Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 29 March 2016

PENDIDIKAN – Belajar dari Doa Anak


anak berdoa

“Tak bal sisan nek ora gelem manut dikandani”
(Aku tendang sekalian kalau tidak mau dengar nasihat.)

Sebagian orang tua jadi emosi menghadapi anak-anaknya, utamanya ketika anak berulang kali melakukan kesalahan yang sama. Dalam hitungan matematis orang tua, harusnya anak sudah tahu dan paham dengan sekali dua kali diperingati. Tapi, ya itu dia, berkebalikan dengan harapan orang tua, anak kerap melanggar dan melakukan kesalahan yang sama.

Emosi orang tua biasanya meledak. Ancaman, hardikan, dan bahkan sumpah serapah seringkali berhamburan.

Ucapan seseorang ketika emosi jelas tidak terkontrol. Orang tua kadang lupa bahwa sebagian ucapannya bisa merusak pikiran anak, bisa ditiru anak, bahkan bisa langsung dipraktikkan anak.

Bila kita melihat isi doa anak untuk orang tua, “Ya Allah ampuni kami, juga ayah dan ibu kami, sebagai mereka menyayangi kami”, ada satu bagian yang bisa jadi cambuk pengingat bagi para orang tua dan guru.

Kata-kata kama rabbayani shaghira (sebagaimana mereka menyayangi kami) menjadi kata kunci. Semestinya orang tua berlomba-lomba dalam menyayangi anak-anaknya. Semakin banyak dan semakin berkualitas kasih sayang, pemberian Allah bagi mereka akan semakin banyak.

Konsep kasih sayang orang tua dalam proses pendidikan juga perlu diterapkan. Guru adalah “orang tua ruhani” anak. Ketika seorang guru memperhatikan konsep kama rabbayani shaghira, guru bisa menerapkan kasih sayang ke anak didik, seperti kasih sayang orang tua pada anak kandung. Bukan tidak mungkin, guru juga kecipratan imbalan Allah berkat doa anak-anak tadi.[]

Asri/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *