Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 26 April 2016

KAJIAN–Mengapa Terjadi Gap antara Islam dan Perilaku Umatnya? (Penutup)


lifelong-learning-skills-gap

Islamindonesia.id–Mengapa Terjadi Gap Antara Islam dan Perilaku Umatnya? (Penutup)

Pada kajian sebelumnya, kita telah memahami beberapa alternatif jawaban atas terbentangnya gap antara Islam sebagai agama yang luhur dan perilaku penganutnya. Atau secara singkat dapat kita katakan sebagai interaksi negatif di antara Islam dan pemeluknya. Sekarang, marilah kita kaji ihwal faktor-faktor yang dapat memperlemah pengaruh agama terhadap manusia sehingga alih-alih terjadi suatu interaksi positif, malah yang terjadi justru interaksi yang negatif. Dalam kasus ekstremnya, interaksi negatif tidak mustahil memperlihatkan situasi seorang yang kian tampak Muslim tapi kian bersikap dan berperilaku munafik dan zalim.  Di antara faktor-faktor yang dapat memunculkan interaksi negatif itu adalah sebagai berikut:

? Fanatisme atau menutup mata di hadapan kebenaran atau kenyataan. Fanatisme adalah cikal-bakal banyak perilaku buruk lain yang merusak pengaruh agama. Dengan hidupnya fanatisme pada diri seseorang atau suatu masyarakat, maka alih-alih menjadi sumber pencerahan dan peradaban, agama akan menjadi sumber pertikaian, permusuhan dan pertumpahan darah.

? Cara berpikir yang memandang agama dari kejauhan. Pola pikir ini berupaya membentuk realitas keagamaan sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi kepentingan, keinginan dan keenakannya sendiri atau sekelompok orang tertentu. Sebagai contoh, banyak orang beranggapan bahwa agama adalah sesuatu yang jauh di atas sana: transendental, mistis, dan lain sebagainya. Dengan pandangan ini seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa tiada manusia yang bisa menjalankannya secara sempurna. Mungkin hanya nabi dan sahabat-sahabatnya yang dapat menjalankan agama ini. Ini adalah suatu pandangan yang amat keliru. Akibat pandangan seperti ini, maka nilai-nilai dan ajaran-ajaran itu hanya akan menjadi sekedar ucapan di lisan  dan tampilan di badan; ia tak pernah benar-benar menginspirasi suatu gerakan kemajuan, perlawanan atas ketidakadilan dan aksi-aksi kemanusiaan lain. Singkatnya, agama hanya jadi pajangan, aksesoris dan etalase, yang tak ikut menggerakkan motivasi dan aksi tiap-tiap orang yang mengaku beragama.

? Ekstremisme, baik ifrath (terlalu pasif) maupun tafrith (terlalu aktif) dan membuang jalan tengah. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan, yaitu agar kalian (bisa) menjadi saksi atas manusia dan Rasulullah menjadi saksi atas kalian.” ( al-Baqarah 2:143). Sayidina Ali berkata, “Jalan kanan dan kiri itu menyesatkan. Jalan tengah itulah yang lurus.” Ekstremisme adalah pola berpikir menarik sesuatu sampai batas paling ujung, yang pada hakikatnya bertentangan dengan rasionalitas dan fitrah manusia yang mencari keseimbangan. Hukum alam semesta, rasionalitas dan fitrah manusia sesungguhnya selaras dengan keseimbangan yang ditawarkan agama, dalam hal ini Islam. Namun demikian, sikap ekstrem telah menyeretnya ke salah satu ujung, hingga tak lagi seimbang dan jatuh ke dalam terlalu kurang atau terlalu lebih dan keduanya merusak pengaruh agama.

? Sikap jumud. Biasanya, sikap jumud datang dari sikap hati-hati yang berlebihan. Sikap ini membawa pola pikir yang kaku tentang kesempurnaan agama dan evolusi manusia. Kehidupan dipandang sebagai bongkahan batu yang beku, sehingga apa saja yang terkait dengannya, termasuk agama, harus pula beku dan kaku.

? Berwawasan sempit atau close-mindedness. Orang yang berwawasan sempit cenderung menganggap orang lain bodoh dan tidak mengetahui apa-apa. Sebalikya, dirinya adalah orang yang pandai. Titik ekstrim dari proses ini akan menjebak seseorang pada pola berpikir absolutis dan menyalahkan – atau mengkafirkan – orang lain.

?Menjalankan agama secara parsial atau tidak kaffah. Ini merupakan faktor yang dapat memperlemah pengaruh agama pada diri seseorang atau suatu masyarakat. Bahkan, dengan menjalankan agama secara parsial, seseorang telah memasung agama itu sama sekali. Karena, agama bersifat integral dan organistik.

? Beragama secara emosional. Ini dapat mementahkan pengaruh agama karena emosi manusia itu berciri impulsive, cepat lenyap, labil, superfsial, insidental, dan lain-lain.

? Mengenal agama selain dari sumber-sumber utama yang telah ditetapkan agama: Al-Qur’an, sunnah yang sahih, dan akal. Banyak sekali orang beragama yang sandarannya bukan pada sumber-sumber tersebut. Seperti hadis yang tidak sahih, otoritas yang tidak berwawasan, popularitas, tendensi personal, mimpi, budaya, trend, praduga, dan lain-lain.

? Hawa nafsu adalah musuh terbesar yang selalu akan menghilangkan pengaruh agama pada manusia. Hawa nafsu adalah desakan hasrat dalam diri manusia yang mengantarkan manusia menuju sesuatu yang menyenangkan saja. Seringkali hawa nafsu mengalihkan pandangan manusia dari realitas ke fantasi karena realitas itu tidak selalu menguntungkan dan menyenangkannya.

? Sikap manipulatif dalam menjalankan agama. Sikap ini umumnya berlaku di kalangan orang-orang yang kenal dengan agama tapi memiliki ambisi dan kepentingan pribadi yang kental. Mereka biasanya menjustifikasi tindakan-tindakan yang mereka sadari tidak benar dengan dalil-dalil agama yang palsu.

? Group pressure atau group-mind (desakan dan pikiran kelompok). Al-Qur’an mendorong individu untuk berpikir secara sendiri-sendiri tanpa dibayangi oleh lingkungan sekitarnya. Ini tentunya tidak berarti manusia harus bersikap egoistis dengan tidak mempedulikan orang lain sama sekali. Tetapi, Islam ingin mengatakan bahwa urusan Anda adalah urusan Anda, sebelum Anda mengurus orang lain. Islam mengajak kita untuk menilai diri sendiri, bukan menilai orang lain; mewaspadai keburukan dari diri sendiri lebih sering sebelum menghitung keburukan orang lain. Tidak ada seorang pun yang bisa menguntungkan orang lain dengan membahayakan diri sendiri; dan sebaliknya Anda bisa membahayakan orang banyak dengan mencelakakan diri sendiri. Maka itu, ajaran Islam sangat menekankan kebaikan yang dimulai dari diri sendiri: Ibda’ bi nafsik (Mulailah dari dirimu sendiri).

? Sikap asosial sebagai kebalikan dari poin di atas dan akibat dari masuknya sikap ekstrimis dalam melihat agama. Maka, orang mengira bahwa menjalankan agama tidak perlu memperhitungkan kepentingan orang banyak. Dalam menjalankan agama, orang ini mengira bahwa agama itu adalah aturan egoistik-individualistik. Agama diprivatisasi, dan kehilangan makna serta efeknya di ruang-ruang publik. Sikap seperti ini banyak menjangkiti mereka yang tidak mengenal falsafah syariat dan aturan-aturan secara benar dan mendalam. Fenomenanya dapat kita lihat ketika sekelompok orang menyelenggarakan ritus keagamaan dengan mengganggu kepentingan dan ketertiban umum secara reguler, bukan sekali-kali. Ketidakpekaan ini lahir akibat pandangan bahwa agama adalah urusan privat, individualistis dan egoistis.

? Mengabaikan konteks ruang dan waktu. Sikap yang demikian menjadi faktor utama pelemahan agama, karena semua aturan agama memiliki aspek ruang dan waktu, memiliki konteks situasi dan kondisi tertentu.

Demikianlah sebagian dari faktor-faktor yang dapat memperlemah pengaruh dan aksi agama, dalam hal ini Islam. Faktor-faktor ini, sebagaimana telah dijelaskan, bahkan dapat membalik pengaruh luhur Islam menjadi pengaruh yang berbahaya dan mengancam kehidupan individu maupun masyarakat tertentu. Contoh anyar dapat kita lihat pada sekelompok orang ekstremis yang dapat melakukan aksi teror dengan bom bunuh diri atau aksi brutal lain atas nama agama. Di sini kita melihat pengaruh agama itu justru mengalami kontraindikasi.

Wallahu a’alam bishowab.

 

Edy&AJ/ IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *