Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 06 July 2016

KISAH NYATA—Derita Panjang Mbah Karep, Bukti Matinya Kemanusiaan Kita?


Derita Mbah Karep Bukti Matinya Kemanusiaan Kita

IslamIndonesia.id—Derita Panjang Mbah Karep, Bukti Matinya Kemanusiaan Kita?

Sebelum berbagi kisah nyata ini kepada pembaca Islam Indonesia, izinkan saya menyampaikan terima kasih mendalam dan penghargaan tinggi kepada Bung Andi, yang meski tidak saya kenal secara pribadi namun justru telah mengenalkan saya pada sosok Mbah Karep sekaligus pada nasib tragis yang menimpa kakek berusia 65 tahun asal Dusun Jati Sari, Desa Mojowuku, Kecamatan Kedamean, Gresik, Jawa Timur itu.

Saya yakin Bung Andi pribadi yang baik hati. Dan orang yang baik hatinya, di tengah sekumpulan manusia yang semakin pudar empatinya pada derita sesama itu—hemat saya, sungguh layak diapresiasi setinggi-tingginya. Untuk itu saya berharap kepada Tuhan, mudah-mudahan suatu saat kami bisa bertemu dan lebih kenal dekat satu sama lain.

Kembali ke Mbah Karep yang nama dan nasibnya mulai mendapatkan perhatian serius dari banyak pihak, seperti telah saya sebutkan di awal, adalah berkat posting Bung Andi Teposs di akun FB-nya.

Kakek Karep namanya.. Hidup sebatang kara tiada yang mengurus,.. Dusun Jati Sari, Desa Mojowuku, Kedamean, Gresik. Ayok share dan bagikan biar Pak Presiden kita bisa melihat .. Ibu Saeni juragan Warteg saja bisa dapat sumbangan dari Presiden. Masak kakek ini gak dapat …Ayok kawan di Bulan Ramadhan ini kita bisa membantu sesama ..,” tulis Bung Andi, Kamis (23/6/2016) pukul 07.17 WIB lalu.

Sejak itulah tak hanya tetangga yang mata sekaligus mata hatinya sontak terbuka, pihak Pemerintah pun mulai memberikan perhatian serupa.

Tapi apa sesungguhnya yang dialami Mbah Karep, sehingga membuatnya pantas kita perhatikan dan kita bantu?

Mirip nasib buruk Mbok Saeni yang “dizalimi” atas nama Perda dan wartegnya “dijarah” Satpol PP beberapa waktu lalu. Jauh lebih naas dan lebih tragis lagi nasib Mbah Karep yang diperlakukan tak sepantasnya oleh orang-orang di sekitarnya. Alih-alih diobati selayaknya orang tua dan kepala keluarga yang selama ini telah banyak berjasa bagi orang-orang terdekat yang dicintainya, dia justru diusir dan dikucilkan oleh keluarganya sendiri gara-gara penyakit kanker yang menyerang dan merusak wajahnya. Ya. Hanya karena kanker ganas yang membuat wajah Mbah Karep tak mudah dikenali lagi itulah, maka kakek yang terbuang itu kemudian dibiarkan hidup sebatangkara di gubuk reyotnya yang berukuran tak lebih dari 2,5 x 2,5 meter itu, tepatnya sejak tiga tahun lalu. Hal ini seperti dinyatakannya sendiri kepada orang yang datang menjenguknya.

Kerono kanker iki, awak dewe diusir karo bojo lan dulur-dulur liyane mulai telung tahun kepungkur. Mulai iku, awak dewe urip ijenan neng gubuk iki gawe ngelakoni urip. (Karena kanker kulit yang saya alami ini, membuat saya diasingkan istri dan sanak saudara sejak tiga tahun terakhir. Sejak itu, di gubuk inilah saya tinggal untuk menjalani hidup),” tuturnya.

Mengaku rindu kepada keluarganya namun tak bisa berbuat apa-apa akibat penyakitnya, sudah tiga kali lebaran ini dirinya tak bisa lagi menikmati kebahagiaan merayakan bersama momen Hari Raya itu.

Sakjane, awak dewe yo pengen urip kumpul karo anak-bojo lan dulur-dulur liyane. Tapi mergo penyakit iki, awak dewe wes telung riyayan gak iso ngerayakno ambek anak, bojo, lan dulur-dulur. (Sejatinya, saya juga ingin menjalani kehidupan bersama anak-istri serta sanak famili. Tapi karena penyakit yang saya alami ini, saya sudah tiga kali melewati Hari Raya Idulfitri tanpa anak, istri, dan juga sanak famili).”

Bagaimana asal mula Mbah Karep terserang kanker wajah itu?

Awalnya, dia mengaku punya tahi lalat kecil di wajahnya. Entah kenapa suatu ketika tahi lalat itu dirasanya gatal dan digaruknya hingga luka. Luka yang ternyata tak kunjung sembuh melainkan tambah parah itulah yang kemudian menjadi kanker akut. Hal ini lantaran untuk mengobati penyakitnya itu ke dokter atau rumah sakit, Mbah Karep memang sama sekali tak punya biaya. Sebab itulah, merasa tak ada pilihan lain, dia hanya mampu pasrah saja menerima keadaannya.

“Jan tibakane mbelinjete kulit iku seng nggarakno rupo awak dewe koyok ngene. (Dan ternyata, luka yang tak kunjung sembuh itulah yang membuat muka saya rusak seperti ini),” kisah Mbah Karep.

Mbah Karep dan Khofifah

Untuk itu, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat berkunjung ke gubuk reyot milik Mbah Karep, berjanji akan memberikan bantuan.

Mensos menyebut masih ada sekitar 1,8 juta penduduk Indonesia yang hidup terlantar, dengan jumlah potensial mencapai 1,6 juta jiwa.

“Salah satunya, ya Mbah Karep ini,” kata Khofifah seraya menjelaskan bahwa Kementerian Sosial saat ini telah menggagas Program Keluarga Harapan (PKH).

PKH merupakan program bantuan dana yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu, untuk mempersempit ketimpangan kelas ekonomi di masyarakat. Namun sayangnya untuk Mbah Karep, sepertinya belum bisa masuk dalam PKH saat ini. Karena dia belum mendaftar.

Maka untuk mendapatkan bantuan dana PKH yang pencairannya baru akan dilakukan pada November 2016 mendatang, nama Mbah Karep mesti lebih dulu masuk ke dalam daftar program Penerima Bantuan Iuran (PBI), sebagai bagian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tak hanya sampai di situ, agar deritanya segera berakhir, kakek yang sudah sebatangkara ini pun masih diharuskan masuk program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan, agar negara dapat memberikan pelayanan kesehatan.

Dengan derita yang sudah dialaminya sendirian selama tiga tahun ini, belum saatnyakah semua aturan dan prosedur njelimet itu sesegera mungkin diambil alih pengurusan dan penyelesaiannya oleh pihak-pihak terkait sebagai inisiatif atas nama kemanusiaan dan pelayanan yang memang sepatutnya diterima setiap warganegara, khususnya bagi orang-orang seperti Mbah Karep yang sudah renta?

Meski Ramadhan sudah berlalu, semoga spirit kemuliaannya menyadarkan kita semua, bahwa aksi kemanusiaan yang memerlukan kesegeraan tak seharusnya terhambat oleh berbagai macam prosedur dan aturan formal.

Di momen kebahagiaan Lebaran kali ini dan ke depan, alangkah baiknya bila kita mampu berbagi kebahagiaan kepada sesama yang memang membutuhkan uluran tangan. Bukan hanya untuk Mbah Karep yang satu, tapi juga untuk Mbah Karep-Mbah Karep lain yang sangat mungkin juga mengalami nasib serupa di negeri kita.

 

EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *