Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 29 March 2017

KAJIAN – Kegelisahan dalam Pandangan Al-Qur’an


gelisah

islamindonesia.id – Kegelisahan dalam Pandangan Al-Qur’an

 

Dalam pandangan ilahiah (aliran ketuhanan), mengingat Allah Swt menjalin hubungan dengan wujud mutlak Yang Mahakuasa dan Mahabijak, di mana manusia dalam lindungan-Nya mencapai ketentraman dan terlepas dari kegelisahan.

Demikian pula dengan mengingat Allah Swt, perjalanan kesempurnaannya akan terus berlanjut. Adapun dalam pendangan materialisme yang mengingkari alam metafisik dan imaterial serta menyimpulkan segala sesuatu pada materi, zikir dan menjalin hubungan dengan Allah Sang Pencipta keberadaan tidaklah berarti.

Oleh karena itu dan dikarenakan putus hubungan dengan Allah dan lalai dari zikir kepada Tuhan yang rahmat dan kuasa-Nya tiada batas, manusia jauh dari rahmat dan hidayah Allah Yang Kausa Prima, bergantung pada dirinya sendiri (yang lemah), dan batinnya dipenuhi keguncangan dan kegelisahan.

Melihat kegelisahan ini dan terjadi secara umum di kalangan orang-orang yang tak merasakan bagaimana menjalin hubungan dengan Allah Swt dan tidak mengenal manfaat zikir, yakni ketenangan batin, mendorong kaum eksistensial material melontarkan pandangan ini. Bahwa pada dasarnya, kegelisahan merupakan bagian esensial manusia dan tak terpisahkan darinya.

Dengan kata lain, sebagaimana kita misalnya menetapkan sifat nathiq (yang berakal) sebagai ciri khas manusia yang membedakannya dari seluruh binatang, kaum eksistensialis ini memandang kegelisahan sebagai ciri khas esensial manusia. Dalam pandangan ini, mereka berada di bawah pengaruh lingkungan dan masyarakat sekitar, dan sebenarnya mereka mengambil posisi dipengaruhi.

Sementara di sepanjang sejarah sampai sekarang, kita melihat banyak orang beriman kepada Allah dan para kekasih-Nya yang hati mereka penuh ketentraman. Seandainya kegelisahan sebagai ciri khas manusia, maka orang-orang beriman tersebut tidak ada dan tak pernah ada.

Dalam pandangan Al Qur’an, gelisah lantaran takut kehilangan karunia-karunia dan kesenangan-kesenangan sementara dan karena tak mendapatkan itu semua, adalah keadaan semu bagi manusia. Secara alamiah manusia mencari kebahagiaan dan kesempurnaan.

Jika manusia tak mengenal hakikat dan jalan kebahagiaan dirinya, sehingga tak mampu mencapai kebahagiaan, wajarlah bila dirinya ditimpa kegelisahan dan keresahan. Dia gelisah dan resah, karena tak mengenal Allah Sumber kebaikan dan Sang Pemberi kebahagiaan dan kesempurnaan untuk dapat berhubungan dengan-Nya. Orang semacam ini jika menemukan Sumber segala kebaikan dan menjalin hubungan dengan-Nya, maka rasa gelisahnya akan lenyap.

Apabila mengenal Sumber keberadaan dan kebaikan, Tuhan semesta alam, yang bertanggung jawab mengatur alam dan manusia, maka dengan mudah dia akan bertawakal dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Dia memilih Allah Swt sebagai tumpuan dan kepercayaan yang diyakini takkan mengkhianatinya: “Dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pemelihata”

Ketika seorang hamba bertawakal kepada Allah dan memandang nilai penting Allah Swt sehubungan dengan dirinya, adalah benar demi kebaikan dan manfaat nyata bagi dirinya, maka dia takkan merasa gelisah.

Dia tahu bahwa Allah Swt menginginkan kebaikan baginya dan Dialah yang lebih tahu dari siapapun apa yang terbaik baginya. Oleh karena itu, dia akan bahagia jika Allah Swt menetapkan kebahagiaan baginya.

Karena ia yakin, kebaikannya terletak pada apa yang Allah Swt berikan untuknya. Dia takkan resah jika cobaan dan ujian mendatanginya. Dia yakin, cobaan dan kesulitan tersebut demi kebaikannya. Dengan begitu dia rela dengan kehendak Allah Swt.

Secara alamiah manusia mengejar kebahagiaan dan ketenangan. Dia berupaya mencari suatu keberadaan yang memberinya kebahagiaan dan ketenangan hati, serta menyelamatkannya dari pelbagai cobaan dan musibah di bawah naungannya.

Keberadaan itu tiada lain hanyalah Allah Swt, Sang Kausa Prima dan Pengatur alam semesta. Orang yang mengenal wujud mutlak Yang Mahakuasa ini dan meletakkan dirinya dalam benteng pengaturan-Nya, maka akan mencapai ketenangan mutlak.

Dia yakin, selama Allah Swt tak menghendaki, maka sekalipun bersatu seluruh kekuatan material takkan mampu mendatangkan bahaya bagi-Nya, dan Allah Swt akan menetapkan sesuatu yang terbaik baginya.

Adapun orang-orang yang enggan mengenal Allah Swt, boleh jadi akan berlindung pada apapun dan siapapun selain Allah Swt. Mereka bersandar pada manusia-manusia seperti mereka, bahkan mungkin lantaran kebodohan, memohon perlindungan pada bangsa binatang atau benda-benda mati.

Yaitu keberadaan yang dalam bahasa Al-Qur’an, tak mampunyai ikhtiar atau usaha untuk kepentingan dan kebaikan dirinya, apalagi kemampuan memberi manfaat bagi yang lain dan mencegah bahaya. Dalam mencela pilihan manusia ini, Allah Swt berfirman:

“Katakanlah, Siapakah Tuhan langit dan bumi? Jawabannya, Allah. Katakanlah, Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguadai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”

Orang-orang yang dalam kehidupan bersandar pada selain Allah Swt, takkan berpihak pada sebagian mereka dan takkan menerima kepentingan mereka sendiri. Karena pertama, yang lain mementingkan dirinya sendiri. Kedua, seandainya mereka ingin memberikan kebaikan bagi yang lain, kemampuan mereka terbatas dan dikalahkan oleh kekuatan yang lebih besar, yakni kekuatan di atas semua kekuatan dan yang tak terkalahkan.

Jika orang seperti ini selalu tenang pikirannya dan meraih ketenangan yang tak pernah hilang, dia harus memilih sandaran yang kokoh dan berhubungan dengan Sang Pemilik kekuatan yang kekal, yang mampu menolongnya dalam melepaskan dirinya dari kesengsaraan dan sampai pada kebahagiaan, juga menyelamatkan dari berbagai kesulitan dan cobaan hidup. Hanya dalam hal inilah kegelisahan takkan lagi bersarang dalam dirinya.[]

 

MY/ YS/ Islam Indonesia/ Zikir, 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *