Satu Islam Untuk Semua

Friday, 17 March 2017

KAJIAN – Bercabangnya Perhatian Hati Saat Salat


Muslim student Ayman Kotob practicing Islamic prayer outside on Bascom Hill during autumn. ©UW-Madison University Communications 608/262-0067 Photo by: Jeff Miller Date: 10/01 File#: 0110-240c-11a

islamindonesia.id – KAJIAN – Bercabangnya Perhatian Hati Saat Salat

 

Tingkat perhatian hati seorang hamba kepada Allah bergantung pada tingkat pengendalian hati dan hasrat-hasratnya. Untuk mengukur tingkat perhatian hati kepada Allah, hendaklah melihat seberapa besar kita menguasai hasrat hati.

Coba direnungkan, saat mengerjakan salat, apakah kita banyak memberikan perhatian? Sebagian orang di saat salat – yang merupakan manifestasi perhatian dan zikir kepada Allah – perhatian mereka lebih banyak pada masalah-masalah sepele dan sedikit sekali perhatian tertuju kepada Allah.

Di saat salat mereka sempat mengingat apa saja yang terlupa dan memikirkan masalah-masalah kesehariannya. Mereka lalai dari Allah dan salat, serta sadar bahwa mereka melaksanakan salat ketika sampai pada bagian salam.

Ketidakperhatian dan kelalaian mengingat Allah muncul dari penguasaan setan atas diri manusia. Jika kehendak hati jatuh di tangan setan, maka setan menyeretnya pada apa yang dia inginkan. Kesimpulannya manusia akan perhatian pada apa saja selain Allah.

Jika ada kemungkinan ini, membayangkan apa yang diinginkan hati dan kecenderungan serta perhatiannya ketika sedang salat, maka kita sadar bahwa di tengah hiruk-pikuk bayangan-bayangan tersebut, kecil sekali pengkhususan kepada Allah.

Kenyataannya, dalam salat dan ibadah, perhatian kita kepada segala sesuatu selain Tuhan Yang Maha Disembah, dan “rumah” hati kita dimasuki siapapun selain “Sang Tuan rumah”. Ini adalah kehinaan besar bagi manusia. Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah disebutkan,

“Langit dan bumi tidak cukup untuk-Ku [Allah], akan tetapi sebuah wujud yang mampu menampung adalah hati hamba-Ku yang mukmin.”

Dari sini kita telah ketahui betapa pentingnya hati manusia. Sama seperti riwayat itu, ada banyak riwayat yang menjelaskan pentingnya hati manusia termasuk di antaranya;

“Hati mukmin adalah Arsy (singgasana langit) Allah.”

Disebutkan juga, “Hati adalah singgasana-Ku, rumah-Ku, untuk-Ku, dan tidak boleh ada siapa pun selain-Ku.”

Dengan kata lain, hati adalah baitullah. Nah, supaya terlepas dari ‘kebobolan’, khususnya saat salat, kita harus berusaha mencegah hati kita dari kecenderungan bercabang-cabang dan secara bertahap mencapai kekuasaan atas diri dan hati kita. Dengan begitu kita dapat memusatkan dan menghanyutkan perhatian kepada Allah.

Walaupun orang-orang yang sibuk dengan urusan-urusan penting dan bernilai seperti menuntut ilmu – dan seringkali dikarenakan minat besar mereka pada belajar ilmu, dalam keadaan apapun, mereka selalu memikirkan masalah-masalah keilmuan, bahkan sampai terbawa dalam tidur mereka – tak seharusnya cinta pada ilmu dan belajar menyebabkan lalai dari segenap dimensi eksistensialnya dan dari zikir serta perhatian kepada Allah Swt.

Orang yang berilmu di samping belajar, harus melakukan pembinaan diri dan peningkatan perhatian spiritualnya kepada Allah. Sehingga dapat dikatakan, dia belajar ilmu karena Allah dan ikhlas, lalu menerima hasil-hasil yang bermutu.

Dia mengabdi kepada Islam dan memberikan keberkahan bagi keberadaan manusia. Di luar demikian muncul hal yang tidak diinginkan bahwa dia menjadi seorang berilmu tanpa pengamalan ilmunya.

Wajarlah ketika tumbuh pohon buruk dalam hatinya, eksistensinya hilang tanpa jejak dan takkan mampu hatinya tertuju kepada Allah, apalagi meraih kedalaman perhatian kepada Allah Swt, jelas tidak mungkin mencapainya.[]

 

YS/ Islam Indonesia/ Zikir, 2008/ Foto ilustrasi: dici.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *