Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 17 March 2016

KISAH – Iyad dan Sepasang Sepatu Masa Lalu


image

Awal mulanya, Iyad hanyalah pembantu Sultan Mahmud. Namun, berkat kecerdasan dan pengorbanannya, Iyad perlahan naik pangkat sampai jadi orang paling dipercaya Sultan Mahmud. Keadaan ini menimbulkan rasa iri para menteri dan pengawal lain pada Iyad.

Para menteri dan pengawal itu pun mulai kasak-kusuk agar dapat menjauhkan Iyad dari Sultan dan menimbulkan rasa benci Sultan terhadapnya.

Iyad mempunyai sebuah kamar di istana yang senantiasa dia perhatikan. Tiap saat dia selalu mengunci pintunya. Tak seorang pun dia izinkan masuk ke dalamnya. Saban hari sebelum datang kepada Sultan, dia senantiasa masuk ke dalam kamar tersebut dan berdiam diri sejenak di sana. Kemudian dia meninggalkan kamar itu dan tidak lupa mengunci pintu kamar itu rapat-rapat.

Para menteri dan pengawal yang iri ini mulai menghasut Sultan Mahmud. Mereka mengatakan bahwa Iyad menimbun perhiasan dan permata dalam jumlah besar yang dicurinya dari istana. Iyad menyembunyikan perhiasan dan permata curian itu di dalam kamar. Kamar yang selalu dikunjungi Iyad saban pagi terkunci rapat dan tidak seorang pun diperbolehkan memasukinya. Demikian fitnah yang disebar tentang Iyad.

Seiring waktu, fitnah itu membuat kepercayaan Sultan Mahmud terhadap Iyad memudar. Sultan akhirnya mengeluarkan perintah untuk menggeledah kamar Iyad secara sembunyi-sembunyi. Tanpa sepengetahuan Iyad yang saat itu sedang bersama Sang Sultan para pengawal membongkar paksa kamar Iyad dengan kapak dan alat-alat lainnya.

Setelah berhasil membuka kamar dan menerobos masuk, mereka langsung mencari perhiasan dan permata simpanan Iyad. Namun yang mereka temukan ternyata hanyalah kulit hewan dan sepatu rusak yang telah lapuk. Mereka heran dan mulai menyimpulkan bahwa Iyad menyimpan perhiasan dan permata curian di bawah tanah. Mereka pun menggali tanah di dalam kamar. Lagi-lagi mereka tidak menemukan apa-apa.

Mereka pun menghadap Sultan Mahmud sambil membawa kulit hewan dan sepatu usang yang mereka temukan di kamar Iyad. Karena malu, mereka bergegas pergi dari hadapan Sultan dan Iyad.

Sultan Mahmud sadar bahwa desas-desus yang beredar ternyata hanya fitnah yang ditimbulkan oleh rasa hasud para menteri dan pengawal terhadap Iyad. Sultan segera memanggil mereka kembali dan memerintahkan mereka untuk meminta maaf kepada Iyad. Jika Iyad tidak memaafkan mereka, maka Sultan akan menghukum mereka satu per satu.

Sambil tersungkur, para menteri dan pengawal pun akhirnya memohon maaf kepada Iyad. Iyad berkata, “Bila Sultan memaafkan kalian, maka aku pun demikian.”

Sultan bertanya kepada Iyad, “Apakah rahasia di balik kunjunganmu ke kamar itu saban pagi dan alasanmu berdiam diri di sana?”

Iyad menjawab, “Sebelum menjadi pembantu Anda, aku hanyalah seorang fakir. Yang aku miliki di dunia ini hanyalah sepasang sepatu dan kulit ini. Maka ketika aku menjadi seorang yang dekat dengan Anda dan berkecukupan, aku meletakkan keduanya ke dalam kamar itu. Aku menengok barang-barang itu tiap pagi sebagai pengingat masa lalu agar aku tidak tergelincir dan lalai mengingat Allah.”

Bukankah kita diciptakan Allah dari air yang hina? Dan bukankah segala yang kita miliki merupakan anugerah dari Allah?[]

 

Tom/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *