Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 07 September 2016

KISAH—Makian Seharga 1000 Dirham


Makian Seharga 1000 Dirham

IslamIndonesia.id—Makian Seharga 1000 Dirham

 

Berkisah tentang kemuliaan akhlak Zainal Abidin, seorang pemuda Madinah meriwayatkan, “Ketika melihat Zainal Abidin keluar dari masjid, aku mengikutinya dan langsung memakinya. Ternyata hal itu membuat orang-orang marah. Mereka berkerumun hendak mengeroyokku. Seandainya mereka benar-benar melakukannya, pastilah aku babak belur. Untunglah ketika itu Zainal Abidin berkata, ‘Biarkanlah orang ini.’ Maka merekapun membiarkan diriku.”

Melihat aku gemetar ketakutan, dia menatap dengan wajah bershahabat dan menenteramkan hati, lalu berkata, “Saudaraku, engkau telah mencelaku sejauh yang kau ketahui, padahal apa yang tidak Engkau ketahui, jauh lebih besar lagi. Adakah Engkau memiliki keperluan sehingga aku bisa membantumu?”

Aku menjadi sangat malu dan tak bisa berkata apa-apa. Begitu melihat gelagatku, beliau memberiku baju yang sangat bagus dan uang seribu dirham.

Sejak itu setiap kali melihatnya aku berkata, “Aku bersaksi bahwa Anda memang benar-benar keturunan Rasulullah SAW.”

***

Dari kisah di atas, pelajaran dan hikmah apa saja yang dapat kita petik?

Pertama, betapa mulia, luhur dan agungnya akhlak dan budi pekerti keturunan Rasulullah, persis sebagaimana keagungan akhlak Rasulullah sendiri, yang memang diutus oleh Allah sebagai penyempurna akhlak.

Kedua, kita layak menjadikan keturunan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan, terutama teladan dalam hal kesabaran, kebajikan, kerendahan hati dan keinsyafan sebagai hamba Allah yang merasa, betapa banyaknya kekurangan yang ada pada diri sendiri. Sehingga karenanya tidak mudah tersinggung dan marah pada perkataan buruk atau makian orang lain. Melainkan sebaliknya, lebih peduli pada apa yang mungkin menjadi kebutuhan orang lain. Jika benar ada kebutuhan yang belum dapat mereka penuhi, sepanjang kita mampu, maka kita sebagai sesama saudara Muslim sudah selayaknya lebih tergerak untuk membantu segera memenuhinya.

Ketiga, hendaknya kita senantiasa belajar untuk tidak membalas perbuatan buruk atau kejahatan dengan perbuatan buruk dan kejahatan serupa, melainkan mampu membalasnya dengan kebaikan. Hal demikian kita lakukan dengan harapan si pelaku perbuatan buruk itu sadar dan benar-benar insyaf akan kesalahannya, dan merasa malu kepada Allah dan dirinya sendiri sehingga tidak mengulanginya kembali di lain waktu.

Di sisi lain, bukankah hal yang demikian memang bersesuaian dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an?

“Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 96)

Maka alangkah mulianya bila kita senantiasa mampu berbuat baik kepada siapapun, bahkan kepada orang yang telah memaki atau berbuat jahat kepada kita. Mengapa? Karena kita yakin bahwa kebaikan tersebut insya Allah akan dilipatgandakan di sisi-Nya.

“Mereka itu diberi pahala dua kali lipat disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan…” (QS. Al-Qashash [28]:54)

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *