Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 05 September 2018

Mewaspadai Pesona Dunia Sepanjang Usia


Mewaspadai Pesona Dunia Sepanjang Usia

islamindonesia.id – Mewaspadai Pesona Dunia Sepanjang Usia

 

Dalam kitab Al Hikam, Hikmah ke 23 disebutkan:

لا تَتَرقَّب فراغَ الأَغْيارِ، فإنَّ ذلِكَ يَقْطَعُكَ عَنْ وُجودِ المُراقَبَةِ لَهُ فيما هُوَ مُقيمُكَ فيهِ.

Artinya: Jangan mengharapkan kosongnya selain Allah, karena itu akan menjauhkan kamu dari adanya pengingatan kepada Allah di dalam maqam yang telah diberikan kepadamu.

Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

[سورة آل عمران 14]

Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Ayat ini menunjukkan bahwasanya dunia ini penuh dengan perkara menawan dan melalaikan yang menyebabkan jauhnya hamba dari Allah SWT. Bagaimanapun manusia berusaha untuk membersihkan dirinya dari kesibukan dunia, maka dia tidak akan bisa, selama dia hidup di dunia ini.

Ketika dia masih muda maka dia menganggap masa muda adalah masa yang harus dilalui dengan menuruti nafsu birahi. Setelah melewati masa muda akan hilang sendiri nafsu birahi itu. Pemikiran ini menjadikan dia semakin tenggelam dalam nafsunya.

Ketika dia hidup di Eropa, Amerika, atau di belahan dunia yang lain, baik untuk belajar atau bekerja, dia berangan-angan bahwasannya dia tidak bisa lepas dari lingkungan yang merusak agama ini. Pilihannya cuma satu, yaitu menunggu selesainya tugas yang dia lakukan di tempat itu. Keadaan ini menyebabkan dia semakin tenggelam dalam kerusakan dengan tanpa merasa dia butuh meminta perlindungan kepada Allah SWT.

Maka di sini Syekh Ibnu ‘Athaillah menasihati supaya kita tidak menunggu bisa lepas dari urusan duniawi, karena hal itu tidak akan bisa dihindari. Ketika muda dia mempunyai urusan duniawi yang membahayakan. Begitu juga di usia tua juga banyak rintangan. Ketika hidup di negara Eropa, tidak akan hilang urusan dunia dengan pindah ke negara aslinya, karena di negara aslinya juga banyak urusan dunia.

Bagaimana bisa lepas dari urusan dunia padahal dirimu penuh dengan urusan dunia?

Hatimu berbicara tentang keistimewaanmu, amal ibadahmu, itu adalah urusan dunia yang merusakmu walaupun engkau hidup sendirian di tempat tersembunyimu.

Gundah hatimu karena dicaci orang, perasaan sakit hatimu karena dimusuhi orang, itu juga termasuk bahaya yang terus-menerus akan bersamamu.

Keinginanmu untuk mempunyai rumah yang bagus, keinginanmu kepada kesenangan-kesenangan yang tidak kau dapatkan, semuanya itu perkara yang menyibukkanmu sehingga engkau rusak karena engkau lupa akan Allah SWT.

Lalu bagaimana kita menghadapi kesibukan kita dengan urusan dunia ini?

Cara satu-satunya adalah lari kepada Allah SWT. Arti lari kepada Allah SWT adalah memperbanyak berdoa, mengadu tentang betapa ringkihnya kekuatanmu, beserta memperbanyak ingat kepada Allah SWT dengan berzikir. Manusia yang mengobati dirinya dengan obat ini maka Allah SWT akan menjadikan obat ini sebagai perahu penyelamat di bahtera lautan yang penuh dengan ombak keduniawian. Dia melakukan perdagangan, berinteraksi dengan masyarakat yang banyak, ada yang baik ada yang jelek, banyak teman di sekolah yang jauh dari Allah SWT.

Di dalam lingkungan yang rusak ini, dia akan mendapatkan kapal penyelamat kalau dia lari meminta kepada Allah SWT supaya dilindungi dari kerusakan-kerusakan lingkungannya. Penyelamat itu adalah berdoa kepada Allah SWT dengan sepenuh hati, dan memperbanyak zikir mengingat Allah SWT.

Hal-hal semacam itulah yang dilakukan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka menyebarkan agama Islam di penjuru dunia yang penuh dengan kerusakan, kefasikan, fitnah harta dan jabatan. Mereka selamat dari fitnah dunia karena mereka bertawakkal kepada Allah SWT dengan tawakkal yang hakiki (bukan hanya ucapan sebagaimana tawakkal kita), menghadapi dunia dengan senjata muraqabatullah, berzikir kepada Allah SWT, dan memperbanyak berdoa kepada Allah SWT supaya terlindungi dari fitnah-fitnah dunia yang ada di depannya.

Seandainya orang Islam pada zaman sekarang ini berpegang teguh kepada hikmahnya Syekh Ibnu ‘Athaillah Assakandari ini yang diambil dari Al Qur’an dan As Sunnah serta cerita dari Salafus Shaleh, maka Allah SWT akan memberikan pertolongan-Nya, sebagaimana Allah SWT menolong para sahabat Nabi Muhammad SAW.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *