Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 07 May 2017

Penjelasan Al-Qur’an dan Sains tentang Langit-Bumi di Awal Penciptaan dan Hari Kiamat  


Penjelasan Al-Qur’an dan Sains tentang Langit-Bumi di Awal Penciptaan dan Hari Kiamat

islamindonesia.id – Penjelasan Al-Qur’an dan Sains tentang Langit-Bumi di Awal Penciptaan dan Hari Kiamat

 

Alam semesta ternyata tidak hanya diam. Para astronom sepakat, alam semesta berkembang seperti galaksi bergerak terpisah.

Meruntut ke masa lalu ketika proses perkembangan bermula, maka akan sampai pada titik ketika materi, energi, waktu, dan tempat bertemu dalam satu titik yang ukurannya jauh lebih kecil, namun memiliki masa dan energi yang sangat besar.

Kemudian para ilmuwan memutuskan bahwa titik ini harus melalui sebuah ledakan yang kemudian disebut fenomena Big Bang. Rupanya fenomena itu telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan di antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Surah Al-Anbiya Ayat 30)

Dalam ayat tersebut ada kata “ratq” yang diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa“, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq“. Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.

Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat “fatq“. Keduanya lalu terpisah (“fataqa“) satu sama lain.

Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan “ratq” ini.

Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk “fataqa” (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.

Dalam buku Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah dijelaskan teori ekspansi alam semesta telah menjadi subjek perdebatan yang cukup panjang. Para ilmuwan bertanya mengenai proses berkembangnya alam. Termasuk bagaimana nantinya alam ini akan berakhir atau mengalami kiamat. Hal ini juga telah disebutkan dalam Al-Qur’an.

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama. Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya.” (Surah Al-Anbiya Ayat 104)

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *