Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 26 June 2013

Toleransi dari KH Hasyim Ashari


1-k-h-hasyim-asyari

Satu ketika, ada seorang jamaah pesantren datang pada KH. Hasyim Ashari melaporkan bahwa ia baru datang dari Yogyakarta. Menurut pengakuan santri tersebut, ia melihat sekelompok aliran sesat.

KH. Hasyim Ashari pun bertanya-tanya perihal aliran sesat tersebut. Santri pun menjelaskan ciri-ciri aliran tersebut yang memiliki perbedaan tidak melaksanakan pembacaan qunut saat salat subuh. Santri pun menjelaskan baha pemimpin dari kelompok tersebut bernama H Muhammad Darwis.

Mendengar penjelasannya santrinya itu, Sang Kyai pun hanya tersenyum dan mengatakan bahwa H Muhammad darwis tak lain adalah temannya ketika berada di Mekkah. Ia juga menjelaskan bahwa kelompok yang dilihat santrinya itu bukanlah aliran sesat.

H Muhammad Darwis yang disebut santri tadi, tidak lain adalah ulama yang dikenal dengan KH Ahmad Dahlan, ulama yang mendirikan Muhammadiyah.

Dari cerita tersebut, ada hikmah penting yang perlu dicatat. Sikap Hasyim Ashari ketika mendengar adanya aliran sesat dari santri begitu bijaksana dan menanyakan ciri-cirinya secara detail sebelum memberikan sebuah pernyataan.

Pengalaman KH Hasyim Ashari hidup di Timur Tengah telah memberinya pemahaman baik soal furuiyah. Ia sangat bijaksana menyikapi persoalan agama dalam ruang lingkup khilafiyah. Perbedaannya dengan KH Ahmad Dahlan terkait penggunaan qunut saat salat subuh pun hanyalah bagian dari khilafiyah, bukanlah furuiyah yang harus di bawa ke ranah sesat atau tidak.

Dari pemahamannya itu pulalah yang membawa Hasyim Ashari tidak berfanatik dalam sebuah mazhab. Meski harus diketahui, nadhlatul Ulama, organisasi yang didirikannya identik dengan mazhab Syafi’i. Dengan tegas beliau memerintahkan para ulama NU menjauhi sifat fanatic buta terhadap sebuah mazhab.

Hal itu di pernah dituliskannya dalam kompilasi kkita Hasyim Ashari, “Wahai para ulama yang fanatik terhadap mashab-mashab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap urusan furu’ (cabang agama), di saat para ulama telah memilikidua pendapat atau lebih, yaitu: setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme).

Sikap hidupnya itu selalu menjadi teladan untuk santri dan ulama lain. Seruan tidak akan menjadi arahan yang baik apabila tidak tercontohkan dengan baik.

Bentuk toleransi ajaran KH Hasyim Ashari dimulai dari diri sendiri yang tidka memfanatikkan diri terhadap suatu hal. Lalu, sebagai umat Islam dapat diwujudkan dengan penghargaan terhadap muslim lain dengan pemahaman agama yang baik.

Hal ini terlihat saat kunjungan ulama KH Abdurrahman  Syamsuri dari Pondok Pesantren Muhammadiyah, Paacitan, lamongan, Jawa Timur. Ketika itu Kyai Hasyim berbeda penddapat dengan  KH Abdurrhaman terkiat memukul kentongan sebelum azan.

Mengetahui KH Abdurrahman hendak bersilaturahmi ke pesantrenya, beliau memerintahkan kepada masjid Nadhliyin di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh KH Abdurrahman untuk menyimpan kentongan dan tidak membunyikannya. Hal itu dilakukan untuk menghormati kedatangan tokoh muhammadiyah tersebut. Sikap toleransi ini pun akhirnya yang berbalas ketika KH hasyim berkunjung ke tempat Kh Abdurrahman, sepanjang jalan yang dilalui KH Hasyim tampak kentongan ada di masjid untuk menghormati kedatangannya.

Indahnya hubungan ulama terdahulu. Berbekal pemahaman agama yang baik, toleransi tercipta. Sikap hidup Sang Kyai harus menjadi pelajaran dan teladan bagi umat islam Indonesia saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *