Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 28 April 2018

Penjelasan Rasulullah Kepada Kaum Yahudi Tentang Shalat Lima Waktu


Penjelasan Rasulullah Kepada Kaum Yahudi Tentang Shalat Lima Waktu

islamindonesia.id – Penjelasan Rasulullah Kepada Kaum Yahudi Tentang Shalat Lima Waktu

 

Sejarah mencatat, saat pertama kali Islam diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, banyak masyarakat Arab tidak mau memeluk agama samawi ini. Mereka enggan percaya dan tak jarang menuntut bukti yang kuat sebelum meninggalkan keyakinan yang jamak dianut di tengah tradisi masyarakat Arab kala itu.

Hal ini tak hanya terjadi di kalangan kaum Quraisy. Bahkan ada sekelompok non-Muslim sampai merasa perlu menguji Rasulullah Muhammad SAW agar mereka benar-benar merasa yakin terhadap ajaran agama yang dibawanya.

Di antaranya seperti yang termuat dalam kitab Al Majalisus Saniyah, Syarah Arbain Nawawiyyah karya Syeikh Ahmad bin Hijazi Al Fasyani. Ada sebuah kisah yang disampaikan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Sayyidina Ali bercerita bahwa ketika berkumpul dengan beberapa orang muhajirin, Rasulullah SAW didatangi sekelompok orang Yahudi. Mereka datang untuk menguji kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Mereka berkata, “Wahai Muhammad, kami datang menemuimu untuk menanyakan sejumlah masalah yang hanya diketahui oleh nabi utusan Allah atau malaikat muqarrabin.”

Selanjutnya mereka meminta penjelasan kepada Rasulullah SAW terkait lima shalat yang diwajibkan Allah kepada umat Islam sehari semalam pada lima waktu berbeda.

Rasulullah SAW kemudian menjawab dengan yakin bahwa terkait Zuhur, Allah memiliki lingkaran di langit dunia di mana matahari gelincir bersamanya. Ketika matahari gelincir, semua malaikat bertasbih. Di saat itu Allah memerintahkan shalat, yakni di saat pintu langit dibuka dan takkan ditutup sampai shalat Zuhur dilaksanakan. Saat itu doa manusia diterima.

Sementara Ashar, menurut Rasulullah SAW, adalah waktu Iblis membisikkan kepada Nabi Adam as untuk memakan buah yang dilarang. “Allah memerintahkan aku dan umatku untuk shalat saat Ashar itu,” terang Rasulullah.

Sedangkan Maghrib adalah waktu Allah menerima pertobatan Nabi Adam. Ketika Nabi Adam menerima pelajaran berupa kalimat pertobatan, Allah kemudian menerima pertobatannya. “Allah juga memerintahkan aku dan umatku untuk shalat ketika Maghrib sebagai bentuk pertobatan atas dosa mereka,” lanjut Rasulullah.

Bagaimana halnya dengan waktu Isya? “Isya adalah shalat para rasul sebelumku,” tegas Rasulullah.

“Adapun Subuh, adalah waktu matahari terbit di antara dua tanduk setan. Orang kafir saat itu menyembah apapun selain Allah. Oleh karena itu Allah memerintahkanku dan umatku untuk shalat dua rakaat sebelum orang-orang kafir itu menyembah apapun bentuk berhala mereka.”

Mendengar penjelasan Rasulullah, orang-orang Yahudi itu berkata, “Kau benar wahai Muhammad, kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *