Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 26 December 2018

Tafsir Sufistik ‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun’


Screenshot (107)

islamindonesia.id – Tafsir Sufistik ‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun’

 

 

… “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul” … (Q.S. Al-A’raaf: 172)

Demikian sepenggal dialog antara manusia dan Tuhannya di ‘alam alastu’ yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Setiap manusia yang merupakan manifestasi Tuhan melewati fase ini sebelum terlahir di dunia atau alam penciptaan.

“Ketika lahir di dunia ini, manusia baru menempuh setengah perjalanannnya,” kata penulis buku Epistemologi Tasawuf Haidar Bagir dalam kajian Perjalanan Manusia di Pesantren Tasawuf Virtual Nur Al-Wala, 17 Desember.

Setelah mencapai akil baligh (mukallaf), manusia memulai perjalanan kembali menuju Tuhannya. Dalam dunia tasawuf, perjalanan ‘datang’ dan ‘kembali’ ini dibahas dalam tajuk yang kerap disebut a’mabda wal ma’ad.

“Tajuk ini tentang awal perjalanan hidup manusia sampai nanti kembali lagi kepada Sumbernya atau Allah Swt,” kata Haidar. “Orang Jawa menyebutnya: sangkan paraning dumadi.”

Jika digambarkan secara sederhana, perjalanan manusia itu bagaikan lingkaran. Allah berada di titik teratas lingkaran.

Sementara setengah lingkarannya dengan busur turun (qaws nuzul) menggambarkan penciptaan manusia. Allah menurunkan manifestasinya ke alam penciptaan yang terletak di titik bawah lingkaran.

Pada busur turun ini, hanya qadha Allah yang berlaku. Manusia belum diberikan kuasa untuk memilih (ikhtiar).

Adapun busur naik (qaws su’ud) pada setengah lingkaran lainnya menggambarkan perjalanan manusia kembali kepada-Nya. Di antara fase perjalanan busur naik itu adalah kehidupan manusia di alam penciptaan.

Pada alam inilah, Allah memberikan manusia karsa bebas. “Dengan karsa bebas ini, manusia dapat memilih: menempuh jalan yang benar menuju Allah atau sebaliknya,” kata Haidar.

Perjalanan selanjutnya di busur naik, manusia melewati fase kiamat kecil atau kematian. Pada fase ini, ada manusia yang justru semakin menjauh dari Allah. Allah kemudian, pada alam akhirat, ‘menarik’ mereka yang terlalu jauh menyimpang itu agar dapat kembali lagi bersatu dengan-Nya.

Karena itu, kata Haidar, ketika ada orang lain yang tertimpa musibah atau meninggal dunia, kita dianjurkan mengucapkan inna lillahi wa inna ilahi rajiun. “Kami ini sesungguhnya bagian atau milik Allah dan kepada-Nya juga kami akan kembali.”

 

 

 

YS/islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *