Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 28 August 2018

Tujuh Adab Pertemanan Menurut Imam Ghazali


Tujuh Adab Pertemanan Menurut Imam Ghazali

islamindonesia.id – Tujuh Adab Pertemanan Menurut Imam Ghazali

 

Setiap manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Interaksi dengan sesama merupakan kebutuhannya dalam menjalani kehidupan.

Dari interaksi, kita menjalin pertemanan dan persaudaraan. Dari interaksi pula kita tersambung silaturahmi serta menguatkan ukhuwah.

Tentu, menjalin pertemanan dibutuhkan kerelaan hati untuk menerima perbedaan. Juga menyediakan diri untuk hadir setiap kali ada yang lain membutuhkan.

Imam Al Ghazali menulis risalah Al Adab fid Din yang dimuat dalam Majmu’ah Rasail Al Imam Al Ghazali. Dalam risalah itu, Imam Al Ghazali mengemukakan adab-adab apa saja yang perlu diperhatikan dalam menjalin pertemanan.

“Adab berteman, yakni menunjukkan rasa gembira ketika bertemu, mendahului beruluk salam, bersikap ramah dan lapang dada ketika duduk bersama, turut melepas saat teman berdiri, memperhatikan saat teman berbicara dan tidak mendebat ketika sedang berbicara, menceritakan hal-hal yang baik, tidak memotong pembicaraan dan memanggil dengan nama yang disenangi.”

Dalam kutipan tersebut, terdapat setidaknya tujuh adab yang dikemukakan Imam Al Ghazali. Adab pertama yaitu menunjukkan perasaan gembira ketika bertemu. Ini sebagai pertanda pertemanan yang terjalin adalah baik.

Adab kedua mendahului mengucap salam. Apapun latar belakang profesinya, mengucap salam lebih dulu menunjukkan posisi yang setara. Dengan begitu, orang lain tidak merasa lebih rendah dari kita.

Adab ketiga, ramah ketika duduk dan bercengkerama. Pertemanan merupakan hubungan yang menyenangkan karena tidak ada jarak. Dengan demikian, memungkinkan adanya keakraban dan ketulusan antar-teman.

Adab keempat, melepas teman yang berdiri untuk berpamitan. Ini menunjukkan penghargaan terhadap teman. Apabila teman berdiri, maka dianjurkan untuk turut berdiri.

Adab kelima, memperhatikan saat temana berbicara dan tidak mendebat di saat sedang berbicara. Sikap ini juga menunjukkan penghargaan atau penghormatan terhadap teman sebagai wujud dari kesetaraan. Dalam pertemanan kedua belah pihak tidak ingin saling menyakiti. Hal-hal yang bisa merusak pertemanan akan dihindari sebanyak mungkin. Teman yang baik bisa melebihi kebaikan saudara sendiri. Hal ini sering terjadi di dalam masyarakat.

Adab keenam, menceritakan hal-hal yang baik. Sebagaimana diuraikan dalam poin kelima bahwa dalam pertemanan kedua belah pihak tidak ingin saling menyakiti. Salah satu caranya adalah menceritakan hal-hal yang baik dan bukan menceritakan hal-hal yang bisa menimbulkan rasa malu, tersakiti ataupun menyinggung perasaannya. Jika hal seperti ini bisa dijaga dengan baik tentu hubungan pertemanan akan langgeng, dan bahkan bisa berlanjut hingga ke anak cucu.

Adab ketujuh, tidak memotong pembicaraannya dan memanggil dengan nama yang disenangi. Memotong pembicaraan seorang teman tanpa alasan yang kuat bisa berarti tidak menghormatinya. Hal seperti ini sebaiknya dihindari untuk menjaga hubungan baik antar teman. Demikian pula memanggil teman sebaiknya dengan panggilan yang ia senangi. Seseorang mungkin biasa dipanggil sesuai dengan pekerjaannya. Tetapi apabila panggilan seperti ini sebetulnya tidak dia senangi, maka sebaiknya dihindari.

Demikianlah ketujuh adab seorang teman sebagaimana nasihat Iman Al-Ghazali. Apabila ketujuh adab ini dapat dipraktikkan dengan baik, tentu hubungan antar teman akan terus berlanjut dengan baik.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *