Satu Islam Untuk Semua

Monday, 31 December 2018

TASAWUF – Kehampaan Spritual Manusia Modern


Screenshot (115)

islamindonesia.id – TASAWUF – Kehampaan Spritual Manusia Modern

 

 

Kegairahan pada spritualitas tampak di Barat, baik di daratan Eropa maupun Amerika Serikat, sejak setengah abad lalu. Pada tahun 1960-an, misalnya, sebagian kaum muda ‘Hippie’ berhijrah ke dalam kelompok spritualitas Hindu.

“Bahkan ada juga yang pergi ke India,” kata Cendekiawan Muslim Haidar Bagir dalam sebuah kajian di Pesantren Tasawuf Virtual al-Wala, 24 Desember.

Di sisi lain, sebagian tokoh spritual India pindah ke Barat dan mengajar di sana.  Sementara di dunia selebritas, personil band legendaris The Beatles tak ketinggalan terbang ke India  untuk belajar spritualitas.

Menurut Haidar, kegairahan spritual lahir di Barat pada masa itu tidak lepas dari tingkat kemakmuran yang telah dicapai masyarakat Eropa dan Amerika Serikat. Karena faktor ini pula, kegairahan spritualitas baru muncul di Indonesia sekitar dua puluh tahun lebih lambat dari Barat.

“Kalau belum mencapai kemakmuran material, orang itu masih merasakan kegairahan hidup karena ada yang mereka kejar,” kata Penulis Epistemologi Tasawuf ini.

Namun ketika kemakmuran itu dicapai, ternyata mereka masih merasakan kehampaan dalam dirinya. Padahal, sebelumnya, mereka mengharapkan dapat mencapai kebahagiaan setelah mencapai kemakmuran materi.

Pada kondisi itu, mereka menyimpulkan, kebahagiaan hakiki bukan terletak pada kemakmuran materi. Hingga pada akhirnya mereka pun menoleh kepada spritualitas.

“Karena pada masa itu spritualitas belum berkembang di Barat, mereka mencari ke Hinduisme, belakangan ke Bhudiisme,” ujar Haidar.

Perkembangan ini lalu dilaporkan oleh Majalah Time yang menyorot kembalinya masyarakat Amerika Serikat kepada Tuhan. Namun kembalinya mereka pada Tuhan, menurut Haidar, tidak mesti tergolong kembali kepada gereja.

Salah satu gejalanya ialah banyak perusahaan besar di Amerika yang mengundang trainer spritualitas.  Buku-buku tentang Rumi pun laris manis di Amerika. “Tak ketinggalan selebritas seperti Madonna membaca puisi-puisi Rumi,” kata Penulis Belajar Hidup dari Rumi ini.

Namun, seiring perkembangan itu, tidak sedikit orang yang hanya melihat spritualitas sebagai aliran religi New Age. Padahal spritualitas dalam Islam – Tasawuf – memiliki banyak perbedaan dengan New Age.

Dalam pandangan New Age, spritualitas terpisah dari syariat. Namun dalam Islam, menurut Haidar, spritualitas tak bisa dilepaskan dari syariat. []

 

 

 

YS/islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *