Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 28 October 2017

KISAH – Celah Singgasana


istana-di-dalam-surga

islamindonesia.id – KISAH – Celah Singgasana

 

Seorang raja mendirikan sebuah istana yang menghabiskan biaya ratusan ribu dinar. Disebelah luarnya, istana itu dihiasi dengan menara-menara dan kubah-kubah yang bersepuhkan emas, sedangkan perabotan dan permadani membuat ruang dalamnya serasa di dalam surga. Setelah rampung dibangun, sang raja mengundang segenap orang dari semua negeri untuk mengunjunginya. Orang-orang ini datang dengan berbagai hadiah sebelum menuju ke tempat duduknya masing-masing. Setelah dipersilahkan duduk, raja bertanya kepada mereka:

“Katakan, bagaimana pendapat kalian tentang istana ini? Adakah sesuatu yang terlupa, yang dapat merusak atau mengurangi keindahannya?”

Serempak hadirin menyatakan bahwa belum ada istana semacam ini dan takkan ada kembarannya di dunia. Semua menyatakan demikian kecuali seorang arif yang bangkit dan berkata:

“Ada satu celah kecil yang menurut pendapat hamba merupakan cacat, Tuanku. Andaikan tak ada cacat ini, surga itu sendiri pun akan memberikan hadiah-hadiahnya kepada tuanku dari dunia gaib.”

“Aku tak melihat cacat itu,” kata sang Raja murka.

“Kau orang bodoh! Dan kau hanya ingin dirimu tampak penting.”

“Tidak, Raja yang sombong!” jawab si arif itu. “Celah yang kusebutkan itu ialah celah yang akan dilalui Izrail, malaikat pencabut nyawa, bila ia datang nanti. Semoga Tuhan berkenan, tuanku dapat menutup celah itu. Sebab, jika tidak, apakah gunanya istana, mahkota, dan singgasana Tuanku yang megah ini. Bila maut datang, semuanya akan merusakkan tempat semayam tuanku. Tiada kepandaian untuk membuat kekal apa yang tak kekal.”

Kematian adalah faktor yang menggerakkan orang-orang bijak untuk Keabadian dan Kehidupan Hakiki. Sayidina Hasan bin Ali berkata: “Aku belum pernah melihat seorang bijak yang tidak khawatir akan kedatangan mati atau bersedih karenanya.”

Tidak mengkhawatirkan kematian berarti melalaikan sesuatu yang paling pasti dalam kehidupan, sementara bersedih karenanya berarti mengingkari kepastian.

Dalam Metode Menjemput Maut, Imam al-Ghazali bertutur:

“Adalah kewajiban orang yang memandang kematian sebagai kefanaannya, … untuk tidak memikirkan apapun selain kematian.”

 

MK/YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *