Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 30 September 2018

Tetap Sabar Saat Menghadapi Bencana Alam


Tetap Sabar Saat Menghadapi Bencana Alam

islamindonesia.id – Tetap Sabar Saat Menghadapi Bencana Alam

 

Bencana merupakan bahasa alam untuk menegur manusia bahwa mereka telah melakukan tindakan yang merugikan diri mereka sendiri. Namun kebanyakan manusia tidak menyadarinya dan menganggap mereka justru melakukan perbaikan di muka bumi ini. Firman Allah, “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS Al-Baqarah [2]: 220)

Dalam ayat yang lain, Allah menerangkan bagaimana fiil manusia yang selalu berhasrat melakukan perusakan pada alam. ”Munculnya kerusakan di bumi dan lautan adalah karena sebab perbuatan tangan-tangan manusia agar mereka merasakan sebagian dari apa yang mereka kerjakan agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS Ar-Ruum [30]: 41).

Kebanyakan manusia memang lalai akan hal ini. Tapi bagi Allah, tidak akan luput pengawasaan bagi mereka yang melakukan perusakaan itu. “…dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu….” (QS Al-Baqarah [2]: 220)

Namun, peringatan kecil yang diberikan alam atas kemaksiatan dan kedzaliman yang mereka lakukan itu, alih-alih menjadikan mereka berpikir, malah mereka menjadi semakin rakus dan sombong. Mereka merasa aman dari ancaman Allah kepada orang-orang yang melakukan kerusakaan itu, padahal Allah berfirman, ”Apakah penduduk suatu negeri merasa aman dari kedatangan adzab Kami sedangkan mereka terlena dalam tidurnya. Apakah penduduk suatu negeri merasa aman dari kedatangan adzab Kami sedangkan mereka sedang asyik-asyik bermain dengan aktivitasnya. Apakah mereka merasa aman dari adzab Allah, tidak ada seorang pun yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf [7]: 97-99)

Sesungguhnya Allah sangat tidak suka terhadap orang-orang yang gemar melakukan kerusakan di muka bumi (lihat QS Al-Qashash [28]: 77). Seharusnya manusia bisa mengambil ibrah dari beberapa kejadian yang diakibatkan oleh alam yang melanda negeri ini. Banyak bencana alam terjadi karena keserakahan kita sendiri.

Bencana alam merupakan musibah yang sudah ditakdirkan Allah kepada kita. Secara makna musibah dalam bahasa Arab berarti mengenai, menimpa, atau membinasakan. Muhammad Husein Thabataba’i, ahli tafsir modern dalam kitabnya, Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, menyatakan bahwa musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendaki. Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Nasr at-Thabari pernah mengatakan, ”Apa yang menimpa manusia berupa hal-hal yang tidak dikehendaki, itu namanya musibah.”

Dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat yang menyinggung persoalan ‘musibah’; bala dan ujian atau cobaan. Seperti termaktub dalam surat Al Baqarah ayat 155, Al Maidah (5) ayat 49, dan At Taubah (9) ayat 50. Musibah yang menimpa seseorang atau suatu kelompok tertentu, berupa sakit, kerugian dalam usaha, kehilangan barang, meninggal dunia (musibah yang bersifat individual), dan bencana alam, peperangan, wabah penyakit, kekeringan yang berkepanjangan, dan musibah lain yang bersifat sosial.

Upaya untuk mengantisipasi musibah bukan saja pada tingkat pencegahan semata, tapi juga pada tingkat penanggulangan dari akibat yang ditimbulkannya. Karena membiarkan diri dalam kerusakan dan kebinasaan sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Alquran dalam menjaga jiwa. Sebagaimana firman Allah, ”Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah [2]: 195)

Relevansi antara musibah dan sabar, sangat berkaitan dan semestinya berjalan beriringan. Manusia tidak bisa mengelak dari musibah. Namun manusia bisa menyiasati agar dia tidak larut dalam kebinasaan ekses dari musibah yang dihadapinya. Untuk itu perlu adanya strategi agar tidak larut dalam kesedihan. Manusia memang sudah disifati dengan keluh-kesah bila mendapat musibah dan lalai kalau mendapat nikmat atau kelapangan setelah berlalunya musibah yang baru dihadapinya.

Di sinilah sabar memiliki posisi penting agar pengharapan lepas dari himpitan itu hanya semata-mata kepada Allah. Secara bahasa, sabar artinya tahammul, yakni daya tahan atau daya pikul. Sebuah kemampuan karunia Allah yang paling besar setelah iman. Musibah adalah ujian bagi keimanan seseorang (baca QS Muhammad [47]: 31). Semakin berat ujian yang dialami seorang hamba, maka Allah hendak mengangkat derajatnya lebih tinggi karena keimanannya akan meningkat. Namun bila sebaliknya, dia tidak sabar dalam menghadapi musibah itu dan lalai dalam mengingat Allah maka derajat keimanannya akan statis atau turun.

Berat ringannya ujian seorang hamba disesuaikan dengan kadar keimanan yang bersangkutan. Setelah lulus menjalani ujian ada pemutihan dosa-dosa dan ada promosi ke martabat/derajat yang lebih tinggi. Itulah yang terjadi pada Nabi Ayub AS; mendapat pujian ni’mal ‘abd (hamba paling baik), karena dapat membuktikan kesabaran selama delapan belas tahun sakit semacam lepra, yang memakan seluruh tubuh, hanya menyisakan lidah dan jantungnya. Dalam ketiadaan harta semua orang menjauh, kecuali sang istri yang setia berkat iman di dada. Allah mengabulkan doa Ayub: mengangkat penyakitnya, mendatangkan kembali keluarga dan orang-orang yang bersamanya (QS Al Anbiya [21]: 83-84).

Begitu juga ujian-ujian yang teramat berat yang dipikul oleh utusan-utusan Allah yang mulia. Semakin berat beban yang mereka pikul, semakin sempurna derajatnya di sisi Allah. Dan Nabi Muhammad SAW adalah hamba yang paling mulia di sisi Allah karena kadar ujiannya paling besar juga.

Musibah dalam hidup ini bisa menimpa kita kapan saja. Tak ada yang ingin mendapat musibah dalam hidupnya. Namun itu mustahil adanya, karena musibah adalah salah pintu meningkatkan derajat seseorang. Tanpa kesabaran dalam menghadapi musibah atau ujian itu sama saja dengan orang jatuh lalu tertimpa tangga. Dia dapat dua kemalangan sekaligus, kesempitan hati karena musibah yang dialaminya dan kedudukan yang rendah di mata Allah dan makhluk. Orang yang tidak sabar cenderung bersikap pesimistis dan hanya akan menjadi beban bagi orang lain.

Sedangkan mereka yang menempatkan kesabaran sebagai perisai, berarti mereka memiliki modal penting untuk bangkit setelah musibah itu berlalu. Dalam kesabaran, tersedia energi yang dapat membuka peluang untuk lebih maju dari sebelumnya. Dalam artian, seorang muslim harus melihat musibah yang tengah dihadapinya itu sebuah batu loncatan untuk mengasah diri agar menjadi lebih baik. Karena musibah itu memberikan pelajaran dan hikmah bagi mereka, agar tidak terpuruk untuk kali kedua. Mereka akan lebih berhati-hati dan kemungkinan besar tidak akan terperosok pada lubang yang sama.

Kembali pada fokus bicara kita di atas, di mana sering terjadi bencana alam di tanah air harus disikapi dengan dada yang lapang. Mungkin Allah tengah menguji hamba-hambaNya yang beriman, yang kebaikan berpulang kembali pada diri mereka. Ujian itu akan makin memantapkan kedudukan di sisi Allah sekiranya mereka bersabar menghadapinya. Namun sebaliknya, bila mereka tidak mampu menerima musibah yang terjadi ini sebagai ujian dari Allah, lalu mereka berputusasa dari mengharap pertolongan Allah apalagi jatuh keperbuatan maksiat, maka mereka termasuk orang-orang yang merugi.

Selain itu, bencana alam yang terus mendera bangsa ini bisa memberikan pelajaran pada kita untuk dapat mengharagai alam. Bijak dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di alam secara optimal tanpa melakukan eksploitasi yang berlebihan. Yang terpenting dari itu semua, musibah atau ujian yang meninpah silih berganti itu merupakan teguran Allah agar kita mau membuka mata hati. Menginsyafi atas segala maksita dan kezaliman yang kita lakukan kepada Allah, yang sejatinya kita menzalimi diri kita sendiri.

Beruntunglah orang-orang yang melewati segala musibah ini dengan sabar dan ikhlas dan mengharapkan pertolongan hanya kepada Allah untuk melapangkan himpitan itu. Karena mereka akan mendapat kedudukan yang lebih mulia dan derajat terhormat di sisi-Nya. Namun tak ada kebaikan apa-apa selain dari kerugian bagi mereka yang berputus asa mengharap pertolongan Allah dari musibah yang mendera mereka.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *