Satu Islam Untuk Semua

Friday, 14 July 2017

Hikayat Si Bahlul (Bagian 2)


maxresdefault

islamindonesia.id – Hikayat Si Bahlul (Bagian 2)

 

Serial Hikayat Si Bahlul yang kedua ini mengisahkan kepiawaiannya menghadapi persoalan yang menimpanya.

***

PAKAIAN TERINDAH

Dalam satu zaman ada dua sosok yang sama-sama terpandang.

Harun Al-Rasyid.. Seorang raja yang memiliki kemuliaan dan kekayaan berlimpah, tersiar luas kekuatan, kekuasaan dan hartanya di muka bumi.

Seorang lagi adalah Musa Al-Kazhim, silsilah ketujuh Nabi Muhammad saw. Dia seorang mukmin yang tidak cinta dunia, senantiasa melaksanakan salat dan puasa sepanjang hidupnya. Dia tidak pergi haji melainkan dengan berjalan kaki. Pemilik rumah sederhana yang didalamnya ia duduk dan tidur bersama mushaf di tangannya.

Banyak sekali hak-hak kaum muslimin yang ditunaikan kepadanya, namun tidak ada yang sampai kepadanya melainkan ia tunaikan kembali kepada orang-orang fakir dan lemah.

Jalan hidup dan keteguhan Musa Al-Kazhim terkenal di kalangan kaum muslimin. Tatkala berlimpah rezeki, dia pun menyegerakannya untuk dibagikan kepada orang-orang fakir sehingga tersiar sebuah ungkapan, “Sungguh aneh bagi orang-orang yang mengetahui keteguhan Musa namun masih mengeluhkan sedikitnya harta lagi merasa fakir.”

Para pecinta Musa Al-Kazhim tidak pernah menikmati karunia yang diperolehnya sendirian. Bahkan membaginya kepada orang-orang yang menebarkan kebencian atasnya. Lalu tidak membalas perlakuan buruk mereka.

Ini merupakan pekerti kenabian yang menyebabkan pecinta Keluarga Nabi Muhammad saw semakin bertambah hari demi hari. Para pengikut Musa Al-Kazhim tidak berpisah darinya untuk mereguk cawan pengetahuan suci Muhammadi dan keutamaan para Nabi yang tinggi.

Demikian mata-mata Harun Al-Rasyid menceritakan gambaran keagungan Al-Kazhim yang membuat geram hati tuan mereka. Sehingga dia mencari cara yang memungkinkan manusia menghapus nama Musa Al-Kazhim dari ingatan mereka bahkan membunuhnya karena kedengkian dan takut kehilangan kerajaannya. Ia tidak mampu selain memenjarakan Musa Al-Kazhim berharap menjauhkan pengaruhnya dari kaum muslimin dan menutup majelisnya.

Sungguh jauh dari harapannya! Penjara atas Musa Al-Kazhim justru menjadikan pengikutnya kian bertambah. Hal ini disebabkan mereka mengenal kehidupan beragamanya, kesabarannya, ketabahannya dalam menghadapi penindasan dan jiwa penolongnya atas kaum miskin dan lemah.

Mari kembali ke istana Harun Al-Rasyid yang dipenuhi dengan biduanita, budak-budak, dengan tarian, nyanyian dan minuman. Ya, istana-istana Harun penuh dengan pesta berbagai macam senda gurau untuk melupakan kesedihan dan meringankan rasa susah tidur mereka.

Tiba-tiba suatu hari datang salah satu mata-mata membawa kabar pahit di telinganya seraya berkata, “Wahai tuanku, kerabatmu Abu Wahab, yang dijuluki Bahlul seringkali bersama Musa Al-Kazhim. Bahkan ia menjadi pendukung setianya. Dia berbicara kepadanya dengan bahasa pengagum berat.”

Harun memukul kepalanya setelah pembawa berita menutup kalimatnya dan mengertukkan gerahamnya karena marah. Ia pun berteriak, “Sungguh pandir saudaraku itu! Celakalah ia seandainya kabar itu benar!”

Kemudian Harun memanggil para pengawal kerajaan, “Datangkan Si Bahlul kepadaku sekarang juga! Dalam keadaan hidup atau pun mati!”

Prajurit berlari serempak sehingga saling bertabrakan satu sama lain. Sesungguhnya kemarahan Harun adalah hal biasa. Hanyalah orang-orang yang hidup di istana yang mengetahuinya. Yang diketahuinya hanyalah kekuasaan dan yang dipedulikan olehnya hanyalah pemerintahan.

Sungguh malang Si Bahlul tatkala digiring oleh prajurit istana bagaikan pelaku kejahatan berat tanpa diberi kesempatan untuk tersenyum sesaat atau meringankan belenggunya seujung jari pun.

Si Bahlul berdiri tegap di hadapan raja sambil mendengarkan hentakan suaranya, “Benarkah engkau adalah pengagum dan pengikut Musa bin Ja’far? Benarkah engkau menolong musuhku? Engkau mengkhianatiku dan malah mencintainya? Jawablah yang sesungguhnya! Jika tidak…”

Si Bahlul menganggap wajah Harun sedang mengeluarkan kilat dan petir. Paras wajah Si Bahlul tidak berubah sedikit pun seolah-olah tidak acuh dengan perintahnya!

Harun menunggu jawaban darinya, namun tidak sepatah kata pun meluncur dari lidahnya. Sang raja kian bertambah marah dan lepas kendali. Ia merasa perlu kekuatan besar agar tidak menjadi gila.

Akhirnya ia berhasil mengendalikan kemarahannya dan berkata, “Kau kira bisa memperdayaku dengan berpura-pura gila di hadapanku? Tidak, wahai saudaraku! Siksaku amat pedih atas tindakanmu dan keluar dari aturanku.”

Si Bahlul pun mulai bicara dan bertanya dengan tenang, “Apakah hukuman yang akan aku peroleh wahai Amirul Mukminin andai aku benar-benar penolong Musa Al-Kazhim?”

Harun berteriak hingga menggetarkan dinding istana ketika Bahlul menimpalinya dengan tidak acuh kepadanya. Dia memanggil para prajurit untuk memberi pelajaran kepada salah satu budak yang membangkang perintahnya. Mereka pun bergegas sambil menanti aba-aba untuk menghukum seorang pembangkang dengan hukuman setimpal atas kejahatannya.

Harun tercenung memikirkan dampak atas hukuman yang dijatuhkannya.

Benar bahwa yang dilakukan Si Bahlul adalah dosa yang tak terampuni. Namun pada saat yang sama perlu direnungi akibat yang akan terjadi, jika dia berlebihan dalam menghukum Si Bahlul, maka ia akan mendapatkan kritik yang cukup besar. Pertama, tentu saja dari pihak keluarga dan kerabatnya, karena Si Bahlul merupakan kerabatnya sendiri. Kedua, orang-orang akan menggunjing dirinya dan mencelanya, “Sesungguhnya tuan kita, Harun, hanya mampu menyiksa orang-orang gila.”

Akhirnya ia memutuskan, “Aku perintahkan kalian melepaskan pakaian Si Bahlul. Kemudian kalian menggantinya dengan segala yang disandang di punggung kuda.”

Harun diam sejenak menunggu mereka melaksanakan perintahnya sedikit demi sedikit. Kemudian berkata, “Aku ingin kalian membungkam mulutnya. Jangan lupa memakaikan tali kekang di mulutnya. Lalu araklah ia mengelilingi sudut-sudut kota, setiap jalan dan gang. Aku ingin setiap penduduk Baghdad melihatnya agar menjadi pelajaran. Kemudian kembali lagi ke istana!”

Setelah Khalifah selesai berbicara, para prajurit segera melaksanakan segala titahnya. Mereka menggiring Bahlul yang memakai pakaian aneh itu agar menjadi olok-olok manusia. Kemudian mereka mengelilingi jalan-jalan dan gang-gang kota Baghdad sehingga orang-orang tertawa, kaget dan sebagian mereka mencelanya.

Setelah berjam-jam Si Bahlul diarak keliling kota Baghdad, kembalilah ia ke istana dan berdiri di hadapan Harun dengan tegap menengadahkan kepalanya seperti biasa berlagak bodoh di hadapan Harun.

Tiba-tiba datanglah seorang menteri yang tidak hadir saat hukuman dijatuhkan atas Bahlul. Dia terperanjat menyaksikan penampilan Si Bahlul sementara Harun dalam keadaan marah dan emosional. Dia bertanya-tanya, “Wahai Bahlul, apakah yang telah engkau perbuat sehingga Khalifah menghukummu sedemikian rupa?”

Si Bahlul tak bergeming dan tetap tenang tak acuh dengan yang didengarnya. Harun bangkit dari kursi wasirnya dan menunjuk Bahlul dengan jarinya yang dihiasi dengan cincin-cincin bernilai tinggi seraya berkata, “Tidakkah engkau dengar pertanyaan sang Menteri? Jelaskan kepadanya yang telah engkau perbuat.”

Raut wajah Si Bahlul tidak berubah sedikit pun. Ia tetap tenang dan penuh percaya diri berkata kepada Menteri, “Sesungguhnya Amirul mukminin mengundangku untuk bertanya sesuatu. Lalu aku menjawabnya dengan sebenar-benarnya. Beliau kagum atas jawabanku dengan serta merta menyematkan pakaiannya yang agung dan indah sebagaimana engkau lihat dan menghadiahkannya untukku.”

Dalam waktu sekejap Bahlul menyulap suasana penuh amarah dan emosional menjadi ruangan penuh gelak tawa. Dalam sekejap pula menyulap keadaan Harun larut dalam tawa sebagaimana hadirin. Sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengejek Bahlul lagi dan mengganti penghinaan menjadi kepahlawanan.

Pada kenyataannya, ia berhasil menelan kepahitan tanpa disadari oleh siapa pun.

Harun merasa tidak cukup dengan hal itu, dia takut malam itu menjadi bahan ejekan dan penghinaan rakyat terhadapnya. Sehingga ia memerintahkan mereka melepaskan kembali pakaian Si Bahlul dan menggantinya dengan pakaian kerajaan terbaik sebelum meninggalkan istana.

Penjahit khusus membuatkan untuknya sebagaimana perintah Harun. Namun sikap Bahlul di luar dugaan.

Bahlul menolak hadiah Harun, “Aku berhati-hati untuk menerima hadiahmu wahai Amirul Mukminin. Aku tidak membutuhkan pakaian sepertimu.”

Bahlul mengatakannya kemudian mengenakan pakaian lusuhnya dan bergegas meninggalkan istana di saat hadirin tercengang.

 

 

MH/IslamIndonesia


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *