Satu Islam Untuk Semua

Monday, 21 May 2018

Kesaksian Ibnu Bathuthah tentang Ibnu Taimiyah


ibnu_taimiyah

islamindonesia.id – Kesaksian Ibnu Bathuthah tentang Ibnu Taimiyah

 

Dunia Islam mengenal Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang terkenal dengan ucapan, “Al-ruju’ ila al-Kitab wa al-Sunnah” (kembali ke Kitab Suci dan Sunnah). Di masa dia hidup, oleh ulama lain dia dianggap melenceng jauh dari akidah agama yang selama ini mereka jalani. Tapi Ibnu Taimiyah bersikeras bahwa pemikirannnya lah yang benar dan murni sesuai ajaran Islam.[1]

Ibnu Taimiyah lahir di Harran, pada 10 Rabiul Awwal 661 Hijriah, atau 22 Januari 1263 Masehi. Pada saat Ibnu Taimiyah berusia 6 tahun (667 Hijriah), kota kelahirannya, yang masuk wilayah Mesopotamia Utara (kini masuk dalam wilayah Turki, dekat perbatasan Irak), diserang pasukan Tartar. Akibat serangan ini, Ibnu Taimiyah dan keluarganya terpaksa harus mengungsi ke Damaskus, Suriah.[2]

Setelah Ibnu Taimiyah dewasa dan menjadi ulama besar, berbagai praktek peribadatan yang tidak sesuai dengan pemikirannya, dia kritisi, dan berbagai bentuk tradisi, dia koreksi. Karena itu dia terlibat sangat aktif dalam memberantas apa yang disebutnya sebagai bid’ah, seperti ziarah ke kuburan orang-orang terhormat, dan pemujaan kepada orang-orang mulia yang dianggap wali oleh masyarakat.[3]

Di era modern, ajaran Ibnu Taimiyah menjadi peletak dasar ajaran Wahabbi. Pendiri Wahabbi, Muhammad Ibn Abd al-Wahhab memformulasikan doktrin politik yang terinspirasi dari ajaran Ibnu Taimiyah. Menurut Ibnu Taimiyah, negara Islam yang ideal mesti didirikan oleh dua otoritas yang sejajar, yaitu: pangeran dan ulama. Koalisi antara Abd al-Wahhab dan Ibnu Saud lah yang menjadi cikal bakal berdirinya Arab Saudi.[4]

 

Siapa Ibnu Bathuthah?

Kemudian, dalam bidang yang berbeda, dunia Islam mengenal sosok Ibnu Bathuthah, penjelajah Muslim yang jarak tempuh penjelajahannya jauh melampaui penjelajah legendaris Barat, Marcopolo. Selama penjelajahannya, menurut Ross E. Dunn, Ibnu Bathuthah diperkirakan telah menempuh jarak sepanjang 117.482 km.[5] Versi lain, menurut Henry Yule, jarak yang ditempuhnya adalah sepanjang 120.700 km dengan tanpa menghitung perjalanan-perjalanan selama Ibnu Bathuthah tinggal dan menetap di India.[6]

Melakukan perjalanan melalui laut, berjalan kaki, dan konvoi unta, Ibnu Bathuthah menjelajah ke lebih dari 40 negara yang kita kenal hari ini. Dia seringkali membahayakan dirinya sendiri hanya untuk memuaskan hasrat mengembaranya. Ketika akhirnya kembali ke kampung halamannya setelah 29 tahun, dia mencatat petualangannya yang luar biasa ke dalam sebuah buku yang berjudul Rihlah.[7]

 

Pertemuan

Menariknya, dua tokoh yang berbeda orientasi gaya hidup ini ternyata pernah bertemu. Mereka hidup di masa yang sama. Pada tahun 1326, Ibnu Bathuthah tiba di Damaskus, dan dia menceritakan kisah pertemuannya dengan Ibnu Taimiyah. Berdasarkan kesaksiannya, Ibnu Taimiyah, di masa itu adalah ulama yang sangat ternama di Damaskus. Orang-orang Damaskus sangat mengidolakannya, setiap kali dia membuat pengajian, orang berduyun-duyun datang untuk menyaksikannya.[8]

Ibnu Bathuthah pada waktu itu berkesempatan untuk bertemu dengannya, atau lebih tepatnya menyaksikannya, karena mereka tidak bertemu secara khusus. Ibnu Bathuthah hanya salah seorang peserta yang hadir dalam acara pengajian yang diselenggarakan oleh Ibnu Taimiyah.

Ketika hadir dan menyaksikan Ibnu Taimiyah berbicara, Ibnu Bathuthah mempunyai penilaian, “seseorang dengan kemampuan hebat dan pembelajaran yang luas, namun dengan beberapa keruwetan di otaknya,” kata Ibnu Bathuthah.[9]

Sebelumnya Ibnu Taimiyah pernah ditangkap dan dipenjarakan beberapa tahun oleh pemerintah karena membuat pernyataan yang menyinggung ulama lain. Di penjara, Ibnu Taimiyah mengarang sebuah tafsir Al-Quran sepanjang empat puluh jilid.[10]

Kemudian di tengah-tengah pengajian Ibnu Taimiyah tiba-tiba membuat sebuah pernyataan, “sesungguhnya Allah turun dari langit ke bumi kita dengan bentuk yang sama dengan tubuhku.”

Ibnu Bathuthah kemudian bercerita, “salah seorang ulama (madzhab) Maliki yang hadir pada waktu itu tidak setuju dan mendebatnya. Orang-orang pendukung Ibnu Taimiyah kemudian bangkit dan marah, memukuli ulama Maliki tersebut dengan tangan dan sepatu sampai-sampai sorban dan penutup kepala sutranya terjatuh.”[11]

Masih menurut kesaksian Ibnu Bathuthah, Ulama Maliki tersebut kemudian atas dasar keputusan hakim Hanbali dipenjarakan, dan di penjara dia dipukuli kembali. Ulama-ulama lainnya tidak setuju atas kejadian itu dan membuat pengaduan ke Sultan Mamluk, dan di waktu yang sama mereka juga mengajukan tuntutan hukum atas pernyataan-pernyataan Ibnu Taimiyah yang dianggap seringkali menyesatkan. Ujungnya adalah Sultan memerintahkan Ibnu Taimiyah untuk dipenjarakan, dan kali ini Ibnu Taimiyah sampai akhir hayatnya tetap di dalam penjara.[12]

Ibnu Taimiyah wafat di usia 67 tahun dalam penjara di Damaskus pada 728 Hijriah atau 1328 Masehi, setelah sakit dalam penjara lebih dari 20 hari. Dikabarkan dia dipenjara bersama salah satu murid terbaiknya Ibnu Qoyyim al-Jauziah. Pada masa selanjutnya, Ibnu Qoyyim melanjutkan perjuangan gurunya, tapi dengan cara yang lebih lentur dan damai, meski tanpa mengurangi nilai-nilai ideologis yang didapat dari gurunya.[13]

 

PH/IslamIndonesia

Catatan Kaki:

[1] “Ibnu Taimiyah”, dari laman https://ganaislamika.com/ibnu-taimiyah/, diakses 21 Mei 2018.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Stig Stenslie, The End of Elite Unity and the Stability of Saudi Arabia, (The Washington Quarterly ▪ Spring 2018), hlm 65.

[5] Ross E. Dunn, The Adventures of Ibn Battuta, A Muslim Traveler of the 14th Century, California: University of California Press, 1986, hlm. Xxxviii, dalam Maretha Widia Putri, Perkembangan Kesusastraan Arab Di Maroko (Studi Kasus: Rihlah Karya Ibnu Bathuthah), (Depok: Makalah Non Seminar Universitas Indonesia, 2016), hlm 12.

[6] Maretha Widia Putri, Ibid.

[7] Evan Andrews, “Why Arab Scholar Ibn Battuta is the Greatest Explorer of all Time”, dari laman http://www.history.com/news/why-arab-scholar-ibn-battuta-is-the-greatest-explorer-of-all-time, diakses 19 Januari 2018.

[8] Ibn Battuta, Travels In Asia And Africa 1325-1354, (London: Routledge & Kegan Paul Ltd, Broadway House, Carter Lane; 1929), diterjemahkan dari bahasa Arab ke Inggris oleh H.A.R Gibb, hlm 67.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid., hlm 67-68.

[12] Ibid., hlm 68.

[13] “Ibnu Taimiyah”, Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *