Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 17 April 2018

Kajian – Serangan Rudal ke Suriah: Kemungkinan Perang yang Membesar dan Kebohongan Barat


Serangan Rudal ke Suriah. Photo: Hassan Ammar/AP

islamindonesia.id – Serangan Rudal ke Suriah: Kemungkinan Perang yang Membesar dan Kebohongan Barat

 

Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Minggu (15/04/18) memberikan peringatan tentang serangan negara-negara Barat ke Suriah. Menurutnya apabila eskalasi serangan tersebut ditingkatkan lagi maka dunia akan terbawa ke dalam keaadaan kacau-balau. Bersamaan dengan itu, Washington bersiap untuk meningkatkan tekanan pada Rusia dengan sanksi ekonomi baru.

Presiden Rusia Vladimir Putin. Photo: Yuri Kadobnov | POOL | Reuters

Presiden Rusia Vladimir Putin. Photo: Yuri Kadobnov | POOL | Reuters

Pihak Kremlin mengatakan, dalam sebuah percakapan melalui telepon dengan Presiden Iran Hassan Rouhani, baik Putin maupun Rouhani sepakat bahwa serangan Barat ke Suriah telah merusak peluang untuk mencapai resolusi politik dalam konflik yang sudah berlangsung selama tujuh tahun tersebut.

“Vladimir Putin, khususnya, menekankan bahwa jika tindakan yang dilakukan dengan melanggar Piagam PBB  tersebut terus dilakukan, maka itu akan menyebabkan kekacauan dalam hubungan internasional yang tidak dapat dielakkan,” kata Kremlin.

Sementara itu, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan kepada CBS, bahwa AS akan mengumumkan sanksi ekonomi baru pada hari Senin kepada pihak-pihak yang memasok perlengkapan untuk senjata kimia yang diduga digunakan oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Pada hari Sabtu, AS, Perancis, dan Inggris meluncurkan 105 rudal yang menargetkan—apa yang dikatakan Pentagon—tiga fasilitas senjata kimia di Suriah. Serangan tersebut merupakan serangan balasan atas dugaan serangan gas beracun yang terjadi di Douma pada 7 April.

Negara-negara Barat menyalahkan Assad atas serangan di Douma yang menewaskan puluhan orang. Pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia, membantah terlibat dalam serangan semacam itu.

Serangan rudal terhadap Suriah merupakan sebuah penanda yang sangat jelas bahwa negara-negara Barat telah melakukan intervensi terhadap aliansi Suriah dan Rusia.

Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan pada hari Minggu, bahwa dia telah meyakinkan Trump—yang sebelumnya mengatakan ingin menarik pasukan AS keluar dari Suriah—untuk tetap di Suriah dalam “jangka panjang”.

AS, Perancis, dan Inggris mengatakan serangan rudal itu hanya menargetkan fasilitas senjata kimia Suriah dan tidak ditujukan untuk menjatuhkan Assad atau turut campur tangan dalam perang sipil Suriah. Macron mengatakan dalam wawancara yang disiarkan oleh BFM TV, radio RMC, dan berita online Mediapart, bahwa dia telah meyakinkan Trump untuk fokus hanya pada situs senjata kimia saja.

 

Kerusakan yang Lebih Besar bagi AS dan Eropa

Menanggapi pernyataan Haley tentang rencana sanksi baru, Evgeny Serebrennikov, Deputi Kepala Komite Pertahanan di Majelis Tinggi Parlemen Rusia, mengatakan bahwa Moskow siap untuk menerima sanksi, sebagaimana dilansir dari kantor berita RIA.

“Mereka (sanksi) sulit bagi kami, tetapi (kami) akan melakukan kerusakan yang lebih banyak kepada AS dan Eropa,” kata Serebrennikov sebagaimana dikutip RIA.

Sebelumnya di Damaskus, wakil menteri luar negeri Suriah, Faisal Mekdad, bertemu dengan inspektur dari Pengawas Senjata Kimia Global (OPCW) selama sekitar tiga jam di hadapan para perwira Rusia dan seorang pejabat keamanan senior Suriah.

Para inspektur tersebut hadir di Suriah untuk mengunjungi situs di Douma. Moskow mengutuk negara-negara Barat karena menolak menunggu temuan OPCW sebelum menyerang.

Mekdad menolak untuk mengatakan apapun kepada wartawan yang menunggu di luar hotel tempat pertemuan tersebut berlangsung.

Kepada beberapa orang anggota parlemen Rusia yang berkunjung ke Suriah, Assad mengatakan bahwa serangan rudal Barat adalah tindakan agresi, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Rusia.

Media-media Rusia mengutip anggota parlemen, mereka mengatakan bahwa Assad sedang berada dalam “suasana hati yang baik”, dan memuji sistem pertahanan udara era Soviet yang digunakan Suriah untuk menangkal serangan Barat. Assad juga telah menerima undangan untuk mengunjungi Rusia pada waktu yang belum ditentukan.

Setelah serangan tersebut, di dalam akun Twitter-nya, Trump mengatakan bahwa”misi telah diselesaikan”, meskipun Letnan Jenderal AS Kenneth McKenzie di Pentagon mengatakan bahwa unsur-unsur misi tetap berlangsung, dan dia tidak menjamin bahwa Suriah tidak akan melakukan serangan kimia di masa depan.

Militer Rusia dan Iran selama tiga tahun terakhir telah membantu Assad melawan pemberontak yang berusaha untuk menggulingkannya.

Meskipun Israel telah seringkali mendesak AS untuk terlibat lebih banyak dalam melawan Assad dan bala bantuannya di Suriah—orang-orang Iran dan orang-orang Lebanon yang tergabung dalam Hizbullah, namun dalam serangan Rudal oleh Barat pada hari Sabtu, Israel hanya menyatakan dukungannya saja.

 

Resiko Konfrontasi yang Lebih Luas

Pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayyid Hassan Nasrallah, mengatakan pada hari Minggu bahwa serangan Barat ke Suriah telah gagal mencapai apa pun, termasuk meneror tentara (pro Assad), membantu pemberontak, atau pun melayani kepentingan Israel.

Nasrallah mengatakan militer AS telah membuat serangannya terbatas karena tahu serangan yang lebih luas akan memicu pembalasan dari Damaskus dan sekutu-sekutunya dan mengobarkan wilayah tersebut ke dalam konfrontasi yang lebih besar.

 

Kebohongan Tentang Senjata Kimia dan Propaganda Barat

Tuduhan Barat terhadap Assad yang diberitakan membantai rakyatnya dalam perang dan juga menggunakan senjata kimia disangkal oleh beberapa aktivis dan wartawan idependen yang tidak tergabung dengan media-media besar. White Helmets, sebuah organisasi relawan di Suriah, oleh mereka diduga telah memanipulasi banyak video dan berita yang menyudutkan Assad.

Eva Bartlett, seorang jurnalis asal Kanada, mengatakan bahwa media-media Barat dan Organisasi Internasional bergantung terhadap informasi yang diberikan oleh White Helmets. Mereka ditemukan seringkali memanipulasi berita dan “mengolah” video menggunakan aktor-aktor yang seolah menjadi korban keganasan Assad. Bahkan para aktor tersebut seringkali ditemukan di dalam photo/video yang berbeda, dengan kata lain, itu semua hanya kebohongan. Simak penjelasan selengkapnya dari video di bawah ini oleh Eva Bartlett:

Courtesy: in the now

Carla Ortiz, seorang artis asal Bolivia, belakangan ini juga cukup aktif untuk mengungkap apa yang terjadi di Suriah. Di dalam video kunjungannya ke Aleppo setelah kota tersebut dibebaskan dari para pemberontak, Ortiz menemukan bukti-bukti keterkaitan White Helmets dengan pemberontak. Simak videonya di bawah ini:

Courtesy: Carla Ortiz

Kemudian, belum lama ini, Tentara Suriah (SAA), setelah membebaskan Ghouta, justru menemukan laboratorium kimia milik pemberontak yang digunakan oleh para pemberontak untuk membuat senjata kimia. Simak videonya di bawah ini:

Courtesy: Cerdas Geopolitik

 

PH/IslamIndonesia

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *