Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 12 May 2016

KAJIAN—Haidar Bagir: Tafsir Al-Qur’an Muhammad Asad (Penutup)


TafsirMuhammadAsad-islamindonesia.id

Islamindonesia.id—Pertemuan Saya dengan Tafsir Al-Qur’an Muhammad Asad (Penutup)

Oleh: Haidar Bagir

Ketujuh, dan ini adalah kelebihan yang sekaligus mencakup semua kelebihan tafsir Asad, The Message of the Quran, ini. Seperti saya singgung sebelumnya, karya Asad ini telah menjadikan Al-Quran sebagai kumpulan firman Allah yang masuk akal (makes sense). Cukup lama kaum Muslim dihadapkan pada penafsiran-penafsiran tradisional yang sering kali sulit diterima akal sehat dan, sebagai konsekuensinya, orang cenderung diminta menerimanya secara apa adanya dengan menyatakan bahwa ia harus diimani tanpa tanya. Pendekatan seperti ini hanya menjadikan Al-Quran sebagai Kitab Suci yang bukan saja “mati”, melainkan juga dapat mengukuhkan kecenderungan irasionalitas orang-orang beragama—dalam kasus ini, orang-orang Muslim. Malah, bagi yang skeptis, hal ini dapat berakibat terjadinya kehilangan kepercayaan pada kebenaran Al-Quran. Di sinilah menurut saya sumbangan terbesar The Message of the Quran bagi dakwah Islam, dan bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Islam yang progresif, terbuka, tapi tetap autentik.

Tidak dengan demikian, seperti saya singgung sebelumnya, tak ada bagian-bagian dari tafsir Asad yang membuka peluang bagi kritik dan perbedaan pendapat. Sebagian sebagai akibat pendekatan rasional Asad. Mari kita ambil contoh.

Dalam menafsirkan ayat yang diulang-ulang dalam Surah Al-Rahmân (surah ke-55), yakni:

“Dan âlâ’ Tuhanmu yang mana lagi yang kamu sangkal?”

Asad, tidak seperti makna yang diberikan oleh para ahli tafsir pada umumnya, menerjemahkan kata âlâ’ sebagai “kuasa Pemeliharamu”, dan bukan “nikmat”.

Alasannya mudah diduga. Dalam surah yang sama, Allah menyebut bentuk-bentuk siksa neraka tertentu sebagai âlâ’ berarti karunia (QS Al-Rahmân [55]: 36-37). Bagaimana mungkin ‘adzab diidentikkan dengan nikmat? Dalam hal ini, sifat eksklusif rasional tafsir Asad rupanya telah menghalanginya untuk melihat kemungkinan makna lain. Dalam hal ini menurut kacamata metode takwil tasawuf. Ya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, persisnya dari sudut pandang “takwil kasih sayang” (hermeneutics of mercy) ala Ibn ‘Arabi, tak sulit untuk melihat sisi lain ‘adzab sebagai nikmat yang lahir dari kasih sayang Allah. Bagaimana bisa?

Sebelum yang lain-lain, kata ‘adzab berasal dari kata ‘a-dz-b, yang bisa membentuk kata ‘adzib, berarti “rasa manis yang menyegarkan”. Demikian pula kata nâr (neraka) memiliki akar kata yang sama dengan nûr (cahaya). Bedanya, nâr memiliki sifat panas-membakar. Tapi, sifat-dasarnya yang menerangi dan menunjukkan jalan yang benar.

Dengan kata lain, meski panas-membakar, siksa berfungsi untuk memberi petunjuk kepada orang-orang berdosa, untuk menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempersiapkan mereka kembali kepada-Nya, masuk surga-Nya. Itu sebabnya, siksaan—sebagaimana diungkap dalam ayat-ayat Surah Al-Rahmân yang dikutip sebelumnya—layak disebut sebagai nikmat.

Lepas dari itu, saya amat bersyukur telah menemukan The Message of the Quran ini. Sebagai seorang Muslim yang ingin terus meningkatkan keimanan dan penguasaannya atas ajaran-ajaran agama Islam, membaca Al-Quran dengan tafsir oleh Muhammad Asad telah menjadi penawar yang luar biasa bagi dahaga saya selama ini. Bukan hanya dahaga rasional dan intelektual, melainkan juga—bahkan terutama—dahaga spiritual saya. Telah lama, dalam segenap keimanan saya pada Islam dan Al-Quran, pemikiran saya tak pernah sepenuhnya terbebas dari semacam skeptisisme (belakangan saya memahami bahwa hal ini terjadi antara lain karena saya tak cukup “akrab” dengan Al-Quran, disebabkan antara lain saya merasa belum mendapatkan tafsir yang dapat memuasi pemikiran saya). Kepada beberapa orang, saya katakan bahwa, at this point, tampaknya tak kurang dari suatu pengalaman religius (religious experience) atau pengalaman sufistik yang sedikit-banyak “ajaib” yang bisa menyembuhkan saya dari “derita” skeptisisme intelektual dan spiritual saya. Lewat The Message of the Quran, saya dipertemukan dengan firman Allah yang menyadarkan saya tentang kekeliruan dalam cara berpikir saya. Yakni, bahwa jika kita akrab dengan Al-Quran—yang notabene adalah buku ilmu pengetahuan rasional dan spiritual, pengingatan (dzikr), serta “penawar bagi manusia” (syifâ’ li al-nâs) atau penawar (kegelisahan-kegelisahan) yang berada dalam hati (syifâ’ mâ fî al-shudûr)—apa yang meragu-ragukan itu akan mendapatkan jawabannya.

“Dan, [hanya] orang-orang yang tak berpengetahuan[lah yang] berkata, ‘Mengapa Allah tidak berbicara kepada kami dan tidak pula ada suatu tanda [yang menakjubkan] ditunjukkan kepada kami?’ Demikianlah, orang-orang yang hidup sebelum zaman mereka pun mengatakan seperti yang mereka katakan: hati mereka serupa. Sungguh, Kami telah menjadikan semua tanda-tanda tampak jelas bagi orang-orang yang dianugerahi keyakinan batin yang mendalam.” (QS Al-Baqarah [2]: 118)

Membaca Al-Quran bersama Asad ternyata tak kurang dari merasakan pengalaman religius sedemikian.

Penerbitan The Message of the Quran dalam bahasa Indonesia ini mudah-mudahan dapat menyebarkan perasaan “kepuasan intelektual dan spiritual” seperti yang saya alami ini kepada para pembaca yang lain. Dan untuk itu, mari kita sampaikan terima kasih kepada Muhammad Asad seraya berdoa semoga karyanya ini dapat menjadi argumentasi (burhân)-nya di hadapan perhitungan (hisâb)-Nya, dan melempangkan jalan bagi kembalinya Asad kepada-Nya, ke dalam surga-Nya. Semoga Allah Swt. terus mencurahkan rahmat-Nya kepada ruh Muhammad Asad. Dan, semoga kita semua dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya bagi pengetahuan kita tentang firman-firman-Nya yang termuat dalam Kitab Suci-Nya ini. Amin, ya Rabb Al-‘Âlamin.

 

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *