Satu Islam Untuk Semua

Friday, 20 May 2016

RENUNGAN JUM’AT–Istri dalam Al-Qur’an


renungan-jum'at-istri-dalam-alquran

Islamindonesia.id–Istri dalam Al-Qur’an

Renungan Jum’at kali ini kita akan membahas tentang penggunaan kata ‘istri’ dalam Al-Quran. Adakalanya al-Quran menggunakan kata ‘zawj‘ yang secara umum memang bermakna istri atau pasangan. Namun al-Quran juga menggunakan kata ‘imra’ah‘ untuk istri yang makna umumnya adalah wanita. Marilah kita renungkan sejenak keindahan gaya bahasa al-Quran.

Jika kita menelusuri ayat-ayat Al-Quran, maka kita akan menemukan adanya pembedaan dalam penggunaan kata ‘zawj‘ dan ‘imra’ah‘ meskipun keduanya sama-sama bermakna istri.

Al-Quran menggunakan kata ‘zawj‘ dalam konteks seorang ‘imra’ah‘ yang telah sempurna dalam hal keharmonisan, keserasian, dan kedekatan dengan pasangannya. Sementara Al-Quran menggunakan kata ‘imra’ah‘ sebagai ganti ‘zawj‘ ketika sang istri tidak/belum memiliki keharmonisan, keserasian, dan kedekatan dengan suaminya, seolah di antara pasangan suami dan istri tersebut memiliki perbedaan dari segi agama atau pun karakteristik.

Kata ‘Zawj‘ dalam Al-Quran

Berikut ini kami sebutkan beberapa contoh penggunaan kata ‘zawj‘ dalam al-Quran. Allah swt berfirman,

QS-ar-Rum-21

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. ar-Rum [30]: 21)

Allah swt juga berfirman dalam ayat lain,

QS-al-Furqan-74

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'” (QS. al-Furqan [25]: 74)

Dengan kata ini pula al-Quran menyebut Siti Hawa’ sebagai istri Nabi Adam as. Allah swt berfirman,

QS-al-Baqarah-35

“Dan Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah olehmu dan istrimu surga ini,'” (QS. al-Baqarah [2]: 35)

Demikian halnya al-Quran menggambarkan istri-istri Nabi Muhammad saw dengan kata ‘zawj‘. Allah swt berfirman,

QS-al-Ahzab-6

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. al-Ahzab [33]: 6)

Kata ‘Imra’ah‘ dalam Al-Quran

Ketika tidak ada keserasian, keharmonisan dan kedekatan di antara pasangan suami istri karena adanya penghalang, maka al-Quran akan menyebut sang istri sebagai ‘imra’ah‘ sebagai ganti ‘zawj‘.

Al-Quran menyebut istri Nabi Nuh dan Nabi Luth dengan kata ‘imra’ah‘ bukan ‘zawj‘. Allah swt berfirman,

QS-at-Tahrim-10

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing).” (QS. at-Tahrim [66]: 10)

Istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth adalah dua orang yang kafir sekalipun keduanya adalah istri para Nabi. Kekafiran keduanya lantaran tidak adanya keharmonisan dan kesepahaman dengan suami mereka. Oleh karena itu al-Quran menyebut keduanya dengan kata ‘imra’ah‘ bukan ‘zawj‘.

Demikian halnya dengan istri Fir’aun yang diceritakan al-Quran. Allah swt berfirman,

QS-at-Tahrim-11

“Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. at-Tahrim [66]: 11)

Lagi-lagi ayat di atas menyimpan sebuah pesan bagi kita, bahwa antara Fir’aun dan istrinya tidak ada keserasian. Fir’aun seorang yang kafir sedangkan istrinya seorang yang beriman. Oleh karena itu al-Quran menggunakan kata ‘imra’ah‘ bukan ‘zawj‘.

Pergantian Kata ‘Imra’ah‘ Menjadi ‘Zawj‘ dalam Al-Quran

Di akhir renungan Jum’at kali ini, kita akan menyaksikan keindahan al-Quran menggambarkan perbedaan kata ‘zawj‘ dan ‘imra’ah‘ ini.

Ketika menginginkan seorang anak, Nabi Zakaria as berdoa,

QS-Maryam-5

“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra.” (QS. Maryam [19]: 5)

Ayat selanjutnya Nabi Zakaria as berkata,

QS-Maryam-8

“Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa memperoleh seorang anak, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku telah mencapai usia sangat tua.” (QS. Maryam [19]: 8)

Ayat lainnya yang senada juga menyatakan,

QS-Ali 'Imran-40

Nabi Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa memperoleh seorang anak sedangkan aku sangat tua dan istriku adalah seorang yang mandul?” Allah berfirman, “Demikianlah Allah berbuat yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 40)

Perhatikanlah tiga ayat tersebut yang menggunakan kata ‘imra’ah’ untuk istri Nabi Zakaria as lantaran kemandulannya. Hal ini menunjukkan kemandulan seorang istri sebagai penghalang kesempurnaan pasangan suami dan istri.

Namun setelah itu Allah swt mengabulkan permohonan Nabi Zakaria as dan berfirman,

QS-al-Anbiya-90

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung.” (QS. al-Anbiya’ [21]: 90)

Demikianlah al-Quran mengganti kata ‘imra’ah’ menjadi ‘zawj’ pada istri Nabi Zakaria as setelah Allah swt menjadikan istri Nabi Zakaria dapat mengandung.

 

Tom&AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *