Satu Islam Untuk Semua

Monday, 29 January 2018

Kesahajaan Hidup Sayyidah Fathimah, Penghulu Wanita Seluruh Alam


Kesahajaan Hidup Sayyidah Fathimah, Penghulu Wanita Seluruh Alam

islamindonesia.id – Kesahajaan Hidup Sayyidah Fathimah, Penghulu Wanita Seluruh Alam

 

Menjadi anak raja hampir selalu membawa takdir keberuntungan. Kekuasaan puncak sang ayah tak hanya memungkinkan dia hidup serba kecukupan tapi juga berlumuran kemewahan. Lantas, bagaimana dengan putri Nabi Muhammad SAW, pemimpin tertinggi dan pelaksana risalah ilahi?

Suatu hari Sayyidah Fathimah, dihampiri salah seorang sahabat Rasul. Dia mengabarkan bahwa Rasulullah tengah menangis sedih selepas menerima wahyu dari Jibril. Sahabat itu datang dalam rangka mencari obat bagi susana hati Nabi yang kalut itu. Dia tahu, satu hal yang selalu membuat bahagia Rasulullah adalah melihat putrinya.

“Baik. Tolong menyingkirlah sejenak hingga aku selesai ganti pakaian,” pinta Sayyidah Fathimah.

Keduanya lalu berangkat ke tempat Rasulullah. Saat itu Fathimah menyelimuti tubuhnya dengan pakaian yang usang. Ada 12 jahitan dalam lembar kain tersebut. Serpihan dedaunan kurma juga tampak menempel di sela-selanya.

Banyak di antara Sahabat Nabi yang menepuk kepala ketika menyaksikan penampilan Fathimah. “Betapa nelangsa putri Muhammad SAW. Para putri kaisar dan raja mengenakan sutra-sutra halus sementara Fathimah anak perempuan utusan Allah puas dengan selimut bulu dengan 12 jahitan dan dedaunan kurma,” begitu kata salah seorang dari mereka.

Sesampainya di hadapan ayahandanya, Sayyidah Fathimah bertutur, “Ya Rasulullah, tahukah bahwa Umar terheran-heran dengan pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali (Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suaminya) selama lima tahun tak pernah menggunakan kasur kecuali kulit kambing.”

Putri kesayangan Rasul itu pun kemudian menceritakan, bahwa keluarganya menggunakan kulit kambing tersebut hanya pada malam hari. Sementara pada siang harinya, kulit ini menjelma sebagai tempat makan untuk unta. Sementara bantal mereka pun hanya terbuat dari kulit yang berisi serpihan dedaunan kurma.

“Wahai Umar, tinggalkan putriku. Mungkin Fathimah sedang menjadi kuda pacu yang unggul (al-khailus sabiq),” sabda Nabi kepada sahabatnya itu.

Analogi kuda pacu merujuk pada pengertian keutamaan sikap Sayyidah Fathimah yang mengungguli seluruh putri-putri raja lainnya. “Tebusanmu (wahai Ayah) adalah diriku,” sahut Fathimah.

Dengan kedudukan dan kharisma ayahandanya yang luar biasa, Sayyidah Fathimah sesungguhnya bisa memperoleh apa saja yang ia kehendaki, lebih dari sekadar pakaian dan kasur yang bagus. Namun, kepribadian Rasulullah dan ibundanya Sayyidah Khadijah yang bersahaja tampaknya memang mewaris ke dalam dirinya. Fathimah tetap tampil sederhana, dengan segenap kebesaran dan kemewahan jiwanya. Tak mengherankan jika Allah menganugerahi ibunda Sayyidina Hasan dan Husein itu dengan gelar mulia “Penghulu Wanita Seluruh Alam.”

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *