Satu Islam Untuk Semua

Monday, 10 October 2016

KAJIAN—Dimas Kanjeng dan Nubuat Dajjal Akhir Zaman


dimas-kanjeng-taat-pribadi

IslamIndonesia.id-Dimas Kanjeng dan Nubuat Dajjal Akhir Zaman

 

Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang semula muncul melalui potongan adegan penggandaan uang di media sosial, terutama Youtube, kini telah benar-benar mengharu biru jagad Indonesia. Tak kurang-kurang karena dia berhasil menaklukkan sejumlah nama besar di negeri ini, termasuk Prof. Marwah Daud Ibrahim dan sejumlah cendekiawan serta profesor termasyhur.

Fenomena apakah ini? Adakah penjelasan ilmiah di balik peristiwa ini? Apakah ini bagian dari proses akhir zaman? Atau prajurit Dajjal sebelum kemunculan tipu daya terbesar di akhir zaman? Ataukah ada penjelasan ilmiah yang lebih sederhana?

Sosiolog, sejarawan sekaligus filosof asal Prancis bernama Paul Virilio menyatakan bahwa kecepatan adalah sisi tersembunyi dari kekayaan dan kekuasaan. Kedua hal itulah yang menurutnya berperan dalam menentukan posisi seseorang dalam sebuah struktur sosial.

Artinya, kecepatan akan mampu menaklukkan ruang, dan pada saat yang bersamaan bakal meringkas waktu.

Thus karena itu, siapapun yang bisa meringkas ruang dan waktu, otomatis akan mendapatkan kesempatan lebih luas untuk mengakumulasi sumber-sumber kekayaan dan kekuasaan dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada selainnya. Sehingga, memungkinkan yang bersangkutan mampu mencapai kedudukan teratas dari strata sosial di tengah masyarakatnya, dibandingkan orang lain yang tak kuasa mengendalikan kecepatan dan meringkas waktu.

Namun dalam perkembangannya, alih-alih mampu meraih apa yang diinginkan, sebaliknya justru banyak orang yang terjebak dalam proses melipat ruang dan waktu, merasa cukup hanya dengan berorientasi pada hasil akhir dan meminggirkan proses, malah lebih memilih untuk menempuh cara-cara instan, lalu tanpa sadar melakukan hal-hal yang irasional.

Mungkin gairah melipat ruang dan waktu inilah yang sedang merasuki para pengikut setia Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ketika mereka tanpa pikir panjang rela begitu saja menyerahkan uang dalam jumlah besar kepada si Mahaguru, dengan harapan mahar yang disetorkannya itu bakal kembali dalam jumlah berlipat dalam waktu singkat. Pendek kata, perintah apapun bakal dilakukan dan permintaan apa saja bakal dipenuhi demi bisa mendapatkan kekayaan sesegera mungkin tanpa harus banting tulang, susah-payah berkeringat, beradu pikiran dan tenaga di tengah beratnya beban kompetisi meraih prestise kekuasaan sekaligus menaklukkan sumber-sumber ekonomi.

Dalam kondisi demikian, sontak hilanglah nalar kritis banyak orang. Mereka yang telah dirasuki pola pikir instan itu pun akan cenderung menyederhanakan sesuatu hingga tak lagi mampu menghadapi beratnya beragam masalah. Bahkan tak lagi peduli, jika kredibilitas dan integritasnya ikut tergadai.

Betapa dahsyat pengaruh gairah tak terkendali dalam melipat ruang dan waktu bagi seseorang, membuatnya kebal kritik, abai teguran dan anti saran-masukan. Apa yang bagi banyak orang di luar nalar, bagi mereka justru merupakan sesuatu paling scientific dan rasional.

Setidaknya, gambaran inilah yang tampak malam itu. Ketika tak seperti biasanya, acara talkshow yang dipandu jurnalis senior bersuara serak itu serasa lebih gaduh.

Di antara penyebabnya tak lain adalah pernyataan mantan Ketum PBNU yang menyebut sosok Mahaguru Dimas Kanjeng Taat Pribadi, yang selama ini dikeramatkan para pengikutnya karena diyakini sebagai sosok pilihan Tuhan, justru dicap sebagai manusia sesat pengikut setan.

Bukan hanya itu, seorang anggota Dewan yang hadir dalam acara itu pun tanpa ragu, setelah menyodorkan banyak bukti hasil penelusuran ke rumah-rumah pengikut Dimas Kanjeng di beberapa pelosok Tanah Air—yang diakuinya sebagai upaya riset kecil-kecilan, dengan nada geram pun menyematkan gelar penipu ulung kepada sosok Yang Mulia Mahaguru dimaksud, yang diyakininya telah memakan ratusan bahkan ribuan korban.

“Kakakku, kembalilah kepada kami, sungguh kami semua menyayangimu..” begitu ajak si anggota Dewan kepada salah seorang petinggi penting Padepokan Dimas Kanjeng yang dinilainya telah tertipu dan tersesat jalan. Ajakan beriring tangis haru, yang hanya disambut senyum dan anggukan Ketua Padepokan yang tak lain juga adalah salah seorang petinggi MUI Pusat malam itu. (Saat tulisan ini dipublish, yang bersangkutan menyatakan sudah secara resmi mengundurkan diri dari kepengurusan MUI).

Ala kulli hal, banyak pihak menyangsikan, bagaimana tokoh intelektual berpendidikan S2 dan S3 lulusan Amerika Serikat itu bisa semudah itu membiarkan dirinya tersesat? Atau jangan-jangan seperti dikatakan oleh yang bersangkutan sendiri, bahwa sejatinya saat ini dirinya sedang berada dalam perjalanan panjang menuju kesempurnaan, menjelang menyingsingnya abad gemilang Nusantara pada 2045? Dan, demi tujuan besar itulah sampai detik ini dia tetap bertahan dan tak peduli dihina-hina dan dinista-sesatkan?

Begitulah ketika dihadapkan pada sosok Dimas Kanjeng, ternyata tak hanya orang awam, bahkan para ulama pun merasa takjub bercampur heran. Bagaimana bisa seseorang yang menurut mereka tak becus mengeja dan mengaji, bisa memiliki pengikut setia hingga berjumlah ribuan orang? Terlebih pengikut yang tak hanya berasal dari kalangan awam, melainkan juga banyak berasal dari kalangan lebih terpelajar dan lebih berilmu daripada si Mahaguru sendiri? Sihir macam apa ini?

Benarkah ini pertanda akhir zaman, saat makhluk-makluk serupa Dajjal mulai bermunculan, bermodal tipudaya dan kedigdayaannya membuat banyak manusia terjerembab dalam kubangan kesesatan?

Bukankah konon makhluk bernama Dajjal itulah yang merupakan representasi kesesatan yang nyata dan dimampukan oleh Allah melakukan hal-hal menakjubkan agar bisa menyesatkan lebih banyak manusia?

Bahkan, bukankah sebagaimana yang dijelaskan dalam banyak riwayat, Dajjal itu termasuk salah satu di antara tanda besar menjelang hari kiamat? Dengan kata lain, apabila Dajjal sudah muncul di hadapan manusia ramai, itu pertanda bahwa kiamat tak lama lagi bakal datang?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan itu, mungkin ada baiknya kita simak khotbah Rasulullah SAW tentang Dajjal, sebagaimana dikisahkan dalam beberapa riwayat berikut ini.

Dari Abi Umamah Al-Bahiliy, beliau berkata: “Rasululah saw telah berkhutbah di hadapan kami. Dalam khutbahnya itu Baginda banyak menyentuh masalah Dajjal. Baginda telah bersabda: “Sesungguhnya tidak ada fitnah (kerusakan) di muka bumi yang paling hebat selain fitnah yang dibawa oleh Dajjal. Setiap Nabi yang diutus oleh Allah SWT pasti mengingatkan kaumnya tentang Dajjal. Aku adalah nabi yang terakhir sedangkan kamu adalah umat yang terakhir. Dajjal itu tidak mustahil datang pada generasi kalian. Seandainya dia datang sedangkan aku masih ada di tengah-tengah kalian, maka aku adalah sebagai pembela bagi setiap Mukmin. Namun jika dia datang sesudah kematianku, maka setiap orang mesti menjaga dirinya. Dan sebenarnya Allah SWT akan menjaga orang-orang Mukmin.”

“Pada mulanya nanti Dajjal itu mengaku dirinya sebagai nabi. Ingatlah, tidak ada lagi nabi sesudah aku. Setelah itu nanti dia mengaku sebagai Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan yang benar tidak mungkin kamu lihat sebelum kamu mati. Dajjal itu cacat matanya sedangkan Allah SWT tidak cacat, bahkan tidak sama dengan makhluk. Dan juga di antara dua mata Dajjal itu tertulis KAFIR, yang dapat dibaca oleh setiap Mukmin, baik yang pandai membaca maupun yang buta huruf.”

“Di antara fitnah Dajjal itu juga dia membawa surga dan neraka. Nerakanya itu sebenarnya surganya sedangkan surganya itu neraka, yakni panas. Siapa di antara kamu yang disiksanya dengan nerakanya, hendaklah dia meminta pertolongan kepada Allah dan hendaklah dia membaca pangkal surah Al-Kahfi, maka nerakanya itu akan sejuk sebagaimana api yang membakar Nabi Ibrahim itu menjadi dingin.”

“Di antara tipu dayanya itu juga dia berkata kepada orang Arab: “Seandainya aku sanggup menghidupkan ayah atau ibumu yang sudah lama meninggal dunia itu, apakah engkau akan mengakui aku sebagai Tuhanmu?” Orang Arab itu akan berkata: “Tentu.” Maka setan pun datang menyamar seperti ayah atau ibunya. Wajahnya sama, sifat-sifatnya sama dan suaranya pun sama. Lalu ‘orang tuanya’ itu berkata kepadanya: “Wahai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dialah Tuhanmu.”

“Di antara tipu dayanya juga dia tipu seseorang, yakni dia bunuh dan dia belah dua. Setelah itu dia katakan kepada orang banyak: “Lihatlah apa yang akan kulakukan terhadap hambaku ini, sekarang akan Kuhidupkan dia kembali. Dengan izin Allah orang mati tadi hidup kembali.” Kemudian Laknatullah Alaih itu bertanya: “Siapa Tuhanmu?” Orang yang dia bunuh itu, yang kebetulan orang beriman, menjawab: “Tuhanku adalah Allah, sedangkan engkau adalah musuh Allah.” Orang itu berarti lulus dalam ujian Allah dan dia termasuk orang yang paling tinggi derajatnya di surga.”

Kata Rasulullah SAW lagi: “Di antara tipu dayanya juga dia suruh langit supaya menurunkan hujan tiba-tiba hujan pun turun. Dia suruh bumi supaya mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya tiba-tiba tumbuh.”

“Dan termasuk ujian yang paling berat bagi manusia, Dajjal itu datang ke perkampungan orang-orang baik dan mereka tidak mengakuinya sebagai Tuhan, maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman dan ternak mereka menjadi mati.”

“Dajjal itu datang ke tempat orang-orang yang percaya kepadanya dan penduduk desa itu mengakuinya sebagai Tuhan. Karena yang demikian itu, hujan pun turun di tempat mereka dan tanam-tanaman mereka pun menjadi hidup.”

“Tidak ada desa atau daerah di dunia ini yang tidak didatangi Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Kedua kota itu tidak dapat ditembus oleh Dajjal karena dikendalikan oleh Malaikat. Dia hanya berani menginjak pinggiran Makkah dan Madinah. Namun demikian ketika Dajjal datang ke pegunungan di luar kota Madinah, kota Madinah bergoncang seperti gempa bumi. Ketika itu orang-orang munafik kepanasan seperti cacing dan tidak tahan lagi tinggal di Madinah. Mereka keluar dan pergi bergabung dengan orang-orang yang sudah menjadi pengikut Dajjal. Inilah yang dikatakan hari pembersihan kota Madinah. Madinah membersihkan kotorannya seperti tukang besi membersihkan karat-karat besi.”

Dari Anas bin Malik, katanya Rasulullah SAW bersabda: “Menjelang turunnya Dajjal ada tahun-tahun tipu daya, yaitu tahun para pendusta dipercaya orang dan orang yang jujur tidak dipercaya. Orang yang tidak amanah dipercaya dan orang kepercayaan tidak dipercaya.”

Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah SAW bersabda: “Dajjal muncul pada waktu orang tidak berpegang kepada agama dan jahil tentang agama. Pada zaman Dajjal ada empat puluh hari, yang satu harinya terasa bagaikan setahun, ada satu hari yang terasa bagaikan sebulan, ada satu hari yang terasa satu minggu, kemudian hari-hari berikutnya seperti hari biasa.”

Ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tentang hari yang terasa satu tahun itu, apakah boleh kami shalat lima waktu juga?” Rasulullah SAW menjawab: “Ukurlah berapa jarak shalat yang lima waktu itu.”

Menurut riwayat, Dajjal itu nanti akan berkata: “Akulah Tuhan sekalian alam, dan matahari ini berjalan dengan izinku. Apakah kamu bermaksud menahannya?” Katanya sambil ditahannya matahari itu, sehingga satu hari lamanya menjadi satu minggu atau satu bulan.

Setelah dia tunjukkan kehebatannya menahan matahari itu, dia berkata kepada manusia: “Sekarang apakah kamu ingin supaya matahari itu berjalan?” Mereka semua menjawab: “Ya, kami ingin.” Maka dia tunjukkan lagi kehebatannya dengan menjadikan satu hari begitu cepat berjalan.

Menurut riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Akan keluarlah Dajjal kepada umatku dan dia akan hidup di tengah-tengah mereka selama empat puluh. Saya sendiri pun tidak tahu pasti apakah empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun. Kemudian Allah SWT mengutus Isa bin Maryam dan kemudian membunuh Dajjal itu.”

Konon setelah kemunculan Dajjal, hampir semua penduduk bumi menjadi kafir, yakni beriman kepada Dajjal. Maka orang yang tetap dalam iman hanya tinggal 12.000 lelaki dan 7.000 perempuan.

Jika dihadapkan pada kemampuan tak seberapa Dimas Kanjeng Taat Pribadi saja banyak di antara manusia telah berubah pandangan dan keyakinan, bagaimana nantinya jika Dajjal benar-benar datang dengan kemampuan luar biasa seolah setara Tuhan?

Dengan senantiasa berlindung kepada Allah SWT, semoga kita semua terhindar dari tipudaya Dajjal akhir zaman beserta para pengikut, prajurit atau pasukannya, sebagaimana yang kedatangannya pernah diramalkan oeh Syekh Siti Jenar sebagai “Prajurit Palsu” Islam.

[Baca: KHAS-Syekh Siti Jenar Ramalkan Kemunculan ‘Prajurit Palsu’ Islam]
EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *