Satu Islam Untuk Semua

Friday, 25 November 2016

KAJIAN – Agama yang Gemar Ganggu Orang Lain


2014-ghazali_712078986

islamindonesia.id – KAJIAN – Agama yang Gemar Ganggu Orang Lain

 

Menurut Syekh Muhammad Al Ghazali, kebiasaan membaca Al-Quran sedikit-sedikit seraya lebih banyak membaca hadis, tidak mungkin dapat memberikan gambaran yang tepat dan mendalam tentang Islam. Bahkan tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa yang demikian itu sama dengan malnutrisia (salah gizi). Yaitu akibat tidak memperhatikan keseimbangan dalam semua unsur gizi yang membentuk tubuh dan otak secara bersamaan.

Dalam karyanya, Studi Kritis atas Hadist, Syekh Al-Ghazali memberi contoh riwayat dari Abdullah bin ‘Aun yang berkata: “Aku menulis surat kepada Nafi’ (rahimahullah) untuk menanyakan apakah memang wajib menyeru kepada agama Islam terlebih dahulu, sebelum melakukan penyerbuan ke daerah musuh.

Maka Nafi’ menjawab surat itu sebagai berikut: ‘Keharusan seperti itu hanya berlaku pada permulaan diserukannya agama Islam. Nabi saw. sendiri telah menyerbu ke perkampungan Bani Mustalaq tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.’

Bagi ulama jebolan Al Azhar Mesir ini, Nafi’ (semoga Allah mengampuninya) telah berbuat kekeliruan dalam hal ini. Sebab, kewajiban menyeru manusia ke dalam Islam terlebih dahulu, tetap berlaku, sejak awal masa Islam, dan diulang-ulang setelah itu.

“Dalam kenyataannya, Bani Mustalaq tidak diperangi kecuali setelah sampainya dakwah Islam kepada mereka, lalu mereka menolak-nya dan memutuskan untuk berperang.”

Al Ghazali menambahkan bahwa betapapun tidak mantapnya hadis tersebut, namun Ahlul-Hadits — disebabkan kurang mendalamnya ilmu mereka — telah menyebarluaskannya sehingga Ash-Shan’ani menuliskan pasal mengenai itu di bawah judul: “Penyerbuan Tanpa Pemberitahuan Terlebih Dahulu . .!”

“Bagaimana dapat dibenarkan tindakan penyerbuan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?!”

Al Ghazali pun mempertanyakan kebenaran hadist itu jika merujuk ke Al-Qur’an Surah Al-Anfal: 58 dan Al-Anbiya: 109.

Dalam bukunya ‘Jihad Ad-Da’wah Baina ‘Ajz AdDakhil wa Kaid Al-Kharij, Syekh Ghazali telah menghitung lebih dari seratus ayat Al-Quran yang mencakup kebebasan beragama, menegakkan bangunan keimanan di atas landasan kesukarelaan dan kepuasan hati serta menjauhkan diri dari pemaksaan sebagai ganti penyampaian yang bijaksana.

“Dalam sejarah peradaban manusia, tidak ada sebuah kitab pun yang dapat menyamai Al-Quran dalam membangun akal manusia yang beriman,” katanya

Untuk itu, kitab suci ini menunjuk kepada ayat-ayat (tanda-tanda) Allah SWT dalam diri manusia sendiri ataupun dalam keluasan cakrawala, yang dapat menjadi sumber makrifat menuju Allah serta penyerahan diri sepenuhnya di bawah naungan keagungan-Nya.

“Walaupun demikian, di antara kita, kaum Muslim, ada yang lupa akan hal-hal ini semuanya, lalu berpegang pada periwayatan seorang perawi yang sedang kebingungan.”

Perawi yang mendakwakan bahwa kewajiban menyeru kepada Islam sebelum melakukan penyerangan, hanyalah berlaku pada masa permulaan Islam, kemudian dihapuskan.

“Siapa gerangan yang telah menghapuskan ketentuan itu?”

Pastilah untuk tujuan tertentu, lanjut Al Ghazali, ayat-ayat penutup Surah At-Taubah — yang turun pada tahun kesembilan Hijri — berbicara tentang orang-orang kafir. Namun, “Adakah tercium bau pemaksaan dalam ayat penutup ini?”

Bagi penulis “Islam dan Kondisi Ekonomi Umat Islam” ini, keimanan-lah yang merupakan dasar utama. Sedangkan jihad adalah penjaganya. Karena itu penjagaan merupakan kewajiban yang berlaku selama di dunia ini masih ada orang yang mengancam keamanan masyarakat atau menentang keimanan dengan kekerasan.

“Dengan kata lain, jihad hanya berupa suatu cara dan sama sekali bukan merupakan tujuan,” katanya

Adapun gambaran tentang Islam sebagai agama yang gemar mengganggu orang-orang lain dan haus akan darah, “Sungguh yang demikian itu adalah suatu kebohongan yang diucapkan atas nama Allah dan para rasul.”

Dan meskipun telah amat sering membahas topik ini dalam berbagai buku, menurut Al Ghazali, kebutuhan untuk membicarakannya masih tetap terasa.

“Mengingat bahwa isu-isu negatif seperti itu masih tetap ada dan tidak berhenti.”

Syekh Al Ghazali mencotohkah fenomena akhir-akhir ini; pertengkaran-pertengkaran senantiasa berkobar di kalangan kelompok-kelompok umat Islam di seluruh penjuru dunia.

“Pembunuhan di antara mereka terus berlanjut.”

Belum lagi, dalam kenyataannya, kualitas pemerintah-pemerintah di negeri-negeri Muslim — pada umumnya — berada di bawah kualitas pemerintahan-pemerintahan lainnya di bagian lain dari dunia ini. Terutama di bidang keadilan dan kejujuran.

“Rakyat-rakyat kita pun ketinggalan dari mereka dalam bidang ilmu pengetahuan, keterampilan dan kemampuan mengatasi segala problem kehidupan,” tambahnya

Tradisi-tradisi yang berlaku di kalangan kita makin menjauh dari ajaran Islam, dalam bentuk lahiriahnya atau pun dalam semangatnya.

“Secara singkat, umat kita — dibanding yang lain — adalah yang paling miskin dalam bidang pengajaran, pendidikan dan kesadaran akan jati dirinya sendiri.”

Tragisnya, lanjut Al Ghazali, pada kondisi seperti ini masih ada sebagian dari Muslimin menonjolkan hadis: “Aku diutus dengan pedang menjelang kedatangan Hari Kiamat, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku. Dan dijadikanlah kehinaan bagi siapa yang menyalahi perintahku.”

Kepada mereka, Syekh Al Ghazli mengatakan: “Alangkah baiknya seandainya kalian benar-benar memiliki pedang yang mampu mempertahankan kebenaran dan mengusir para penentangnya.”

Dalam kenyataannya, kebenaran telah tenggelam tanpa dapat mengeluarkan suara atau jeritan. Alangkah baiknya, seandainya mereka memiliki tombak yang di bawah naungannya mereka memperoleh rezki.

“Namun kalian hanya mampu mengemis rezki kalian dari apa yang ditanam oleh musuh-musuh kalian.”

Al Ghazali menyebut, merekalah (musuh Islam) pula yang membuat senjata-senjata kalian yang kalian beli dengan apa saja yang kalian miliki, dan dengan tujuan yang hanya Allah-lah yang mengetahuinya.

“Mengapa kalian tidak bersungguh-sungguh mempelajari agama kalian sehingga mengetahui seluk-beluknya secara mendalam kemudian mengamalkannya dan mendakwahkannya secara benar?”

Ia melanjutkan, “Ketika seseorang melihat kalian memiliki kadar ilmu yang lebih rendah daripada yang dimilikinya sendiri, sudah barang tentu ia tidak akan mendengarkan omongan kalian dan tidak akan rela menjadikan kalian sebagai imamnya.”

Bukankah seorang imam tidak boleh menjadi lebih bodoh dari makmumnya?! Apa guna pedang di tangan kalian sementara kalian saling bertindak zalim, menyimpang dari jalan kebenaran?”

 

 

YS / islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *