Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 14 May 2017

KAJIAN – Lupa Diri, Lupa Kepada Allah


self_reflection

islamindonesia.id – KAJIAN – Lupa Diri, Lupa Kepada Allah

 

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”QS. al-Hasyr: 19.

Lupa diri merupakan penyakit jiwa yang berbahaya. Orang yang mengidap penyakit jiwa ini lupa akan hakikat kemanusiaan dirinya.

Ia lupa bahwa di “penjara” alam dunia ini dirinya hanya sekecil atom yang bukan apa-apa. Untuk dapat tetap hidup, setiap saat memerlukan karunia dan pemberian Allah Swt.

Individu semacam ini menyangka dirinya mandiri dan tidak bergantung pada yang lain. Dia terseret oleh perasaan bangga dan besar-diri. Pikirnya, orang lain harus melayani dirinya. Akar keburukan dan penyakit ini ialah melupakan Allah.

Kesimpulannya, dia tidak memanfaatkan hakikat kemanusiaannya. Ialah hakikat yang disebut “hati” oleh Al Qur’an, dan yang menjadi wadah pengetahuan hakikat-hakikat ilahiah dan sifat-sifat insani yang tinggi.

Kehidupan Sengsara dan Kebutaan di Akhirat

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” QS. Thoha: 124

Orang yang berpaling dari mengingat Allah Swt niscaya melupakan tujuan penciptaan dan kehidupan setelah kematian. Dia menganggap segala sesuatu hanya sebatas pada kehidupan dunia. Oleh karenanya, dia enggan meninggalkan dunia fana ini.

Sekiranya orang kaya dan berkuasa di dunia ini, serta memiliki kekayaan dan harta melimpah, rakus dunia dalam dirinya tak akan pernah tercukupi dan terpuaskan. Problem sebenarnya bagi orang seperti ini adalah jiwanya senantiasa kehausan dan dia tidak mampu memuaskan dahaga jiwanya dengan hal-hal material. Pada hakikatnya, dahaga jiwa manusia bakal terpuaskan dengan mengingat Allah Swt.

Sangat banyak orang yang mengabaikan tanda-tanda kekuasaan dan hikmah Ilahi. Mereka hanyut dalam persoalan materi sehingga lalai dari mengingat Allah Swt yang merupakan sumber kehidupan materi dan spiritual.

Pada hakikatnya, orang seperti ini tidak beroleh penglihatan hati. Pilihannya di dunia akan membawa dampak akhir bagi akhirat. Menyebabkan dia akan digiring (di alam mahsyar) dalam keadaan buta dan tidak bisa melihat tanda-tanda kasih sayang dan kemurahan Allah Swt. Pada hari itu, dia tak melihat jejak-jejak rahmat dan kasih sayang Allah yang amat dia perlukan. Yaitu jejak-jejak rahmat dan kasih sayang Allah, yang meliputi orang-orang mukmin dan memberi ketenangan bagi mereka.

Kemudian ayat tersebut melanjutkan:

Hamba yang digiring oleh Allah dalam keadaan buta ini mengatakan, “Tuhanku, dulu (di dunia aku melihat, mengapa Engkau menggiring aku dalam keadaan buta?.”

Allah menjawab; “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan. Sebagaimana tanda-tanda Kami datang untukmu dan kamu melupakannya, maka hari ini kamu pun dilupakan. QS. Thoha: 124.

Ketika manusia berpaling dari mengingat Allah Swt dan tak peduli pada tanda-tanda-Nya, bahkan enggan menyimak orang lain yang membacakan ayat-ayat Allah kepadanya dan menutup mata hatinya terhadap hakikat dan makrifat, pada hari kiamat akan digiring dalam keadaan buta hati. Sebagaimana dia di dunia melupakan tanda-tanda Allah Swt, maka Allah pun melupakan dia. Yang jelas, ini tak berarti.

Kenyataannya dia dilupakan dan keluar dari perhatian Allah Swt. Maksudnya, dia tak beroleh tanda-tanda rahmat dan nikmat Allah, dan Allah Swt menimpakan hukuman dan azab kepadanya.

Kuasa Setan

“Barangsiapa berpaling dari mengingat kepada Allah Yang Maha Pengasih, maka Kami tempatkan baginya setan supaya diikutinya.” QS. Az-Zukhruf: 36

Orang yang lalai dari mengingat Allah Swt, siap dikuasai setan dan was-was setani. Karena semakin jauh manusia dari mengingat Allah Swt, semakin dekat dengan perkara-perkara material dan kenikmatan-kenikmatan duniawi, serta serta semakin terpikat fenomena-fenomena material dan keterikatan duniawi. Ketika tujuan-tujuan material dan kaitan-kaitan duniawi mengakar pada diri seseorang, maka dia tak peduli apapun untuk mencapai tujuan-tujuan kotornya di bawah naungan was-was setani, dan menerima segala ide dan pikiran setani.[]

 

MY/YS/islamindonesia. Zikir: 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *