Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 31 January 2018

KISAH NYATA – Cita-Cita Utama Anak TK Palestina


KISAH NYATA – Cita-Cita Utama Anak TK Palestina

islamindonesia.id – Cita-Cita Utama Anak TK Palestina

 

Anak-anak adalah pembangun peradaban. Mereka tumbuh berdasarkan apa yang ditanamkan orang tua mereka dalam jiwanya.

Maka wajar, anak-anak yang mendapatkan pendidikan dan pendampingan yang baik dari orang tuanya maka akan tumbuh jadi anak dengan pribadi yang insya Allah baik. Begitupun sebaliknya.

Berikut salah satu kisah nyata terkait anak-anak kecil di Palestina. Betapa orang tua berperan penting dalam kehidupan mereka.

Ini kisah nyata tentang anak-anak TK (Taman Kanak-Kanak) di Gaza, Palestina yang dikisahkan salah seorang relawan aksi kemanusiaan dari Indonesia yang pernah berkunjung ke sana.

Suatu hari beberapa orang aktivis kemanusiaan mendatangi TK di jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan dari Indonesia. Sekolah yang didatangi bernama TK Annajmul Quran (TK Bintang Quran).

Sekolah ini terdiri dari 7 orang guru yang kesemuanya hafal Quran. Murid mereka berjumlah 163 orang anak yang merupakan anak yatim piatu korban perang.

Saat didatangi dan dibawakan bantuan, tak satupun dari 163 anak korban perang yang menengadahkan tangan untuk meminta (mengemis), “Saya minta, saya minta roti!” Kalimat seperti ini sama sekali tidak ada. Mungkin tidak ada kamus meminta bagi anak anak Palestina. Padahal mereka sangat layak diberi.

Kepada anak-anak belia itu, salah seorang di antara aktivis bertanya, “Siapa di antara kalian yang ingin jadi dokter?”

Ada tiga anak perempuan yang malu-malu mengangkat tangan ingin jadi dokter.

“Siapa yang ingin jadi pemain sepak bola?”

Tanpa diduga, 6 – 7 anak anak laki laki yang mengangkat tangan.

“Saya, saya, saya” teriak mereka semangat.

Ketika ditanya keinginan menjadi penyanyi, juga jadi presiden tak satupun dari mereka yang angkat tangan. Apakah anak-anak Palestina sudah tidak berani bemimpi?

Lalu pertanyaan terakhir, ini paling menarik dan banyak hikmahnya untuk kita.

“Siapa yang ingin syahid fisabilillah?”

Mungkin Anda mengira akan banyak anak-anak TK yang rata-rata sudah hafal Quran itu angkat tangan, bukan?

Ternyata tidak ada satupun di antara mereka yang angkat tangan. Ya, tidak ada!

Tapi lebih dari itu, anak anak saleh dan salehah para penjaga Al Aqsa itu tidak sekadar angkat tangan, mereka semua kompak, tanpa aba-aba, tanpa komando, tanpa terkecuali spontan berdiri sambil kepalkan tangan dan berseru, “Aku mau syahid, aku mau syahid, aku mau syahid!”

Jawaban itu diteriakkan lantang dengan penuh keyakinan, “Aku mau syahid menyusul ayahku di surga, aku mau syahid seperti pamanku, aku mau syahid seperti kakakku!”

Kata-kata itu diteriakkan keras dan tanpa ragu dari lisan penghafal Quran yang masih bersih tanpa dosa. Inilah yang membuat para aktivis kita tak mampu menahan tangisnya. Dada mereka guncang karena mendengar dan menyaksikan cita-cita tertinggi anak-anak yang masih polos itu, yaitu syahid fisabilillah.

Bukankah ini impian tertinggi seorang Mukmin? Dan itu diteriakkan oleh anak tak berdosa dengan mata merah menyala tanda keberanian yang luar biasa.

Tidak selesai sampai di situ, aktivis kita bertanya lagi, “Siapa yang ingin syahid lebih dahulu?”

Kali ini jawaban mereka lebih dahsyat lagi.

“Saya saya saya!” teriak mereka sambil kepalkan tangan bahkan anak-anak yang tadinya hanya berdiri kini naik ke kursi agar lebih terlihat oleh penanya bahwa impian tertinggi mereka adalah syahid fisabilillah lebih awal.

Siapa yang tidak merinding, berguncang dan menangis menyaksikan peristiwa yang mungkin tidak terjadi di tempat lain selain di bumi Allah, Palestina ini?

Pertanyaannya, kira-kira bagaimana cara mereka dididik? Apa yang dilakukan orang tua mereka? Sehingga masih TK saja sudah sedemikian indah cita-citanya? Mati syahid itu kalau benar niat dan caranya pasti garansi surga, anak Palestina paham ini.

Sejatinya semua yang mengaku beriman kepada Allah, selayaknya bercita-cita syahid fisabilillah.

Sekali lagi kira-kira apa yang dilakukan orang tua Palestina dalam mendidik anaknya?

Seorang syaikh asli Palestina mengatakan ada dua ruh utama bagaimana anak Palestina dididik orangtuanya.

Pertama, Al-Quran. Ya, sejak 0 tahun mereka sudah diperdengarkan Al-Quran, diajarkan Al-Quran dan dididik dengan Al-Quran.

Kedua, kisah-kisah. Anak anak di sana dikisahkan cerita dari Al-Quran, dikisahkan cerita para nabi, sahabat dan orang orang saleh terdahulu. Inilah yang sangat merasuk di jiwa mereka.

Menyaksikan anak anak TK tanpa dikomando bercita-cita mati syahid demi agamanya itu sungguh sangat istimewa.

Semoga buah hati kita kelak memiliki ruh Al-Quran, dan menjadi pejuang Al-Quran seperti anak-anak Palestina.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *