang Engkau tumbuhkan. Engkaulah yang mengeringkannya dan memberi aku cukup kekuatan untuk mencabutnya dari pohon. Engkau juga yang mengutus seseorang untuk membeli kayu bakar dariku. Biji gandum yang kubeli adalah biji yang Engkau ciptakan benihnya dan tumbuh karena kehendak-Mu. Engkau pula-lah yang memberiku sarana sehingga aku bisa membuat roti dari biji gandum.”

Air mata orang tua itu jatuh membasahi pipinya. Dengan nada berat ia melanjutkan, “Lalu apa yang telah aku perbuat untuk membalas semua itu, wahai Tuhanku?”

Menyaksikan manusia pilihan Tuhan itu, Dawud menoleh ke putranya dengan pandangan sarat makna. Meski tak berucap apa-apa, seolah-olah Dawud berkata pada Sulaiman, “Jadi, karena itulah orang tua ini dikumpulkan bersama para Nabi.”

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *