Satu Islam Untuk Semua

Monday, 21 December 2020

Penjelasan Ciri-Ciri Fisik Rasulullah Saw Menurut Habib Ali al-Jufri


islamindonesia.id – Penjelasan Ciri-Ciri Fisik Rasulullah Saw Menurut Habib Ali al-Jufri

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan Nabawi TV, Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufri ditanya tentang ciri-ciri fisik Rasulullah saw. Berikut ini adalah penjelasan dari beliau:

Sayyidina Hind bin Abi Halah mensifatkannya, serta Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan juga sejumlah sahabat lainnya. Mereka mengabarkan bahwa Rasulullah saw berperawakan sedang, yaitu tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek. Tinggi badannya sedang dan begitu juga dengan perawakan tubuhnya.

Wajah beliau bercahaya, tidak bundar dan juga tidak lancip. Namun wajahnya sedikit bundar. Sehingga sebagian sahabat bertanya, “Apakah wajah Rasulullah saw bagaikan pedang?”

Dijawab, “Tidak, namun seperti rembulan, yaitu cahayanya.”

Kedua bola mata beliau luas dan memanjang di ujungnya, sehingga memperindah (bentuknya). Kedua mata beliau bercelak, dengan celak kekuasaan Allah taala. Bagian pupil matanya berwarna hitam pekat dan bagian putihnya berwarna putih bening, menunjukkan bersihnya kedua mata beliau.

Adapun alis mata Rasulullah saw berbentuk melengkung indah. Ada yang berpendapat alis mata beliau bersambung dan ada yang mengatakannya terpisah. Penyebab perbedaan pendapat adalah (karena) cahaya yang terpancar dari kedua matanya.

Pada kening di antara kedua matanya terdapat tempat keringat yang mengalir di antara matanya ketika beliau merasa marah. Bulu mata Rasulullah saw panjang. Kening beliau lebar, warnanya lebih condong ke putih, tidak terlalu putih dan tidak terlalu coklat, namun lebih cenderung ke warna putih.

Janggut beliau lebat. Rambut Rasulullah saw berwarna hitam pekat. Rasulullah saw meninggal pada usia 63 tahun dan jumlah uban yang ada pada rambut dan janggut beliau tidak lebih dari 20 helai. Ada yang berpendapat 17 helai, ada yang mengatakan 14 atau 12 helai. Kebanyakan ada pada bagian pelipis dan juga pada rambut yang terletak di bawah bibir. Hanya sedikit yang ada di janggutnya.

Mulut Rasulullah saw lebar dan fasih ketika berbicara. Giginya berwarna sangat putih bagaikan butiran mutiara, sebagaimana yang disifatkan oleh para sahabat. Di antara gigi seri beliau ada sedikit renggang. Ada sedikit celah di antara kedua gigi seri beliau.

Jika beliau tersenyum, maka senyumnya bercahaya. Ketika berbicara seakan ada mutiara yang keluar dari ucapannya.

Rambut beliau terkadang sampai kepada pundaknya, dan ada yang berkata sampai telinganya. Jika sampai ke pundak, maka beliau mencukurnya lebih pendek. Panjang rambutnya antara sampai bagian ini (Habib Ali menunjuk dengan jarinya ke arah kuping beliau) dan bahu. Pada saat melakukan umrah atau haji, maka beliau mencukur seluruhnya.

Leher beliau sangat indah, hingga ketika serban beliau ditarik dengan kasar oleh seorang Arab yang menagihnya hutang, para sahabat berkata kami dapat melihat bekas tarikan itu di lehernya. Leher beliau jernih bagaikan perak.

Kedua bahu beliau bidang. Struktur tulangnya kukuh terisi dengan daging dan beliau penuh kharisma. Jika beliau sedang menghadap disebutkan bahwa beliau seakan sedang menghadap kepada tentara. Siapa yang melihatnya pasti langsung menghormatinya. Dan siapa yang mengenal dan berkumpul bersamanya pasti mencintainya.

Jika menoleh kepada orang yang berbicara dengannya, maka beliau menoleh dengan seluruh badannya sebagai bentuk rasa hormat dan adab kepada orang yang berbicara dengannya. Jika sedang berbicara maka para sahabat menyimak dengan seksama, seakan ada burung yang bertengger di atas kepala mereka. Jika ada yang berbicara maka beliau tidak pernah memotong pembicaraannya.             

Rasulullah memiliki bulu pada ujung pundaknya dan tidak memiliki banyak bulu dada, namun hanya bulu yang memanjang dari tempat ini (Habib Ali menunjuk garis tengah dadanya) hingga pusarnya.

Rasulullah saw ketika berjalan menghentakkan kakinya seakan sedang turun dari tempat yang tinggi tanpa ada guncangan di dalam langkah kakinya.

Semoga Allah memenuhi hati kita dengan kecintaan dan kerinduan kepadanya, serta memuliakan kita untuk dapat berjumpa dengannya.

Sebagai penutup, kembali saya ulangi, selepas ini bacalah Kitab Syamail Tirmidzi; Kitab Syamail Manawi, yaitu ar-Raudh al-Basim fi Syamail Abi al-Qasim; Kitab Syamail Baghowi; Kitab Wasail Wusul ila Syamail Rasul karya Imam Nabhani, yang di-syarah-kan oleh mufti mazhab Syafii di Makkah, yaitu Syekh Abdullah Lahji.

Kitab-kitab ini menghidupkan pada diri kita makna cinta kepada Rasulullah saw.

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *