Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 29 March 2016

KAJIAN – Seputar Hadis 73 Golongan dalam Islam (1)


Kajian Seputar Hadis 73 Golongan dalam Islam

 

Dalam beberapa kesempatan Redaksi Islam Indonesia mendapat pertanyaan seputar hadis 73 golongan (firqoh) dalam Islam. Berbagai pihak itu menghimbau Islam Indonesia memberikan kajian kritis atas matan dan sanad hadis tersebut. Di antara para penanya adalah ayah dari putri yang masih belajar di tingkat sekolah dasar di salah satu sekolah Islam di bilangan Jakarta Selatan. Ayah itu mengeluhkan tentang putrinya yang, alih-alih belajar kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama umat Islam atau sesama manusia secara umum, malah mulai belajar mencurigai, mewaspadai, membenci dan menjauhi golongan-golongan Islam lain — kecuali satu golongan. Dasar yang disampaikannya adalah hadis 73 golongan yang sering disampaikan gurunya di kelas.

Selain itu, hadis 73 golongan ini telah menjadi hadis favorit dan pegangan utama paham takfiri dan ideologi-ideologi ekstremis lain untuk mengobarkan kebencian di antara sesama Muslim. Berdasarkan hadis ini pula mereka mengkafirkan dan memerangi golongan-golongan Islam yang berbeda pemahaman. Singkatnya, hadis ini praktis telah menjadi sumber perpecahan, ekstremisme, pengkafiran dan munculnya ideologi-ideologi eksklusif yang merasa benar sendiri dan akhirnya ingin menafikan semua golongan lain selain golongannya sendiri.

Untuk itu, Redaksi Islam Indonesia merasa perlu memaparkan kajian kritis seputar hadis 73 golongan ini. Dan sebagaimana lazimnya studi kritis hadis, ada dua aspek penting yang akan menjadi sorotan di sini, yakni aspek kesahihan matan (teks) dan aspek kesahihan sanad. Studi atas aspek matan akan menyoroti kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan berbagai prinsip akidah lain, sementara aspek kesahihan sanad akan menyoroti dan menimbang kredibilitas para perawi dan pembawa hadis ini. Demikian semoga kajian ini dapat memberi pemahaman yang lebih tepat ihwal Islam. Yang lebih penting lagi, kritik ini semoga dapat menghilangkan kebencian dan permusuhan di dalam internal umat yang merupakan bahaya serius bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

DARI ENAM AHLI hadis paling terkenal, hadis 73 golongan dalam Islam dicatat oleh tiga muhadis, yaitu Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah dan Imam Turmudzi. Sedangkan tiga muhadis lain, yang lebih tinggi integritas dan kredibilitasnya, yaitu Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Al-Nasa’i, tidak mencantumkan ‘hadis 73 golongan’ itu dalam kitab-kitab hadis yang mereka susun.

Selain tiga dari enam ahli hadis yang mengumpulkan Enam Kitab Hadis (Kutubusittah) paling utama, ada beberapa ahli hadis yang meriwayatkan hadis ini. Sebut saja, misalnya, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ath-Thabrani, Imam Ad-Darimi dan lainnya. Namun, kajian kita hanya terbatas pada ‘hadis 73 golongan’ yang ada di dalam Kutubussittah yang diakui sebagai paling kredibel dan paling utama.

Untuk itu, marilah kita perhatikan beberapa redaksi hadis 73 golongan yang terkenal berikut ini:

Hadis 1

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Yahudi terbagi atas tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Sedangkan Nasrani terbagi atas tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Dan umatku kelak terbagi atas tujuh puluh tiga golongan.'” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Turmudzi)

Hadis 2

‘Auf bin Malik berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Yahudi terbagi atas tujuh puluh satu golongan, satu di dalam surga dan tujuh puluh lainnya di dalam neraka. Nasrani terbagi atas tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu golongan di dalam neraka, dan satu golongan di dalam surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya umatku kelak terbagi atas tujuh puluh tiga kelompok. Seorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Rasulullah menjawab, ‘Al-Jama’ah.'” (HR. Ibnu Majah)

Hadis 3

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Bani Israil terbagi atas tujuh puluh satu golongan. Dan sesungguhnya umatku kelak terbagi atas tujuh puluh dua golongan. Semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan saja, yaitu Al-Jama’ah.'” (HR. Ibnu Majah)

Hadis 4

‘Abdullah bin ‘Amr berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘… dan sesungguhnya Bani Israil terbagi atas tujuh puluh dua aliran. Sedangkan umatku kelak terbagi atas tujuh puluh tiga aliran. Semuanya di dalam neraka, kecuali satu aliran. Mereka bertanya, ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang ada padaku dan sahabat-sahabatku.'” (HR. Turmudzi)

 

Pembahasan Matan Hadis

Dari hasil penelusuran tim Islam Indonesia, kami mendapati perbedaan redaksi hadis nomor 1 di atas. Hadis ini berasal dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah yang kemudian disandarkan kepada Abu Salamah dari Abu Hurairah r.a. Artinya, Abu Hurairah sebagai sahabat Nabi Muhammad saw tidak menyampaikan hadis ini kepada siapa pun selain Abu Salamah. Abu Salamah juga tidak menyampaikan hadis tersebut kepada siapa pun selain Muhammad bin ‘Amr. Jadi, hadis ini hanya bersumber kepada Muhammad bin ‘Amr. Adapun catatan tentang sosok Muhammad bin ‘Amr akan disajikan pada bagian pembahasan sanad.

Anehnya, hadis yang berasal dari Muhammad bin ‘Amr ini memiliki redaksi yang berbeda-beda dalam beberapa kitab. Misalnya, redaksi hadis dari Muhammad bin ‘Amr di kitab hadis Imam Abu Dawud berbeda dengan redaksi hadis dari Muhammad bin ‘Amr di kitab hadis Imam Ibnu Majah dan Imam Turmudzi. Kesamaan hanya terdapat pada kalimat akhir. Perhatikan hasil scan kitab masing-masing imam hadis tersebut:

Kajian Seputar Hadis 73 Golongan dalam Islam

Sunan Abu Dawud juz 7 hadis nomor 4596

sunan-ibnu-majah-juz-5-hadis-3991

Sunan Ibnu Majah juz 5 hadis 3991

sunan-turmudzi-juz-4-hadis-2640

Sunan Turmudzi juz 4 hadis nomor 2640

 

Fakta ini mengindikasikan bahwa periwayatan hadis nomor 1 di atas tidak melalui catatan tertulis melainkan hanya melalui hafalan. Dan periwayatan hadis melalui hafalan membuka lebar kemungkinan distorsi teks yang menyebabkannya sulit diterima oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Selain itu, hadis nomor 1 di atas hanya menyebutkan perpecahan umat Yahudi menjadi 71 golongan, Nasrani menjadi 72 golongan dan umat Nabi saw menjadi 73 golongan. Dengan kata lain, hadis yang disandarkan kepada Abu Hurairah r.a ini tidak menyebutkan ‘semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja.’

Lain halnya dengan riwayat hadis nomor 2, 3, dan 4 di atas. Hadis-hadis tersebut menyebutkan bahwa seluruh umat Rasulullah saw kelak masuk neraka, kecuali satu golongan saja. Jelas hadis-hadis tersebut bertentangan dengan riwayat hadis nomor 1 yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Turmudzi.

Marilah kita mulai pembahasan seputar hadis nomor 1. Dari sisi redaksi, hadis tersebut bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai berikut.

Pertama, sekalipun Allah menyatakan dalam surah Al-Maidah ihwal perselisihan di kalangan umat Yahudi (QS. Al-Maidah [5]: 64)  dan Nasrani (QS. Al-Maidah [5]: 14) namun Allah sama sekali tidak menyebutkan adanya perselisihan di antara umat Islam di dalam Al-Qur’an. Bahkan, Allah menegaskan tentang persatuan dan persaudaraan di antara mereka. Misalnya, Allah berfirman dalam surah Al-Hujurat (QS. Al-Hujurat [49]: 10) yang menegaskan kaum beriman itu bersaudara dan wajib untuk mendamaikan perselisihan di antara mereka.

Kedua, sekalipun ada perselisihan di dalam internal umat Yahudi dan Nasrani, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka telah menjadi 71 atau 72 golongan di masa Rasul maupun masa-masa setelahnya. Boleh jadi perpecahan umat Yahudi maupun Nasrani lebih banyak dari angka yang disebutkan atau lebih sedikit. Tidak ada survey yang meyakinkan tentang perpecahan kedua umat tersebut sesuai dengan angka yang konon disabdakan oleh Rasulullah di atas. Pertanyaannya, mungkinkah Rasulullah salah? Atau yang lebih mungkin, hadis ini yang lemah dan tidak bersumber dari lisan suci beliau?

Ketiga, Allah Swt telah menjadikan umat Islam sebagai umat yang satu, umat yang terbaik dan seterusnya. Bagaimana bisa umat yang terbaik menjadi terpecah belah lebih banyak dari umat Yahudi dan Nasrani?

Mari kita perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

Ayat 1

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Ayat 2

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 110)

Ayat 3

“Sesungguhnya ini umat kalian umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 92)

Ayat 4

“Sesungguhnya ini umat kalian umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 52)

Ayat 5

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 213)

Kesimpulan ayat-ayat di atas menegaskan dua hal yang jelas bertolak belakang dengan teks hadis-hadis di atas: Pertama, bahwa umat Rasulullah adalah umat yang satu; Kedua, bahwa umat beliau adalah umat yang terbaik, yang menjadi saksi bagi umat-umat lain. Nah, bagaimana mungkin kita dapat menerima hadis yang lemah yang bertentangan dengan nash Al-Qur’an yang sharih, lugas dan tegas seperti ayat-ayat di atas? Jawabnya tentu tidaklah mungkin.[]

 

Tom/Islam Indonesia

4 responses to “KAJIAN – Seputar Hadis 73 Golongan dalam Islam (1)”

  1. fuad says:

    hadis “perpecahan umat” yg selama ini buat senjata pembenaran diri sdh tdk benar lagi.

  2. Kimmy says:

    Lalu, bagaimana dengan Islam Indonesia? masuk ke sekte atau apa ya? Lalu mengapa mengeksklusifkan diri dengan nama “Islam Indonesia”? Mohon bimbingannya, saya awam. thanks

    • Alam says:

      Islam adalah agama, yang ada di Indonesia, jadilah Islam Indonesia. Tidak ada yg eksklusif dalam kalimat itu.

  3. Pak Gendoed says:

    73=selisih 4 jumlah 10=1
    7 adalah martabat 7.
    3 adalah tri tunggal maha kudus.
    4 adalah unsur alam semesta.
    1 adalah pancer.
    0 shuwung / bibit purwaning ono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *