Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 20 October 2016

KAJIAN—Benarkah Thailand, Daulah Islam Pertama di Asia Tenggara?


benarkah-thailand-daulah-islam-pertama-di-asia-tenggara

IslamIndonesia.id—Benarkah Thailand, Daulah Islam Pertama di Asia Tenggara?

 

Kerajaan Thai atau yang lebih sering disebut Thailand dalam bahasa Inggris, atau dalam bahasa aslinya Mueang Thai (dibaca: “meng-thai”, sama dengan versi Inggrisnya, berarti “Negeri Thai”), adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja di Timur, Malaysia dan Teluk Siam di Selatan, dan Myanmar dan Laut Andaman di Barat.

Kerajaan Thai dahulu dikenal sebagai Siam sampai tanggal 11 Mei 1949. Kata “Thai” berarti “kebebasan” dalam bahasa Thai, namun juga dapat merujuk kepada suku Thai, sehingga menyebabkan nama Siam masih digunakan di kalangan warga negara Thai terutama kaum minoritas Tionghoa.

Saat ini, warga Muslim di Thailand berjumlah sekitar 15 persen, dibandingkan penganut Budha, sekitar 80 persen. Mayoritas Muslim tinggal di Selatan Thailand, sekitar 1,5 juta jiwa, atau 80 persen dari total penduduk, khususnya di Patani, Yala dan Narathiwat, tiga provinsi yang sangat mewarnai dinamika di Thailand Selatan. Thailand Selatan terdiri dari lima provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan Songkhla, dengan total penduduk 6.326.732.

Mayoritas penduduk Muslim terdapat di empat provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat dan Satun, yaitu sekitar 71% diperkotaan, dan 86 % di pedesaan sedangkan di Songkhla, Muslim sekitar 19 %, minoritas, dan 76.6 % Buddha. Sementara mayoritas penduduk yang berbahasa Melayu, ratarata 70 persen berada di tiga provinsi: Pattani, Yala dan Narathiwat, sementara penduduk berbahasa China, ada di tiga provinsi: Narathiwat, 0.3 %, Pattani, 1.0 %, dan Yala, 3.0 % .

Ada beberapa teori tentang masuknya Islam di Thailand. Di antaranya ada yang mengatakan Islam masuk ke Thailand pada abad ke-10 melalui para pedagang dari Arab. Ada pula yang mengatakan Islam masuk ke Thailand melalui Kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Jika melihat peta Thailand, akan tampak daerah-daerah yang berpenduduk Muslim berada persis di sebelah Negara-negara melayu, khususnya Malaysia.

Hal ini sangat berkaitan erat dengan sejarah masuknya Islam di Thailand, itu pun “jika dikatakan masuk”.

Tapi tahukah Anda bahwa Daulah Islam justru sudah lebih dulu ada sebelum adanya Kerajaan Thailand?

Karena kenyataanya dalam sejarah, Islam bukan masuk Thailand, tapi lebih dulu ada sebelum Kerajaan Thailand atau “Thai Kingdom” berdiri pada abad ke-9. Islam berada di daerah yang sekarang menjadi bagian Thailand Selatan sejak awal mula penyebaran Islam dari jazirah Arab.

Hal ini bisa dilihat dari fakta sejarah, seperti lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah Pattani menjadi bukti bahwa Islam sudah ada lebih dulu sebelum Kerajaan Thai.

Lebih dari itu, penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara merupakan suatu kesatuan dakwah Islam dari Arab. Entah daerah mana yang lebih dahulu didatangi oleh utusan dakwah dari Arab. Akan tetapi secara historis, Islam sudah menyebar di beberapa kawasan Asia Tenggara sejak lama, di Malakka, Aceh (Nusantara), serta Malayan Peninsula termasuk daerah Melayu yang berada di daerah Siam (Thailand).

Pada tahun 1613, d’Eredia memperkirakan bahwa Patani (dari bahasa Arab Fathoni) masuk Islam sebelum Malaka yang secara tradisional dikenal sebagai “darussalaam (tempat damai) pertama” di kawasan itu (Mills 1930:49).

Dalam penelitiannya mengenai kedatangan Islam di Indonesia G.W.J Drewes menemukan bahwa di Trengganu, yang merupakan salah satu tetangga Patani, agama baru itu sudah dianut secara mapan menjelang 1386 atau 1387.

Dari penemuan ini Wyatt dan Teeuw menarik kesimpulan bahwa tidak ada alasan mengapa (agama itu) belum sampai di Patani menjelang tahun itu terutama jika diingat bahwa Patani terkenal sebagai sebuah pusat Islam yang awal.

Pada puncak kekuasaan Patani awal abad ke 17 diletakkan dasar-dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Ini dimungkinkan oleh hubungan yang semakin intensif antara negeri Arab yang merupakan pusat Islam dan Asia Tenggara yang ketika itu pusat perdagangannya. Masa kejayaan yang sudah lampau itu dilambangkan oleh kaum bangsawan dan hubungan kekerabatan mereka dengan keluarga Melayu dan oleh citra Patani sebagai “tempat kelahiran Islam” awal di kawasan itu.

Lembaga keagamaan di Patani dan daerah sekitarnya berfungsi sebagai penghubung antara golongan elit dengan rakyat. Kaum ulama berfungsi sebagai kekuatan yang mengabsahkan kekuasaan yang berlaku dan dukungan mereka sifatnya menentukan bagi pemelihara daan pengguna kekuasaan politik.

Sebagai bukti bahwa Islam sudah sejak lama ada di Thaland adalah dengan ditemukannya sebagian bukti-bukti peninggalan Islam sebagai berikut:

1. Batu nisan yang bertuliskan Arab di dekat Kampung Teluk Cik Munah, Pekan Pahang yang bertepatan pada tahun 1028 M.

2. Masjid Jawa yang didirikan oleh komunitas warga muslim suku Jawa Indonesia yang bekerja di Thailand.

3. Kanal dan sistem perairan di Krung Theyp Mahanakhon (sekarang dikenal sebagai Provinsi Bangkok), yang merupakan bangunan yang dibangun oleh pekerja Muslim dari Malaysia dan Indonesia yang masuk ke Thailand pada akhir abad ke-19.

4. Kitab-kitab Islam berbahasa Arab Jawi yang sampai saat ini masih diajarkan di beberapa sekolah Muslim dan pesantren di Thailand Selatan.

5. Lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah.

6. Ditemukan bahwa terdapat nama-nama ulama sufi terkenal sebagai penyebar Islam, di antaranya adalah Syiekh Syafiuddin Ahmad Ad Dajjani Al-Qusyasyi, beliau adalah seorang keturunan Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi Muhammad s.a.w).

7. Ditemukan mushaf Al-Qur’an kuno yang menurut penelitian sudah berusia 300 tahun.

8. Ditemukan pula Masjid Teluk Manok, yang terletak lebih kurang 90KM dari bandar Sungai Kolok. Masjid ini lebih dikenali sebagai Masjid 300 Tahun. Namun, penduduk setempat menyatakan bahawa usia masjid ini telah berusia 390 tahun atau hampir 400 tahun.

masjid-telok-manok

Ada cerita menarik terkait penemuan Masjid Telok Manok. Yakni tentang sosok pendiri masjid tersebut, yang tak lain adalah saudara Sunan Gunung Jati dan Raden Fatah.

Masjid kuno berusia hampir 400 tahun yang juga dikenali sebagai Masjid Wadi al-Hussein ini berada di Bacho, Patani (dalam wilayah Narathiwat). Konon masjid ini telah dibangun oleh Syeikh Wan Hussein as-Senawi bin Sayyid Ali Nurul Alam. Yakni adik Sultan Wan Abdullah Umdatuddin saudara sebapak Sunan Gunung Jati dan Raden Fatah.

Syeikh Wan Hussein as-Senawi dilahirkan di Kampung Sena di Patani. Setelah Siam Ayuthia diusir keluar dari Chermin-Langkasuka pada tahun 1467, beliau bersama adiknya Wan Demali (Wan Demali Alimuddin, Patih Kermawijaya Laksamana Bentan) kemudian pergi ke Pulau Madura untuk berdakwah. Di Demak, Syeikh Wan Hussein lalu dilantik oleh anak saudaranya, Raden Fatah, sebagai penasihat Sultan Demak. Disebabkan ketika itu Demak senantiasa mendapat dukungan Wali Songo, Syeikh Wan Hussein berdakwah pula di Pulau Sumbawa sebelum pulang ke Patani.

masjid-telok-manok-thailand

Tiba di Patani, dua bersaudara ini pun membuat pembagian tugas serta kawasan untuk berdakwah. Wan Abdullah ke Champa, Wan Hussein sendiri ditugaskan di Telok Manok di Patani, Wan Demali ke Bentan di Sumatera, Wan Hassan di Bangkok dan Wan Senik di Kerisik, Patani.

Disebutkan bahwa Syeikh Wan Hussein kembali ke Patani sekitar tahun 1470. Saat berdakwah di Teluk Manok inilah, beliau membangun Masjid Telok Manok sekitar tahun 1470 dan 1480 Masehi.

Sampai saat ini, telah beberapa kali diadakan perbaikan terhadap masjid ini. Salah satunya, sebagaimana terdapat satu catatan di pintu masjid bertarikh 1266 Hijrah (1850 Masehi), menunjukkan tahun rehab masjid tersebut.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *