Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 19 July 2017

KISAH – Menyadari Kematian


Nabi-Isa-Alaihissam-Misi-Sebagai-Nabi-Ilustrasi

islamindonesia.id – KISAH – Menyadari kematian

 

Konon pada suatu hari, ada seorang darwis yang mengadakan perjalanan melalui laut. Ketika para penumpang lain masuk perahu satu demi satu, mereka melihat darwis tersebut, dan sebagai mana pada umumnya, mereka pun meminta nasehat kepadanya.

Nasehat yang diberikan para darwis tentu sama saja, yakni memberi tahu orang-orang tersebut mengenai hal yang itu-itu juga. Darwis itu tampaknya mengulangi saja salah satu rumusan yang menjadi perhatian para darwis sepanjang masa.

Rumusan itu adalah: “Cobalah menyadari maut, sampai kau tahu maut itu apa.” Hanya beberapa penumpang saja yang secara khusus tertarik akan peringatan itu.

Mendadak ada angin topan menderu. Anak buah kapal maupun penumpang semuanya berlutut, memohon agar Tuhan menjaga perahunya dari bahaya. Mereka terdengar berteriak-teriak ketakutan, menyerah kepada nasib, menangis, memohon keselamatan dan pertolongan dari Tuhan. Selama itu, sang darwis duduk tenang, merenung, sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap kehebohan peristiwa di sekelilingnya tersebut.

Akhirnya, suasana kembali tenang. Kekacauan seketika berhenti saat mereka melihat laut dan langit kembali aman, dan para penumpang menjadi tersadar bahwa darwis terlihat begitu tenang selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung.

Datanglah salah seorang menghampiri darwis dan bertanya, “Apakah Tuan tidak menyadari bahwa pada waktu angin topan itu tak ada yang lebih kokoh daripada selembar papan, yang bisa memisahkan kita dari maut?”

“Oh, tentu,” jawab darwis itu. “Saya tahu, di laut selamanya begitu. Tetapi saya juga menyadari bahwa, kalau saya berada di darat dan merenungkannya, dalam peristiwa sehari-hari biasa, pemisah antara kita dan maut itu lebih rapuh lagi.”

Catatan


Kisah ini ciptaan Bayazid dari Bistam, sebuah tempat di sebelah selatan Laut  Kaspia. Ia adalah salah seorang di antara sufi besar zaman lampau, dan meninggal pada paruh kedua abad ke-9.

 

IslamIndonesia. Sumber: Idries Shah/buku Harta Karun dari Timur Tengah – Kisah Bijak Para Sufi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *